PARADAPOS.COM - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis (2 April 2026) pagi sekitar pukul 06.48 WITA. Guncangan yang berlangsung sekitar 20 detik itu sempat diikuti fenomena surutnya air laut, memicu peringatan dini tsunami dari BMKG. Meski menimbulkan kepanikan warga dan kerusakan pada beberapa bangunan, laporan terakhir menyatakan tidak ada korban jiwa dan situasi telah berangsur kondusif.
Guncangan Kuat dan Respons Cepat
Getaran gempa yang cukup kuat dirasakan warga di pagi buta, tepat saat banyak orang bersiap memulai aktivitas. Kapolres Bitung, AKBP Albert Zai, menggambarkan momen penuh kecemasan itu. Warga yang panik berhamburan keluar rumah mencari tempat aman, sementara otoritas setempat sigap memantau perkembangan.
“Memang sempat ada sedikit air surut sekitar 4 meter dari biasanya normalnya,” tutur Albert Zai saat dikonfirmasi pada hari yang sama.
Peringatan Tsunami dan Kondisi yang Berangsur Pulih
Beberapa menit setelah gempa, BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami, menambah ketegangan situasi. Namun, hingga sekitar pukul 07.12 WITA, tidak ditemukan tanda-tanda gelombang besar. Air laut yang sempat surut pun perlahan kembali normal. BMKG mencatat adanya gelombang tsunami kecil dengan ketinggian 0,2 meter di perairan Bitung, jauh dari skala yang membahayakan.
Keadaan di lapangan kemudian menunjukkan perbaikan. Masyarakat yang sempat khawatir mulai tenang dan aktivitas berangsur pulih, termasuk persiapan menyambut perayaan Paskah di wilayah tersebut.
“Tadi warga sedang persiapan untuk kerja, karena pukul 6.48 itu cukup terang... Saat ini kondusif,” jelas Kapolres Bitung mengenai transisi dari kepanikan menuju normalitas.
Dampak Kerusakan Material
Meski beruntung tidak menelan korban jiwa, gempa ini meninggalkan jejak kerusakan pada sejumlah infrastruktur. Kapolres Albert Zai menegaskan hal ini.
“Nggak ada korban jiwa. Sampai saat ini saya laporkan tidak ada,” ujarnya.
Namun, kekuatan guncangan merusak beberapa bangunan. Kerusakan paling parah terjadi di sebuah dapur rumah di Kelurahan Manembo-Nembo, Kecamatan Matuari, yang ambruk akibat longsoran tanah pascagempa. Kerusakan juga melanda bangunan publik; dinding keramik sebuah masjid runtuh, sementara beberapa kantor instansi pemerintah mengalami kerusakan serupa pada bagian dindingnya. Data ini menunjukkan bahwa meski pusat gempa berada di laut, dampak guncangan tetap signifikan di daratan.
Dengan situasi yang telah terkendali, fokus pemulihan kini diarahkan pada pendataan kerusakan dan penjaminan keamanan bangunan yang terdampak.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Cari Kopi di Podium Saat Puji Kesuksesan Kopiko Tembus 100 Negara
Herawati Siap Damai dengan Majikan di Kasus Penganiayaan dengan Syarat Minta Maaf dan Kembalikan Barang
Presiden Prabowo Canangkan Pembangunan Cold Storage di Setiap Desa Nelayan
Persediaan Hewan Kurban di Aceh Timur Capai 2.428 Ekor Jelang Iduladha 2026