UMKM Dainichi Sulawesi Selatan Kuasai 90% Pasar Gula Aren Indonesia Timur, Siap Ekspansi ke Jawa-Sumatra

- Jumat, 10 April 2026 | 05:50 WIB
UMKM Dainichi Sulawesi Selatan Kuasai 90% Pasar Gula Aren Indonesia Timur, Siap Ekspansi ke Jawa-Sumatra

PARADAPOS.COM - Sebuah usaha mikro di Sulawesi Selatan berhasil mengubah tantangan menjadi peluang, mengubah gula aren yang sempat terbuang sia-sia di pedesaan menjadi produk unggulan yang mendominasi pasar regional. Dainichi, brand yang digawangi Muhammad Ridwan (30), kini tidak hanya menguasai pasar Indonesia Timur tetapi juga bersiap melakukan ekspansi besar-besaran ke Jawa dan Sumatra, dengan mata tertuju pada pasar ekspor.

Dari Keprihatinan Menjadi Peluang Bisnis

Berawal dari kampung halamannya di Kabupaten Bone, Ridwan menyaksikan langsung sebuah ironi. Potensi gula aren yang melimpah justru kerap berakhir dengan pemborosan karena serapan pasar yang terbatas. Bahan baku berkualitas itu banyak yang rusak sebelum sempat dimanfaatkan. Dari situlah, pada 2019, dengan modal awal sekitar Rp10 juta, ia memberanikan diri mendirikan UMKM Dainichi. Visinya sederhana namun jelas: menciptakan nilai tambah dari komoditas lokal yang terabaikan.

"Banyak sekali bahan baku gula tapi dibiarkan rusak karena tidak ada orang yang beli. Ini salah satu peluang," tuturnya, mengingat momen awal yang mendorongnya untuk bertindak.

Strategi Digital dan Dominasi Pasar Timur

Perjalanan Dainichi menemukan momentumnya ketika Ridwan melihat geliat tren kopi susu gula aren. Ia mulai dengan menyuplai bahan baku ke gerai-gerai kopi di Makassar. Namun, lompatan signifikan justru datang dari dunia digital. Di tengah pembatasan aktivitas pada masa pandemi, Ridwan memutuskan bergabung dengan platform e-commerce. Keputusan itu terbukti menjadi katalisator yang tepat.

Pertumbuhan penjualan daringnya melesat, mencatatkan kenaikan lebih dari 100% secara tahunan. Pada kuartal pertama 2026 saja, bisnisnya telah mengirimkan ribuan paket setiap bulannya. Yang lebih mengesankan, transaksi online kini menyumbang seperempat dari total omzet perusahaan. Dominasinya di pasar fisik pun tak kalah kuat. Dari yang awalnya hanya menguasai 10% pasar, Dainichi kini membalikkan keadaan.

"Dulu di 2020, market leader di Indonesia Timur adalah korporasi besar dari Jawa dengan pangsa pasar kami hanya 10%. Sekarang kondisinya berbalik, kami yang mendominasi 90% di Makassar dan Sulawesi," tegas Ridwan dengan keyakinan.

Jaringan Petani dan Fokus pada Kualitas

Di balik kesuksesan ekspansi pasar, fondasi bisnis Dainichi tetap bertumpu pada akar rumput. Perusahaan ini membina sekitar 500 mitra petani di sejumlah wilayah seperti Bone, Sinjai, dan Malino. Jaringan ini menjadi penopang vital untuk menjaga stok bahan baku, terutama saat musim kemarau yang memengaruhi produksi nira.

Ridwan juga sangat ketat dalam menjaga mutu. Pengawasan dilakukan secara berjenjang, mulai dari kebun hingga gudang. Salah satu keunggulan produknya terletak pada proses pengolahan gula bubuk yang menjaga kadar air pada level sangat rendah, yaitu sekitar 2%. Standar teknis ini bukan tanpa alasan, melainkan hasil pemahaman mendalam tentang kebutuhan pasar.

"Tingkat kekeringan yang tinggi ini memastikan rasa yang lebih kuat (bold) dan tidak hambar (watery) saat dicampur dengan espresso," jelasnya mengenai strategi menjaga konsistensi cita rasa.

Menyongsong Ekspansi Nasional

Dengan kepercayaan diri yang terbangun, langkah Dainichi ke depan semakin strategis. Fokus utama saat ini adalah menembus pasar Jawa dan Sumatra, yang diakui Ridwan memiliki potensi sangat besar. Tidak berhenti di situ, inovasi produk terus digalakkan. Rencana peluncuran produk hilir seperti Sarabba instan menunjukkan upaya untuk memperluas segmen konsumen dari kalangan bisnis ke rumah tangga.

Untuk mendukung ambisi tersebut, transformasi operasional pun sedang dipersiapkan. Perusahaan yang kini menyerap tenaga kerja 36 orang itu berencana meningkatkan skala produksi dari rumahan ke pabrikasi pada tahun depan. Persiapan infrastruktur ini dinilai krusial untuk menjawab permintaan pasar nasional yang semakin luas.

"Potensi pasar lokal masih sangat besar, bahkan kafe-kafe besar di Jakarta semuanya menggunakan gula aren. Kami sedang bersiap untuk masuk ke pasar nasional secara lebih agresif dan mempersiapkan infrastruktur pabrik tahun depan," pungkas Ridwan, menutup pembicaraan dengan optimisme yang terasa matang dan terencana.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar