Harga Minyak Tembus US$118 per Barel, Trump Klaim Harga Akan Turun Usai Ancaman Nuklir Iran Dinetralisir

- Senin, 09 Maret 2026 | 06:25 WIB
Harga Minyak Tembus US$118 per Barel, Trump Klaim Harga Akan Turun Usai Ancaman Nuklir Iran Dinetralisir

PARADAPOS.COM - Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi empat tahun, menyentuh 118 dolar AS per barel, di tengah eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Presiden AS Donald Trump menanggapi kekhawatiran publik dengan klaim bahwa harga energi akan segera turun setelah apa yang disebutnya "ancaman nuklir" Iran berhasil dinetralisir.

Klaim Trump di Tengah Gejolak Pasar

Gejolak di pasar komoditas energi terjadi menyusul serangkaian serangan militer yang mematikan. Pada Sabtu (28/2), pasukan AS dan Israel menyerang target-target di Iran, termasuk sebuah sekolah yang menewaskan ratusan siswi. Insiden itu juga merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Korban jiwa dari serangan tersebut dilaporkan telah melebihi 1.300 orang.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan balik terhadap fasilitas militer Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah. Situasi yang memanas inilah yang memicu ketakutan akan gangguan pasokan minyak jangka panjang, sehingga mendorong harga minyak mentah Brent berjangka meroket.

Pernyataan di Media Sosial dan Imbauan ke Publik

Dalam upaya meredam kecemasan, Donald Trump sebelumnya telah mengimbau masyarakat agar tidak khawatir dengan kenaikan harga bensin. Pesan serupa ia sampaikan melalui platform media sosial TruthSocial, dengan penekanan pada resolusi ancaman nuklir sebagai kunci penurunan harga.

"Harga minyak dalam jangka pendek, yang akan segera turun ketika ancaman nuklir Iran berakhir, adalah sebuah harga yang yang sangat kecil bagi AS, dan dunia, aman dan damai," tulisnya.

Motivasi dan Tujuan Operasi Militer

AS dan Israel menyatakan operasi militer mereka sebagai serangan pendahuluan, yang didasari oleh dugaan terhadap program nuklir Tehran. Analisis dari lapangan menunjukkan, meski awalnya dibingkai sebagai upaya pembatasan senjata, tujuan strategis kedua negara kini tampak lebih luas. Mereka tidak lagi menyembunyikan keinginan untuk mendorong terjadinya perubahan rezim di Iran, sebuah tujuan yang berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan penghasil minyak utama dunia ini.

Dengan situasi yang masih sangat fluid, pasar global tampaknya akan terus bergerak berdasarkan perkembangan setiap tindakan dan pernyataan dari pihak-pihak yang bertikai. Klaim tentang penurunan harga minyak yang cepat, meski menawarkan harapan, masih harus dibuktikan di tengah realitas konflik yang kompleks dan penuh ketidakpastian.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar