BGN Minta Maaf dan Tangguhkan Dapur Usai Puluhan Siswa Keracunan Makanan Bergizi Gratis

- Minggu, 05 April 2026 | 07:25 WIB
BGN Minta Maaf dan Tangguhkan Dapur Usai Puluhan Siswa Keracunan Makanan Bergizi Gratis

PARADAPOS.COM - Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi meminta maaf dan mengambil langkah tegas menyusul insiden keracunan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta Timur. Insiden yang terjadi pada Jumat (3/4/2026) ini menyebabkan puluhan siswa mengalami gejala sakit perut, diare, dan mual. Pihak berwenang langsung menghentikan operasional dapur terkait dan berkomitmen menanggung seluruh biaya pengobatan korban.

Permintaan Maaf dan Langkah Tanggap BGN

Menanggapi insiden tersebut, BGN melalui pernyataan resmi menyampaikan permohonan maaf sekaligus menjamin tanggung jawab penuh atas penanganan medis para korban. Pernyataan ini disampaikan oleh pejabat terkait pada akhir pekan lalu.

“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN juga akan bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pengobatan di rumah sakit,” jelas Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, Minggu (5/4).

Lebih lanjut, sebagai bentuk respons cepat dan pencegahan, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi kejadian langsung dihentikan sementara waktu.

Penyelidikan dan Dugaan Awal Penyebab

Insiden bermula ketika guru melaporkan puluhan siswa yang mengeluh sakit usai menyantap makanan dari program MBG pada Kamis sore. Menu yang disajikan cukup beragam, mulai dari spaghetti bolognese hingga buah stroberi. Hingga perkembangan terakhir, jumlah korban yang teridentifikasi mencapai 60 orang. Kabar baiknya, seluruh korban telah mendapat perawatan dan kondisinya dilaporkan semakin membaik.

Dari penyelidikan sementara, dugaan kuat mengarah pada kualitas makanan yang tidak lagi segar saat dikonsumsi. Nanik Sudaryati Deyang memberikan penjelasan lebih rinci mengenai hal ini.

“Selain itu, SPPG Pondok Kelapa kami suspend untuk waktu yang tidak terbatas karena kondisi dapur, termasuk tata letak dan IPAL, masih belum memenuhi standar,” tegasnya. Ia menambahkan, “Adapun dugaan sementara penyebab kejadian berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi tidak dalam kondisi segar. Menurutnya, jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan konsumsi berpotensi menurunkan kualitas makanan dan memicu gangguan kesehatan.”

Komitmen Perbaikan dan Pengawasan Ke Depan

Insiden ini menyoroti celah kritis dalam rantai keamanan pangan, terutama pada program bantuan sosial yang menyasar kelompok rentan seperti anak-anak. BGN menyadari betapa seriusnya dampak dari kejadian semacam ini, tidak hanya secara kesehatan tetapi juga terhadap kepercayaan publik.

Oleh karena itu, badan tersebut berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh dan memperketat sistem pengawasan operasional di semua titik layanan. Langkah ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan dan, yang terpenting, mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan, sehingga hak anak untuk mendapatkan gizi yang aman benar-benar terpenuhi.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar