Jepang Siap Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz untuk Jamin Keamanan Energi

- Senin, 23 Maret 2026 | 10:00 WIB
Jepang Siap Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz untuk Jamin Keamanan Energi

PARADAPOS.COM - Utusan Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah menyatakan komitmen negaranya untuk mengerahkan kapal-kapal angkatan lautnya dalam operasi di Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan Waltz dalam sebuah wawancara televisi, menyoroti pentingnya jalur laut strategis tersebut bagi keamanan energi global, khususnya bagi Eropa dan Asia. Komitmen ini muncul di tengah ketegangan militer yang meningkat di kawasan itu.

Komitmen Jepang dan Kepentingan Energi

Dalam wawancaranya dengan CBS News, Waltz menekankan alasan di balik langkah Jepang. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi lalu lintas energi dunia, di mana 80 persen pasokan minyak dari Teluk Persia ditujukan ke pasar Asia. Jepang sendiri sangat bergantung pada rute ini, dengan sekitar 90 persen impor minyak mentahnya melewati selat tersebut. Komitmen Tokyo ini, oleh karena itu, tidak hanya dilihat sebagai dukungan bagi sekutu, tetapi juga sebagai langkah untuk melindungi kepentingan nasionalnya yang paling mendasar.

“Karena begitu banyak energi yang dikirim ke Eropa melalui selat tersebut, Perdana Menteri Jepang baru saja berkomitmen untuk mengerahkan sebagian angkatan lautnya, dan 80 persen dari energi yang keluar dari Teluk dikirim ke Asia,” jelas Waltz.

Ia kemudian menambahkan konteks kebijakan AS, “Jadi, kami melihat sekutu kita berbalik arah sebagaimana mestinya, tetapi pada saat yang sama, presiden (Donald Trump) tidak akan mentolerir rezim ini, karena telah mengancam dan mencoba selama lima dekade untuk menyandera pasokan energi dunia.”

Opsi Pengerahan untuk Penyapuan Ranjau

Selain komitmen angkatan laut, pejabat tinggi Jepang juga mengisyaratkan kemungkinan pengerahan yang lebih spesifik. Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menyebutkan potensi penggunaan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) untuk operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz. Namun, langkah ini dikondisikan pada tercapainya gencatan senjata antara Iran, AS, dan Israel, yang saat ini masih terlibat dalam siklus serangan balasan.

Motegi, yang baru saja menghadiri pertemuan puncak Jepang-AS di Washington, menegaskan bahwa pembicaraan tersebut belum menghasilkan keputusan final. “Tidak ada janji khusus yang dibuat dan tidak ada masalah yang memerlukan pertimbangan lebih lanjut di Tokyo,” ungkapnya.

Namun, ia mengakui keunggulan teknis yang dimiliki negaranya. “Teknologi penyapu ranjau Jepang berada di tingkat teratas di dunia. Katakanlah (jika terjadi) gencatan senjata, dan jika ranjau menjadi penghalang, kita mungkin perlu mempertimbangkannya,” lanjut Motegi, merujuk pada potensi pengerahan SDF.

Latar Belakang Ketegangan di Kawasan

Wacana pengerahan militer ini tidak terlepas dari eskalasi konflik yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai akhir Februari telah memicu serangan balasan dari Teheran berupa drone dan rudal, yang menyasar Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS. Situasi yang memanas ini menciptakan ancaman nyata terhadap keamanan pelayaran di jalur air tersibuk di dunia, mendorong berbagai negara, termasuk Jepang, untuk mempertimbangkan langkah-langkah pengamanan tambahan.

Dengan ketergantungan energi yang sangat tinggi dan kapasitas teknologi militer yang mumpuni, langkah-langkah yang dipertimbangkan Jepang mencerminkan pendekatan hati-hati yang khas: bersiap untuk skenario terburuk sambil tetap membuka ruang diplomasi. Keputusan akhir Tokyo akan sangat dipantau, tidak hanya oleh sekutu-sekutunya di Barat, tetapi juga oleh seluruh pasar energi global yang nasibnya terikat dengan keamanan Selat Hormuz.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar