Data Ekonomi Kuat Dongkrak Wall Street di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah

- Kamis, 05 Maret 2026 | 01:50 WIB
Data Ekonomi Kuat Dongkrak Wall Street di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah

PARADAPOS.COM - Pasar saham Amerika Serikat berhasil pulih pada Rabu (4/3/2026), mengakhiri sesi perdagangan di wilayah positif. Pemulihan ini didorong oleh data ekonomi domestik yang kuat, khususnya dari sektor jasa dan pasar tenaga kerja, yang berhasil mengimbangi sentimen negatif akibat eskalasi konflik militer di Timur Tengah antara AS, Israel, dan Iran.

Indeks Berbalik Menguat Usai Tertekan

Setelah mengalami tekanan signifikan sehari sebelumnya, ketiga indeks utama Wall Street mencatat kenaikan. Indeks S&P 500 menguat 0,8 persen ke level 6.868,60. Sementara itu, Nasdaq Composite yang sarat dengan saham teknologi melonjak lebih tinggi, naik 1,3 persen menjadi 22.807,48 poin. Dow Jones Industrial Average juga bertambah 0,5 persen, ditutup pada 48.739,41 poin.

Analis pasar melihat pergerakan ini sebagai respons terhadap fondasi ekonomi yang tampak kokoh. Keith Lerner, Kepala Investasi dan Strategi Pasar di Truist, memberikan analisisnya.

"Setidaknya untuk hari ini, investor tampaknya mengabaikan situasi Iran karena harga minyak telah stabil," ujarnya. "Pasar juga mendapat dorongan dari data jasa ISM dan data penggajian ADP yang lebih baik dari perkiraan, yang menunjukkan bahwa ekonomi berada pada pijakan yang relatif solid sebelum konflik dan seharusnya membantu mendukung pendapatan."

Lerner menambahkan, aksi beli selektif pasca penurunan besar-besaran turut mendorong pemulihan, terutama di segmen tertentu sektor teknologi.

Eskalasi Konflik Timur Tengah dan Dampaknya

Di tengah optimisme data ekonomi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus memanas memasuki hari kelima. Laksamana AS Brad Cooper, yang memimpin pasukan di kawasan itu, melaporkan bahwa pertahanan udara Iran mengalami degradasi signifikan. Angkatan laut Iran juga disebut kehilangan kapal operasional di jalur air utama setelah 17 kapal tenggelam, dengan lebih dari 2.000 target telah dihantam.

Konflik semakin meluas. Israel terus menyerang pos-pos kelompok Hizbullah di Lebanon, yang sebelumnya menembaki Israel sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Iran sendiri telah melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Arab tetangga yang menjadi tuan rumah pangkalan AS.

Perkembangan baru terjadi ketika pasukan NATO mencegat rudal balistik Iran yang menuju wilayah udara Turki. Ini merupakan kali pertama aliansi tersebut membela negara anggotanya dari serangan proyektil Iran sejak permusuhan dimulai. Meski ada laporan dari New York Times tentang upaya diplomatik rahasia Iran, laporan tersebut dibantah oleh pihak Tehran.

Pernyataan pejabat AS semakin mengonfirmasi skala operasi. Presiden Donald Trump menyebut proyeksi operasi berlangsung empat hingga lima minggu. Sementara Menteri Perang Pete Hegseth menegaskan sikap AS dengan pernyataan singkat kepada wartawan.

"Kita baru saja memulai," tegas Hegseth.

Eskalasi ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan investor mengenai dampak inflasi. Perang yang berkepanjangan berpotensi mengganggu pasokan energi global, mendorong harga minyak dan gas lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat memicu inflasi global, menghambat pertumbuhan ekonomi, dan memengaruhi kebijakan bank sentral.

Data Ekonomi Domestik Memberi Fondasi

Di tengah awan geopolitik, data ekonomi AS pada Rabu memberikan sinyal kekuatan. Laporan penggajian swasta ADP menunjukkan penambahan 63.000 lapangan kerja pada Februari, melampaui ekspektasi dan menjadi kinerja terbaik sejak Juli tahun lalu.

Analis Renaissance Macro Research mencatat, pertumbuhan tersebut terutama disumbang oleh sektor pendidikan dan layanan kesehatan, yang mencatat kenaikan tertinggi dalam setahun terakhir. Di luar sektor itu, pertumbuhan lapangan kerja cenderung stagnan dalam beberapa bulan terakhir.

Secara terpisah, Indeks Manajer Pembelian (PMI) untuk sektor jasa AS melonjak ke level tertinggi dalam tiga setengah tahun, didorong oleh permintaan yang kuat dan kondisi yang stabil. Laporan Beige Book The Fed juga mengonfirmasi aktivitas ekonomi yang terus meningkat di sebagian besar distrik.

Fokus pasar kini beralih ke serangkaian data tenaga kerja berikutnya, termasuk klaim pengangguran dan yang paling ditunggu, laporan penggajian non-pertarian (NFP) pada Jumat. Data NFP Februari ini diharapkan dapat memberikan petunjuk paling jelas mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.

Kekhawatiran inflasi akibat gejolak energi telah membuat pasar mempertanyakan waktu pemotongan suku bunga. Berdasarkan alat pelacak CME FedWatch, trader saat ini memperkirakan suku bunga akan bertahan pada level saat ini setidaknya hingga pertengahan tahun.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar