Pemerintah Pisahkan Pasar: Motor Listrik untuk Domestik, Konvensional untuk Ekspor

- Jumat, 10 April 2026 | 03:50 WIB
Pemerintah Pisahkan Pasar: Motor Listrik untuk Domestik, Konvensional untuk Ekspor

PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia mulai mengarahkan strategi industri otomotif nasional dengan memisahkan pasar untuk sepeda motor listrik dan konvensional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, produksi motor listrik akan difokuskan untuk memenuhi permintaan dalam negeri, sementara produksi motor berbahan bakar minyak (BBM) akan dialihkan untuk ekspor. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya percepatan transisi energi dan adaptasi terhadap tren elektrifikasi global, yang tengah dipersiapkan regulasi pendukungnya.

Pemisahan Pasar: Listrik untuk Domestik, Konvensional untuk Ekspor

Dalam paparannya, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa pemerintah tidak akan menghentikan produksi motor konvensional. Sebaliknya, produksi kendaraan berbasis BBM itu akan diberi peran baru sebagai komoditas ekspor, terutama ke pasar-pasar non-tradisional yang permintaannya masih tinggi.

"Sementara motor-motor yang basisnya masih konvensional itu tetap mereka bisa untuk memproduksi, nanti kita arahkan untuk produk ekspor, baik itu ke negara-negara lain, khususnya di negara-negara mungkin Afrika maupun Middle East maupun Amerika Selatan," urainya.

Di sisi lain, para produsen yang sudah beroperasi di dalam negeri didorong untuk segera meningkatkan kapasitas produksi motor listrik. Tujuannya jelas: memastikan pasokan kendaraan ramah lingkungan tersebut cukup untuk memenuhi target adopsi di pasar domestik.

Transisi Bertahap Menuju Era Elektrifikasi

Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas industri sekaligus mendorong transformasi. Dengan demikian, pelaku usaha dapat melakukan transisi secara bertahap tanpa harus menutup lini produksi yang ada, sambil membangun kompetensi di bidang elektrifikasi.

"Jadi tidak perlu menyetop produksi motor berbasis konvensional karena itu nanti kita arahkan untuk ekspor, tapi sudah harus dimulai pembuatan kapasitas untuk memproduksi motor-motor listrik. Karena semua nanti kita sedang bikin roadmap-nya seluruh motor listrik yang beredar di Indonesia yang dipakai oleh konsumen itu semuanya berbasis listrik," tegas Agus.

Ia juga menggarisbawahi komitmen pemerintah yang sejalan dengan arahan presiden, bahwa masa depan transportasi nasional akan bertumpu pada energi listrik. Pergeseran ini dipandang sebagai sebuah keharusan, bukan sekadar pilihan, seiring dengan urgensi global untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

"Ya, karena memang sekarang semakin kelihatan kepentingannya untuk itu, untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil. Jadi memang tidak ada pilihan lain kita harus convert ke listrik," sebutnya.

Insentif Masih Menjadi Bahan Pembahasan

Meski roadmap sudah mulai digariskan, aspek pendukung seperti pemberian insentif bagi konsumen motor listrik masih perlu diperjelas. Menperin mengaku telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan mengenai hal ini, namun besaran dan bentuk insentif tersebut masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut.

"Masih dibicarakan," kata Agus menutup penjelasannya mengenai insentif tersebut.

Langkah pemerintah ini mencerminkan pendekatan yang realistis dalam menghadapi perubahan teknologi. Dengan mempertahankan ekspor motor konvensional, industri dalam negeri tetap bergerak dan menghasilkan devisa. Sementara itu, fokus pada pengembangan motor listrik untuk pasar domestik menjadi investasi jangka panjang menuju kemandirian energi dan pengurangan emisi.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar