Menteri Luar Negeri Iran Peringatkan Dampak Radiasi Serangan PLTN Bushehr ke Negara Teluk

- Minggu, 05 April 2026 | 13:25 WIB
Menteri Luar Negeri Iran Peringatkan Dampak Radiasi Serangan PLTN Bushehr ke Negara Teluk

PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, mengeluarkan peringatan keras mengenai ancaman lingkungan yang berpotensi meluas dari serangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr. Dalam pernyataannya, ia menyebut dampak radiasi radioaktif dari insiden tersebut tidak hanya mengancam Iran, tetapi juga dapat membahayakan negara-negara tetangga di kawasan Teluk Persia.

Peringatan Resmi dan Ancaman Regional

Peringatan itu disampaikan secara terbuka melalui platform media sosial X, menyusul laporan Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) tentang serangan yang menargetkan fasilitas nuklir tersebut. Amir-Abdollahian secara tegas menyoroti risiko yang akan dihadapi oleh negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).

“Dampak radiasi akan mengakhiri kehidupan di ibu kota negara-negara GCC, bukan Teheran,” tulisnya, seperti dikutip dari laporan kantor berita Antara, Minggu (5 April 2026).

Serangkaian Serangan dan Tudingan

Insiden di PLTN Bushehr bukanlah yang pertama. Menurut otoritas nuklir Iran, fasilitas itu telah menjadi sasaran beberapa kali dalam kurun waktu singkat. Catatan resmi menunjukkan serangan terjadi pada 17, 24, dan 27 Maret 2026, yang mengakibatkan korban jiwa satu karyawan. Tidak berhenti di situ, Iran juga melaporkan serangan terhadap instalasi nuklir lain di Natanz, Khondab, dan Ardakan.

Pemerintah Teheran dengan lantang menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik rentetan aksi ini. Tuduhan ini semakin memperuncing ketegangan yang sudah memanas di kawasan sejak akhir Februari, ketika kedua negara tersebut disebut melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan balasan oleh Iran.

Dampak Lingkungan dan Respons Internasional

Dalam pernyataannya, Amir-Abdollahian juga menarik perbandingan dengan konflik di PLTN Zaporizhzhia, Ukraina. Ia mempertanyakan mengapa respons komunitas internasional terhadap situasi di Timur Tengah dinilainya tidak sekeras ketika insiden terjadi di Eropa. Peringatannya ini secara implisit menekankan urgensi perlindungan terhadap fasilitas nuklir sipil, terlepas dari lokasi geografisnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi independen dari badan pengawas nuklir internasional mengenai kebocoran radiasi atau tingkat kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari serangan di Bushehr. Namun, peringatan resmi dari pejabat tinggi Iran ini telah menyulut kekhawatiran baru akan potensi bencana ekologis yang batasnya tidak mengenal garis negara.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar