Pakar Lingkungan Unmul Gagas Sekolah Lapang untuk Selamatkan Tambak Tradisional di Kaltim

- Jumat, 03 April 2026 | 04:25 WIB
Pakar Lingkungan Unmul Gagas Sekolah Lapang untuk Selamatkan Tambak Tradisional di Kaltim

PARADAPOS.COM - Seorang pakar lingkungan dari Universitas Mulawarman (Unmul) menggagas program Sekolah Lapang untuk mengatasi penurunan produktivitas tambak tradisional di pesisir Kalimantan Timur. Inisiatif ini dirancang sebagai pendampingan langsung bagi petambak guna mengadopsi teknik budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan penyakit, sekaligus memulihkan kelestarian ekosistem kawasan Delta Mahakam yang tengah terancam.

Ancaman terhadap Tambak Tradisional dan Solusi Pendampingan

Program Sekolah Lapang yang digagas Prof. Esti Handayani Hardim muncul dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi tambak tradisional di daerah itu. Data riset akademis mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: lahan tambak di Delta Mahakam rata-rata hanya memiliki masa produktif optimal sekitar 13 tahun sebelum kualitas lingkungannya mengalami kemerosotan tajam.

Penurunan ini, menurut Prof. Esti, bukan tanpa sebab. Berbagai tekanan lingkungan telah menyatu menjadi ancaman serius.

"Kemerosotan kualitas air dan substrat tambak itu secara langsung dipicu oleh dampak buruk perubahan iklim, fluktuasi suhu ekstrem, rendahnya kadar oksigen, hingga tingginya polusi air," paparnya di Samarinda, Jumat.

Menyikapi kondisi tersebut, Universitas Mulawarman melalui Sekolah Lapang menyatakan komitmennya untuk turun langsung mendampingi para petambak. Pendampingan berkelanjutan ini dianggap krusial untuk mentransformasi praktik budidaya yang selama ini rentan.

Silvofishery: Memulihkan Ekosistem dengan Mangrove

Sebagai solusi jangka panjang, Prof. Esti menawarkan penerapan metode silvofishery. Inti dari metode ini adalah mengintegrasikan penanaman mangrove secara menyeluruh di dalam dan sekitar area tambak. Kehadiran mangrove bukan sekadar penghijauan, melainkan berfungsi sebagai infrastruktur ekologis vital.

Akar-akar pohon bakau berperan sebagai filter alami yang menyerap polutan, menetralkan keasaman tanah dasar tambak, dan bahkan mendukung kehidupan mikroorganisme pengurai mikroplastik. Yang menarik, pendekatan ini ternyata juga meningkatkan kualitas hasil panen.

"Udang maupun kepiting yang dibudidayakan dengan sistem integrasi ini terbukti memiliki kandungan asam amino dan asam lemak lebih tinggi sehingga menghasilkan kualitas daging berstandar premium," jelasnya.

Polikultur dan Ekonomi Sirkular untuk Ketahanan Usaha

Selain silvofishery, para petambak juga diarahkan untuk mempraktikkan sistem polikultur. Sistem ini menggabungkan beberapa komoditas, seperti bandeng, rumput laut, udang, dan kepiting, dalam satu ekosistem kolam yang saling mendukung.

Konsep ini menerapkan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah dari satu organisme menjadi nutrisi bagi yang lain. Misalnya, kotoran udang dapat menyuburkan pertumbuhan rumput laut. Siklus alami ini secara signifikan mengurangi ketergantungan pada pakan buatan dan pupuk kimia, yang sekaligus menekan biaya operasional.

Dari sudut pandang keberlanjutan dan pasar global, transformasi ini memiliki nilai strategis yang tinggi. Praktik budidaya yang sehat dan ramah lingkungan menjadi fondasi untuk produk ekspor yang kompetitif.

"Budi daya perikanan yang sehat tanpa memicu deforestasi mangrove ini menjadi syarat utama agar produk ekspor dari Kaltim bebas dari isu pencemaran serta diterima penuh oleh pasar internasional," tegas Prof. Esti.

Dengan demikian, program Sekolah Lapang tidak hanya berfokus pada pemulihan ekologi, tetapi juga membangun ketahanan ekonomi masyarakat pesisir, menjamin bahwa setiap langkah perbaikan lingkungan berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan para pelaku utamanya.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar