DEN Serukan Ketenangan, Stok BBM Nasional Masih Aman di Atas 20 Hari

- Kamis, 02 April 2026 | 22:00 WIB
DEN Serukan Ketenangan, Stok BBM Nasional Masih Aman di Atas 20 Hari

PARADAPOS.COM - Pemerintah dan Pertamina tengah berupaya maksimal menjaga stok bahan bakar minyak (BBM) nasional di tengah gejolak harga energi global. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M. Kholid Syeirazi, menyerukan ketenangan publik, menyebut situasi Indonesia masih lebih baik dibandingkan banyak negara lain. Ia juga mengingatkan pentingnya konsumsi energi yang bijak dari masyarakat sebagai bentuk dukungan.

Seruan untuk Tetap Tenang dan Kondisi Pasar Global

Dalam keterangannya di Jakarta, Kholid Syeirazi menekankan bahwa kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah. Ia meminta masyarakat melihat situasi secara lebih luas, di mana krisis energi saat ini merupakan fenomena global yang juga dirasakan negara lain.

"Masyarakat harus tenang. Buat apa panik? Karena situasi sekarang juga dialami di seluruh dunia. Bahkan, kondisi kita jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain," tuturnya.

Sebagai perbandingan, ia menyebutkan sejumlah kenaikan harga yang signifikan di negara tetangga, seperti di Vietnam dan Thailand. Dari sisi ketersediaan, stok BBM di dalam negeri diklaim masih berada di atas 20 hari, angka yang melebihi batas cadangan operasional minimal.

Dukungan Masyarakat dan Beban Fiskal Pemerintah

Kholid menjelaskan, ketenangan dan kebijaksanaan masyarakat dalam menggunakan energi akan sangat membantu upaya pemerintah dan Pertamina. Di sisi lain, ia mengakui bahwa mendapatkan pasokan di pasar internasional saat ini bukan perkara mudah.

"Pertamina tentu berusaha melakukan usaha terbaik untuk menjaga ketersediaan. Upaya itu terus dilakukan, meski sekarang tidak mudah mendapatkan suplai. Tetapi, Pemerintah dan Pertamina tentu tidak bisa sendirian. Harus didukung masyarakat," jelasnya.

Ia kemudian menjabarkan alasan di balik wacana penyesuaian harga. Menurutnya, dalam situasi krisis, sikap seolah tidak terjadi apa-apa justru berbahaya. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah melampaui 100 dolar AS per barel memberikan tekanan berat pada anggaran negara untuk subsidi.

"Kalau dalam kondisi seperti sekarang dan kemudian kita bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, justru berbahaya. Tidak punya sense of crisis," tegas Kholid.

Setiap kenaikan satu dolar AS harga minyak, beban subsidi dan kompensasi berpotensi bertambah Rp10,3 triliun. Oleh karena itu, penyesuaian harga di tingkat konsumen dinilai sebagai salah satu langkah untuk mengurangi beban fiskal yang kian membesar.

Pentingnya Komunikasi Publik yang Jelas

Pendapat senada disampaikan Anggota Komisi XII DPR RI, Sartono Hutomo. Ia mengapresiasi upaya Pertamina, namun menekankan bahwa komunikasi yang terukur dan mudah dipahami kepada publik adalah kunci utama.

"Namun, yang lebih penting adalah memastikan bahwa informasi ketersediaan jaminan stock tersebut disampaikan secara terukur dan mudah dipahami masyarakat agar publik merasa aman dan tidak mudah terprovokasi," ungkapnya.

Sartono juga mengimbau masyarakat untuk bersikap kritis terhadap informasi yang beredar. Ia mengingatkan agar publik tidak mudah terpancing isu kenaikan harga yang belum jelas kebenarannya, apalagi sampai melakukan penimbunan.

"Masyarakat tidak perlu melakukan penimbunan BBM karena justru akan memperburuk kondisi distribusi dan merugikan masyarakat luas. Pastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi pemerintah atau Pertamina," pesannya.

Dengan demikian, langkah menjaga stok harus diiringi dengan transparansi informasi dan partisipasi aktif masyarakat untuk bersama-sama melewati tantangan krisis energi ini.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar