PARADAPOS.COM - Ancaman eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz telah memicu gelombang kepanikan di pasar keuangan global, menyebabkan indeks saham di berbagai belahan dunia anjlok tajam. Krisis ini dipicu oleh ultimatum Presiden AS Donald Trump yang memberi waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut, dengan ancaman sanksi militer lebih lanjut.
Resesi Pasar Global Akibat Ketegangan
Menjelang berakhirnya batas waktu ultimatum, sentimen investor langsung berubah suram. Pasar Asia menjadi yang pertama merasakan dampaknya, dengan penurunan yang sangat signifikan. Indeks Kospi Korea Selatan terperosok lebih dari 6 persen, sementara bursa Jepang dan China juga tercatat melemah tajam, masing-masing sekitar 3,5 persen dan di atas 3,6 persen. Runtuhnya kepercayaan ini dengan cepat menjalar ke benua Eropa.
Tekanan jual yang masif terus berlanjut ke sesi perdagangan Eropa. Indeks-indeks utama di benua itu berwarna merah, dipimpin oleh DAX Jerman yang merosot sekitar 2 persen. Bursa saham di London, Paris, dan Milan juga tidak luput, terkoreksi dalam kisaran 1,3 hingga 1,7 persen. Situasi ini menggambarkan betapa rapuhnya pasar terhadap gejolak geopolitik di kawasan penghasil minyak dunia.
Ultimatum Trump dan Ancaman terhadap Jalur Minyak
Inti dari gejolak ini adalah ketegangan yang memuncak di Selat Hormuz, selat sempit yang menjadi jalur transit bagi sekitar sepertiga minyak mentah dunia yang diperdagangkan melalui laut. Amerika Serikat dan Iran saling bersitegang mengenai kendali atas jalur strategis ini, dengan ancaman yang semakin terbuka dari kedua belah pihak.
Presiden Donald Trump secara eksplisit mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran. "Kami akan menargetkan fasilitas listrik Iran jika mereka tidak membuka Selat Hormuz dalam 48 jam," tegasnya, menegaskan posisi AS yang tidak akan mentolerir gangguan terhadap lalu lintas maritim internasional.
Ancaman ini bukan kali pertama dilontarkan, namun tenggat waktu yang diberikan menambah tensi dan ketidakpastian baru. Analis pasar memperingatkan bahwa penutupan atau gangguan di Selat Hormuz, bahkan untuk sementara, dapat mengacaukan pasokan energi global dan mendorong harga minyak melambung, sebuah skenario yang sangat ditakuti oleh perekonomian dunia yang masih rentan.
Artikel Terkait
Panti Wreda di Bogor Lakukan Pembenahan Sistem Usai Intervensi Kemenkumham
THR Lebaran Bukan Sekadar Uang Saku, Tapi Peluang Ajarkan Literasi Keuangan pada Anak
Sulawesi Tenggara Diguncang Rangkaian Gempa Dangkal, Belum Ada Laporan Kerusakan
Pemerintah Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 24 Maret, Terapkan Sistem Satu Arah Nasional