Gubernur DKI Batalkan Rencana Pemindahan Kampus IKJ ke Kota Tua

- Jumat, 10 April 2026 | 01:25 WIB
Gubernur DKI Batalkan Rencana Pemindahan Kampus IKJ ke Kota Tua

PARADAPOS.COM - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo membatalkan rencana pemindahan kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke kawasan Kota Tua. Meski begitu, Pemerintah Provinsi DKI tetap berkomitmen menyediakan ruang ekspresi bagi para mahasiswa dan seniman IKJ di kawasan bersejarah tersebut. Keputusan ini diambil setelah kajian mendalam, dengan pertimbangan utama menjaga fungsi Kota Tua sebagai destinasi wisata budaya yang berkelanjutan.

Kajian Mendalam Pertahankan Fungsi Utama Kota Tua

Dalam penjelasannya di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (9/4/2026), Pramono menegaskan bahwa pemindahan penuh kampus justru berpotensi menggeser fokus revitalisasi. Pemerintah lebih memilih pendekatan yang terukur, di mana kehadiran IKJ bersifat melengkapi tanpa mendominasi karakter kawasan.

Pramono mengungkapkan, "Bahwa nanti akan ada gedung yang kami persiapkan untuk IKJ. Tetapi setelah kami kaji, bukan kemudian kami akan memindahkan IKJ, enggak. Sebab untuk memindahkan IKJ itu nanti malah tujuan utama untuk Kota Tua sebagai tempat kita untuk destinasi wisata, merawat kultural," jelasnya.

Sinergi Seni dan Revitalisasi Berkelanjutan

Revitalisasi Kota Tua sendiri masih terus berjalan secara bertahap dan terencana. Gubernur menggambarkan potensi kawasan ini dengan menyebut kemiripan suasana dengan Amsterdam, terutama dengan integrasi Transit Oriented Development (TOD) untuk layanan MRT yang ditargetkan rampung pada 2029.

Mengenai segmentasi pengunjung, Pramono memberikan gambaran, "Karena memang segmentasinya nanti apakah Kota Tua itu seperti misalnya di kota-kota di Eropa Barat, Eropa Timur, wisatanya adalah middle class up gitu ataukah middle class atau middle class kebawah. Menurut saya untuk Kota Tua dalam jangka panjang perencanaannya adalah untuk menengah," tuturnya.

Dari Wacana ke Penyesuaian Rencana

Wacana pemindahan IKJ sebenarnya telah mengemuka sejak Oktober 2025. Saat itu, Pramono melihat Kota Tua sebagai kawasan warisan cagar budaya yang membutuhkan sentuhan langsung para talenta dan seniman untuk menghidupkannya.

Di lokasi Kota Tua, Jakarta Barat, ia pernah menyampaikan, “Memang tempat yang heritage seperti ini memerlukan banyak talent-talent, seniman-seniman yang secara langsung bisa berpanggung di sini.”

Keyakinan awal tersebut berangkat dari harapan agar mahasiswa IKJ mendapat ruang kreatif yang lebih luas, dengan dukungan pemerintah daerah dan pusat untuk pengembangan institusi. Namun, setelah melalui proses evaluasi yang cermat, Pemerintah Provinsi DKI memutuskan untuk mengutamakan keseimbangan antara pelestarian budaya, pengembangan wisata, dan dukungan terhadap dunia pendidikan seni, tanpa memusatkan semuanya dalam satu lokasi.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar