11 Warga Australia Korban Kekerasan Fisik dan Pelecehan Seksual saat Ditahan Israel di Misi Bantuan ke Gaza

- Senin, 25 Mei 2026 | 11:50 WIB
11 Warga Australia Korban Kekerasan Fisik dan Pelecehan Seksual saat Ditahan Israel di Misi Bantuan ke Gaza
PARADAPOS.COM - Sebelas warga Australia yang tergabung dalam misi bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 menuju Gaza telah kembali ke Melbourne setelah ditahan oleh pasukan Israel di perairan internasional pekan lalu. Mereka melaporkan mengalami kekerasan fisik dan pelecehan seksual selama masa penahanan, yang berlangsung selama empat hari. Tuduhan ini mencakup pemukulan, penyetruman dengan taser, dan penembakan peluru karet, yang langsung dibantah keras oleh otoritas penjara Israel. Kasus ini memicu gelombang kecaman internasional, terutama setelah beredarnya video Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang terlihat mengejek para aktivis dalam kondisi diborgol.

Kesaksian dari Dalam Penahanan

Salah satu aktivis yang baru tiba di Melbourne pada Minggu malam, 24 Mei 2026, adalah Juliet Lamont, seorang pembuat film dokumenter. Dalam kesaksiannya, ia mengaku menjadi korban kekerasan sejak awal penahanan. “Itu baru awal dari empat hari yang benar-benar seperti neraka,” ujarnya, seperti dikutip dari laporan media setempat pada Senin, 25 Mei 2026. Lamont menceritakan bahwa ia diseret, dipukuli, dan dilecehkan secara seksual oleh aparat Israel. Ia juga menyaksikan langsung perlakuan yang dinilainya tidak manusiawi terhadap peserta flotilla lainnya selama masa penahanan.

Luka Fisik dan Alat Kejut Listrik

Aktivis lain, Sam Woripa Watson, mengalami cedera yang lebih parah. Ia pulang dengan patah tulang rusuk, serta luka memar dan sayatan di sekujur tubuhnya. Watson mengungkapkan bahwa aparat Israel tidak segan menggunakan kekerasan berat. Ia menuturkan bahwa sejumlah peserta flotilla disetrum menggunakan taser, ditembak dengan peluru karet, dan bahkan dilempari granat kejut. Menurutnya, kekerasan itu terjadi secara sistematis selama proses penggiringan dan penahanan di atas kapal militer Israel. Penyelenggara misi, Global Sumud Flotilla, mencatat setidaknya 15 kasus dugaan pelecehan seksual terhadap peserta. Organisasi itu juga menyebutkan bahwa kapal pendarat milik Israel diubah menjadi penjara darurat. Di dalamnya, kawat berduri dan kontainer pengiriman digunakan untuk mengisolasi para tahanan.

Bantahan Israel dan Reaksi Australia

Otoritas penjara Israel dengan tegas membantah seluruh tuduhan yang dilayangkan para aktivis. Mereka menyangkal adanya kekerasan, pemerkosaan, atau pelecehan seksual selama proses penahanan berlangsung. Namun, tekanan internasional terhadap Tel Aviv semakin meningkat. Hal ini dipicu oleh beredarnya video yang memperlihatkan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengejek para aktivis yang masih dalam keadaan diborgol. Video itu menuai kecaman luas. Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menyebut rekaman tersebut sebagai sesuatu yang mengejutkan dan tidak dapat diterima. Ia menegaskan bahwa tindakan seperti itu tidak mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebelumnya, Australia telah menjatuhkan larangan perjalanan dan sanksi finansial terhadap Ben-Gvir atas tuduhan menghasut kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Kasus terbaru ini diprediksi akan memperkeruh hubungan diplomatik antara Canberra dan Tel Aviv.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar