PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke level Rp 17.718 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (19/05/2026). Pelemahan yang cukup dalam ini langsung memicu kekhawatiran baru, terutama di sektor pangan nasional. Sebab, masih banyak bahan pokok yang bergantung pada pasokan impor dengan transaksi menggunakan dolar AS. Akibatnya, harga kebutuhan sehari-hari di dalam negeri menjadi sangat sensitif terhadap gejolak kurs.
Ketika rupiah terus tertekan, beban biaya impor otomatis membengkak. Kenaikan ini tidak berhenti di tingkat produsen, melainkan berpotensi merembet hingga ke kantong konsumen. Situasi ini bukan hanya mengancam industri makanan dan minuman, tetapi juga langsung dirasakan masyarakat melalui lonjakan harga di pasar tradisional maupun ritel.
Jika tren pelemahan ini berlanjut, bukan tidak mungkin harga berbagai komoditas pangan akan merangkak naik dalam waktu dekat. Mengacu pada data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), berikut daftar komoditas impor yang paling rentan terdampak.
Gandum dan Meslin
Komoditas ini hampir sepenuhnya bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan industri tepung terigu. Pelemahan rupiah secara langsung akan menaikkan biaya produksi, sehingga harga produk turunan seperti roti, mi instan, dan kue berpotensi ikut melambung.
Gula
Baik gula konsumsi rumah tangga maupun gula mentah untuk industri masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Kenaikan biaya impor akibat kurs yang lemah bisa langsung berdampak pada harga gula di pasaran.
Kakao
Meskipun Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kakao dunia, sebagian kebutuhan industri pengolahan tetap harus dipenuhi lewat impor. Sektor ini pun tak luput dari risiko fluktuasi nilai tukar.
Kedelai
Bahan baku utama tahu dan tempe ini sebagian besar didatangkan dari luar negeri. Melemahnya rupiah berpotensi besar mendongkrak harga kedelai, yang ujungnya akan membebani pedagang kecil dan konsumen setia lauk pauk rakyat.
Tembakau
Industri rokok tertentu masih menggunakan tembakau impor untuk menjaga kualitas produk. Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis meningkat dan bisa mempengaruhi harga jual di pasaran.
Susu
Kebutuhan susu dalam negeri, khususnya bahan baku susu bubuk, masih sangat bergantung pada impor. Kondisi ini membuat harga produk olahan susu seperti susu kental manis, keju, dan yoghurt rentan mengalami kenaikan.
Daging Sapi Impor
Pasokan daging sapi dari luar negeri masih cukup besar untuk memenuhi permintaan domestik. Pelemahan rupiah dapat menyebabkan harga daging sapi di pasar tradisional maupun supermarket ikut terdongkrak.
Bawang Putih
Hampir seluruh kebutuhan bawang putih di Indonesia dipenuhi dari impor. Komoditas ini sangat sensitif terhadap perubahan nilai tukar, sehingga gejolak kurs sekecil apa pun bisa langsung terasa di dapur rumah tangga.
Ikan
Beberapa jenis ikan tertentu yang tidak banyak diproduksi di dalam negeri masih harus diimpor untuk memenuhi permintaan pasar. Sektor ini pun tidak kebal terhadap tekanan nilai tukar.
Beras
Dalam kondisi tertentu, Indonesia masih melakukan impor beras untuk menjaga stok dan stabilitas harga. Jika rupiah terus melemah, biaya impor meningkat dan berpotensi mengerek harga beras di tingkat pedagang.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Tanjung Verde Buktikan Negara Kecil Bisa Bersaing di Piala Dunia, Jadi Pelajaran bagi Indonesia dalam Mengelola Pemain Diaspora
Hashim Minta Kemensos Perketat Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa
Jepang Siapkan Anggaran Rp11 Triliun untuk Dorong Ekspor Anime, Gim, dan Konten Kreatif
Dokter Puskesmas di Batang Rugi Rp1,5 Miliar Usai Uang di Koper Rusak Terendam Banjir Rob