PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyerukan aksi mitigasi dan reformasi mendesak untuk melindungi sektor pariwisata Indonesia dari dampak krisis global. Seruan ini disampaikan menyusul ancaman gangguan konektivitas udara dan gejolak geopolitik yang berpotensi menggerus capaian positif sektor ini, yang tahun lalu menyumbang Rp945,7 triliun bagi PDB nasional dan menyerap 25,91 juta tenaga kerja.
Prestasi dan Ancaman di Tengah Gejolak Global
Pariwisata Indonesia memang sedang berada pada momentum yang kuat. Kontribusinya terhadap perekonomian nasional sangat signifikan, didorong oleh lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 15,39 juta orang pada tahun 2025. Geliat ini tidak hanya mengamankan devisa miliaran dolar AS, tetapi juga menjadi tulang punggung bagi jutaan keluarga di tanah air.
Namun, di balik angka-angka yang menggembirakan itu, badai mulai mengancam dari jauh. Gejolak politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah telah mengganggu jaringan penerbangan global. Laporan operasional dari pengelola bandara mencatat gangguan pada sejumlah rute internasional utama, yang berimbas pada pergerakan puluhan ribu penumpang. Situasi ini diperparah oleh tekanan pada harga bahan bakar pesawat, yang menambah beban biaya operasional.
Tanpa langkah antisipasi yang tepat, analisis internal pemerintah memproyeksikan kerugian yang tidak kecil. Setiap harinya, Indonesia berpotensi kehilangan ribuan wisatawan asing dan pendapatan devisa yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.
Langkah-Langkah Strategis untuk Ketangguhan
Dalam forum webinar yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni NHI Bandung, Airlangga memaparkan sejumlah strategi untuk membangun ketahanan. Gagasan-gagasan ini dirancang tidak hanya untuk bertahan dari krisis, tetapi juga untuk membangun fondasi yang lebih kokoh dan kompetitif untuk masa depan.
Pertama, pemerintah akan melanjutkan dan memperluas kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) kepada negara-negara potensial. Kajian internasional menunjukkan bahwa kebijakan serupa di masa lalu telah berhasil mendongkrak pertumbuhan kedatangan wisatawan secara signifikan sekaligus menciptakan ratusan ribu lapangan kerja baru.
Kedua, penguatan pasar domestik menjadi jaring pengaman utama. Konsep micro-tourism—yakni pengemasan destinasi dalam jarak tempuh darat dengan pengalaman yang mendalam—didorong untuk menggerakkan ekonomi lokal. Stimulus seperti diskon transportasi dan kebijakan kerja fleksibel diharapkan dapat memacu perjalanan wisata, terutama pada momen-momen seperti libur Lebaran.
Airlangga menegaskan, "Untuk itu, Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global, dan membangun fondasi pariwisata dan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional."
Membangun Daya Tarik Baru dan Memanfaatkan Peluang
Strategi jangka menengah dan panjang juga disiapkan. Negosiasi untuk membuka rute udara internasional baru dan memperkuat branding Indonesia sebagai destinasi yang aman dan stabil akan terus diupayakan. Selain itu, pemerintah melihat peluang besar dalam tren pekerja digital global.
Wilayah-wilayah seperti Jakarta, Kepulauan Riau, atau Kawasan Ekonomi Khusus di Bali memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ekosistem kerja yang aman dan berteknologi tinggi bagi para digital nomad. Menarik migrasi talenta profesional ini diyakini dapat memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
Bahkan, fluktuasi nilai tukar mata uang yang sering dianggap sebagai tantangan, dilihat Airlangga sebagai peluang tersembunyi. Nilai tukar yang kompetitif dapat menjadikan Indonesia sebagai destinasi berkualitas tinggi dengan harga yang relatif lebih terjangkau bagi wisatawan internasional.
"Dengan gejolak nilai tukar saat ini, seharusnya menjadi potensi tersembunyi dalam menarik wisatawan karena mereka bisa mendapatkan nilai lebih dari uang yang mereka tukarkan. Untuk itu pemasaran yang menonjolkan Indonesia sebagai destinasi high end dengan harga terjangkau perlu digaris besarkan," jelasnya.
Kolaborasi Kunci Menghadapi Dinamika Global
Di akhir paparannya, Airlangga menekankan bahwa ketahanan sektor pariwisata tidak mungkin dibangun sendirian. Kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan akademisi dinilai sangat menentukan dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.
Ia mengajak semua pemangku kepentingan untuk menjadikan tantangan saat ini sebagai momentum untuk memperkuat pondasi struktural pariwisata nasional. Harapannya, dari berbagai diskusi strategis seperti ini, dapat lahir ide-ide konkret yang mampu menjaga agar pariwisata Indonesia tetap tangguh, resilien, dan adaptif di tengah gejolak geopolitik dunia.
Artikel Terkait
Empat Warga Palestina Tewas Ditembak Pasukan Israel Usai Buka Puasa di Tepi Barat
FORMAS Buka Kantor di Beijing untuk Pererat Kerja Sama Ekonomi RI-Tiongkok
Dishub Kabupaten Bandung Proyeksikan Puncak Mudik Jalur Nagreg Terjadi pada H-1 Lebaran
Keluarga Pemudik Diturunkan di Bahu Tol Semarang-Solo, Diselamatkan Patroli Polisi