BGN Tanggung Biaya Pengobatan Korban Diduga Keracunan Menu MBG di Jakarta Timur

- Sabtu, 04 April 2026 | 07:25 WIB
BGN Tanggung Biaya Pengobatan Korban Diduga Keracunan Menu MBG di Jakarta Timur

PARADAPOS.COM - Badan Gizi Nasional (BGN) menjamin akan menanggung biaya pengobatan bagi para siswa dan guru yang diduga keracunan setelah menyantap menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta Timur. Pernyataan komitmen ini disampaikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, saat meninjau kondisi korban di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit, Sabtu (3/4). Insiden yang melibatkan sedikitnya 135 orang dari empat sekolah berbeda itu kini tengah dalam proses penyelidikan, dengan pemerintah menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pastinya.

Komitmen Penanganan dan Tanggung Jawab Biaya

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bergerak cepat menangani kasus ini. Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa penanganan medis bagi korban menjadi prioritas utama. Bagi yang telah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, seluruh biaya perawatan akan ditanggung. Sementara untuk korban yang tidak tercakup dalam program BPJS, Badan Gizi Nasional secara tegas menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab.

"Yang tidak ter-cover oleh BPJS Kesehatan, BGN menyatakan akan bertanggung jawab untuk itu," tegas Pramono Anung.

Koordinasi intensif telah dilakukan antara BGN, Pemprov DKI, serta dinas-dinas terkait seperti Pendidikan dan Kesehatan untuk memastikan respons yang terpadu. Gubernur juga meminta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan untuk bersikap transparan.

"Jadi, penanganan dan koordinasi yang cepat antara BGN, Pemerintah DKI Jakarta dan juga dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan tentunya beberapa rumah sakit yang tadi saya sebutkan," ucapnya.

Kondisi Korban dan Kronologi Kejadian

Secara umum, kondisi para korban dilaporkan telah stabil dan sedang dalam masa pemulihan. Pramono Anung mengungkapkan harapannya agar proses penyembuhan dapat berlangsung dengan cepat.

"Alhamdulillah kondisinya sekarang semuanya stabil, 'recovery' (proses pemulihan), mudah-mudahan satu dua hari udah selesai semua," kata dia.

Kejadian bermula pada Kamis (2/4) sekitar pukul 11.00 WIB, saat pembagian makanan MBG berlangsung. Berbeda dari menu biasa yang umumnya berupa nasi, pada hari itu disajikan spageti. Menu ini rupanya lebih menarik minat siswa, sehingga banyak yang langsung menyantapnya di sekolah, tidak dibawa pulang seperti kebiasaan sebelumnya.

Dampaknya terlihat di empat sekolah. SDN Pondok Kelapa 09 melaporkan 33 siswa terdampak, dengan tujuh dirawat di RSUD Duren Sawit. SDN Pondok Kelapa 01 mencatat 37 siswa, sementara SDN Pondok Kelapa 07 ada 31 siswa (delapan dirawat). Di SMAN 91, korban berjumlah 34 orang, terdiri dari 28 siswa serta 6 guru dan tenaga kependidikan.

Menunggu Hasil Investigasi

Saat ini, fokus pemerintah berada pada dua hal: memastikan kesembuhan total seluruh korban dan menunggu hasil investigasi resmi. Sampel makanan dari program MBG telah diambil dan sedang dianalisis di laboratorium untuk mengidentifikasi zat kontaminan yang menyebabkan keracunan. Hasil pemeriksaan ini dinilai krusial untuk menentukan langkah hukum dan perbaikan sistem ke depannya, guna mencegah terulangnya peristiwa serupa. Program yang bertujuan mulia untuk meningkatkan gizi anak sekolah ini diharapkan dapat dievaluasi dengan saksama, tanpa mengorbankan aspek keamanan pangan yang paling mendasar.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar