PARADAPOS.COM - Amerika Serikat memulai blokade laut di Selat Hormuz pada Senin (13/6/2026), mengerahkan lebih dari lima belas kapal perang untuk mencegat lalu lintas kapal di jalur air strategis tersebut. Langkah ini diambil menyusul kegagalan perundingan damai dengan Iran akhir pekan lalu, yang memperuncing ketegangan lama terkait program nuklir Tehran.
Armada Besar Dikerahkan, Operasi Dilakukan dari Jarak Aman
Armada yang dikerahkan oleh Komando Pusat AS (Centcom) mencakup satu kapal induk, sejumlah kapal perusak (destroyer), dan satu kapal serbu amfibi, didukung oleh kapal-kapal pendukung lainnya. Kekuatan laut ini memiliki kemampuan untuk mengarahkan kapal komersial ke area tertentu dan membawa helikopter untuk operasi pendaratan.
Namun, menurut seorang pejabat tinggi militer AS, armada tersebut kemungkinan akan beroperasi di luar mulut selat itu sendiri. Langkah ini dinilai sebagai tindakan kehati-hatian untuk meminimalisir risiko konfrontasi langsung dengan pasukan Iran yang menjaga perairan teritorialnya.
Laksamana Madya Kevin Donegan, dalam penjelasannya kepada The Wall Street Journal, mengonfirmasi strategi ini. "Kapal-kapal perang AS kemungkinan tetap berada di luar Selat Hormuz untuk menghindari potensi ancaman Iran," tuturnya.
Pemicu: Jalan Buntu dalam Perundingan Nuklir
Blokade ini merupakan eskalasi terbaru yang berakar pada kebuntuan diplomasi. Perundingan yang digelar di Islamabad, Pakistan, antara delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dan pihak Iran, berakhir tanpa kesepakatan.
Poin perselisihan utama, seperti diungkapkan pihak Amerika, tetap menyangkut program pengayaan uranium Iran. AS bersikeras menolak kelanjutan program tersebut dengan kekhawatiran akan dikembangkan menjadi senjata nuklir, sebuah tuduhan yang selalu ditampik keras oleh Tehran.
Vance menegaskan kembali posisi negaranya usai perundingan. "AS menolak dilanjutkannya program pengayaan uranium Iran dengan tuduhan akan dijadikan senjata nuklir," jelasnya.
Iran Bersikukuh, Blokade Perluas Cakupan
Iran secara konsisten membantah segala tuduhan pengembangan senjata nuklir, menegaskan bahwa aktivitas nuklirnya murni untuk tujuan damai seperti pembangkit listrik dan keperluan sipil lainnya. Blokade AS kali ini disebutkan juga akan menargetkan kapal-kapal yang telah membayar biaya transit kepada otoritas Iran, memperluas dampak operasi ini terhadap perdagangan global yang melewati selat tersebut.
Dengan situasi ini, Selat Hormuz yang menjadi urat nadi lalu lintas minyak dunia, kembali menjadi titik api geopolitik yang mencemaskan. Keberadaan armada tempur AS di perairan internasional sekitarnya menandai periode ketegangan baru yang memerlukan pengamatan ketat dari komunitas internasional.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Potensi Hujan hingga Akhir April 2026, Sejumlah Wilayah Masuk Status Siaga
Disperindag Mimika Pastikan Stok Elpiji Aman hingga Akhir April
PT Merdeka Gold Resources Amankan Pinjaman Sindikasi US$150 Juta untuk Ekspansi
SIM Keliling Polrestabes Bandung Layani Perpanjangan di Dua Titik Hari Ini