PARADAPOS.COM - Program Revitalisasi Satuan Pendidikan (Rapid) yang digulirkan pemerintah tidak hanya berhasil memperbaiki fasilitas sekolah yang rusak, tetapi juga memberikan dampak ekonomi signifikan dengan menyerap ratusan ribu tenaga kerja lokal. Hingga Maret 2026, data resmi menunjukkan lebih dari 238 ribu pekerja terlibat dalam proyek yang dikerjakan secara swakelola ini, sekaligus menggerakkan puluhan ribu usaha mikro di sekitar lokasi.
Dampak Nyata bagi Tenaga Kerja Lokal
Berdasarkan catatan Kantor Staf Presiden, pelaksanaan Rapid telah melibatkan 238.131 pekerja dari berbagai keahlian, mulai dari insinyur, pengawas proyek, hingga tenaga bangunan harian. Yang menarik, setiap proyek perbaikan sekolah rata-rata melibatkan sekitar 22 pekerja yang direkrut langsung dari masyarakat setempat. Model pengerjaan swakelola ini, di mana sekolah dan komite orang tua murid menjadi pelaksana, ternyata efektif membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menjelaskan bahwa pendekatan ini memberikan dampak ekonomi yang langsung terasa. "Secara keseluruhan tercatat 238.131 pekerja yang terlibat dalam program ini sebagai pekerja bangunan, mulai dari insinyur, pengawas proyek, dan tenaga pendukung lainnya," ujarnya.
Menggerakkan Roda Ekonomi Akar Rumput
Dampak program ini ternyata merembet jauh melampaui sektor konstruksi. Qodari menyampaikan bahwa Rapid telah menggerakkan sekitar 58.000 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah. Aktivitas proyek membuka pasar bagi penyedia bahan bangunan lokal, warung makan, hingga jasa logistik dan transportasi.
Ia mencontohkan kisah Saiful Anam, seorang buruh bangunan asal Karawang yang sempat menganggur selama tujuh bulan. Berkat proyek revitalisasi di SDN Karawang Kulon 3, Saiful kembali memperoleh penghasilan. Kehadiran para pekerja seperti Saiful secara otomatis meningkatkan permintaan akan kebutuhan pokok harian, yang akhirnya mengalirkan pendapatan tambahan bagi pedagang kecil di sekitarnya.
Target Pembangunan dan Proyeksi Ke Depan
Hingga pertengahan Maret 2026, capaian fisik program ini sudah mendekati penyelesaian. Dari total target 16.167 satuan pendidikan pada tahun 2025, sebanyak 16.062 sekolah telah menyelesaikan pembangunannya. Pemerintah memastikan sisa proyek yang masih berjalan akan segera dituntaskan.
Melihat keberhasilan ini, Qodari menegaskan bahwa model swakelola telah membuktikan manfaat gandanya. "Ini menjadi bukti bahwa pelaksanaan Rapid secara swakelola tidak hanya memperbaiki fasilitas pendidikan tapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya," tegasnya.
Keberlanjutan program pada tahun 2026, yang menargetkan revitalisasi sekitar 71 ribu sekolah, diproyeksikan akan memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar lagi. Dengan skala yang hampir lima kali lipat, geliat konsumsi lokal dan penyerapan tenaga kerja di daerah diperkirakan akan semakin meluas, memperkuat efek pengganda dari setiap rupiah yang dikeluarkan untuk perbaikan sekolah.
Artikel Terkait
Calon Jemaah Haji Asal Maluku Utara Meninggal Dunia Saat Tidur di Hotel Madinah
Drakor “We Are All Trying Here” Tayang di Netflix, Angkat Realitas Perjuangan Anak Muda di Industri Film
SMAN 1 Sambas Juara LCC Empat Pilar Tingkat Kalbar, Siap Berlaga di Nasional 2026
Mojtaba Khamenei dalam Kondisi Sehat Penuh Usai Terluka dalam Serangan AS-Israel