PARADAPOS.COM - Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan kepada sejumlah negara besar untuk mengerahkan kekuatan angkatan laut mereka ke Selat Hormuz. Seruan ini muncul di tengah eskalasi ketegangan yang mengancam kelancaran jalur pelayaran strategis tersebut. Dalam pernyataannya di media sosial, Trump mendorong negara-negara seperti Tiongkok, Prancis, dan Inggris untuk turut serta menjaga keamanan selat yang menjadi urat nadi perdagangan minyak global ini.
Seruan untuk Kerja Sama Keamanan Maritim
Melalui platform Truth Social pada Sabtu lalu, Trump secara spesifik menyebut beberapa negara yang menurutnya paling terdampak oleh gangguan di kawasan itu. Ia berargumen bahwa jaminan keamanan di selat sempit itu seharusnya menjadi tanggung jawab kolektif, bukan hanya beban Amerika Serikat.
“Saya harap Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan lainnya yang terdampak pembatasan artifisial ini akan mengirimkan kapal mereka ke sana,” tulisnya.
Mantan presiden ke-45 AS itu menegaskan bahwa langkah multilateral tersebut dinilainya penting untuk menghilangkan ancaman terhadap kapal-kapal komersial yang melintas. Selat Hormuz, yang terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia, merupakan jalur vital bagi pengiriman seperlima pasokan minyak dunia.
Ancaman Operasi Militer yang Berlanjut
Di sisi lain, Trump juga menyampaikan komitmennya untuk terus menekan Iran secara militer. Dalam pernyataan yang sama, ia mengindikasikan bahwa Amerika Serikat di bawah kepemimpinannya akan melanjutkan serangan terhadap target-target Iran di darat dan laut.
Langkah ofensif itu, tuturnya, dimaksudkan untuk memastikan pelayaran yang aman dan bebas di kawasan tersebut. Pernyataan ini mempertegas posisi kerasnya terhadap Tehran, yang telah lama menjadi rival Washington di kawasan Timur Tengah.
Latar Belakang Eskalasi yang Memanas
Ketegangan saat ini berakar pada serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Operasi militer itu dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan dan menimbulkan korban jiwa di sisi Iran. Sebagai respons, Iran membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel serta beberapa pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Eskalasi timbal balik ini kemudian memicu situasi yang hampir setara dengan blokade de facto di Selat Hormuz. Gangguan pada jalur pelayaran ini langsung berimbas pada ekspor energi dari negara-negara penghasil minyak di Teluk Persia, mengacaukan rantai pasokan global dan mengerek kekhawatiran atas stabilitas harga komoditas energi dunia. Dampak riilnya pun mulai terasa pada produksi dan logistik ekspor di kawasan.
Artikel Terkait
Pemkab Badung Siapkan Jalur Khusus Transportasi Umum di Kuta dan Legian untuk Atasi Kemacetan
BGN Beri Predikat Dapur Terbaik ke SPPG Jakarta Utara atas Kualitas Pengelolaan Gizi
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Tinjau Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, Alokasikan Rp20 Miliar untuk Fasilitas RS
Dewi Juliani Serap Aspirasi Warga Bengkalis, Soroti Tekanan APBD hingga Keterbatasan Kapal Roro