PARADAPOS.COM - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menyatakan stok bahan bakar elpiji di wilayahnya masih dalam kondisi aman. Persediaan yang ada saat ini diprediksi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir April 2026. Pernyataan ini disampaikan untuk mencegah kepanikan dan praktik penimbunan menyusul keterbatasan pasokan elpiji ukuran 12 kilogram yang terjadi di Timika.
Pasokan Rutin Tiba, Stok Diperkirakan Cukup
Kepala Disperindag Mimika, Sabelina Fitriani, menjelaskan bahwa sebanyak 4.000 tabung elpiji ukuran 12 kg dan 50 kg telah tiba di Timika. Pasokan berikutnya dijadwalkan akan kembali datang pada 25 April mendatang melalui Pelabuhan Pomako. Dengan adanya pengiriman rutin ini, pihaknya yakin ketersediaan elpiji dapat terjaga.
Sabelina menegaskan, "Stok yang ada sebanyak 4.000 tabung elpiji yang sudah tersedia di Timika bisa mencukupi hingga akhir bulan. Nanti akan ada pasokan lagi pada 25 April."
Imbauan Bijak dan Larangan Timbun
Menyikapi situasi saat ini, Disperindag Mimika secara khusus mengimbau konsumen untuk bersikap bijak. Masyarakat diminta tidak membeli elpiji dalam jumlah berlebihan hanya untuk dijadikan stok pribadi di rumah. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga distribusi yang merata dan mencegah kelangkaan artifisial.
Lebih lanjut, pihaknya secara tegas melarang baik warga maupun pelaku usaha untuk menimbun elpiji dengan tujuan mencari keuntungan, seperti menjualnya kembali dengan harga yang melambung. Pengawasan ketat akan dilakukan untuk mencegah praktik semacam ini.
"Masyarakat jangan membeli elpiji untuk stok di rumah atau sengaja membeli dalam jumlah banyak lalu menjual kembali. Kami akan awasi ketat penjualan elpiji ini," tegas Sabelina.
Pengaturan Distribusi dan Kondisi Stok Terkini
Sebagai langkah strategis, Disperindag Mimika segera akan menerbitkan surat edaran yang mengatur penggunaan elpiji berdasarkan sektor. Elpiji ukuran 50 kg akan diwajibkan untuk pelaku usaha seperti warung dan restoran. Sementara itu, elpiji ukuran 12 kg akan dikhususkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga diharapkan dapat mencukupi permintaan warga.
Secara rinci, kondisi stok di lapangan menunjukkan ketersediaan elpiji ukuran 50 kg masih cukup banyak. Namun, untuk ukuran 12 kg memang sangat terbatas. Meski demikian, pihak berwenang memastikan bahwa situasi ini belum dapat dikategorikan sebagai kelangkaan.
“Kami memastikan saat ini belum terjadi kelangkaan bahan bakar elpiji di Timika. Kami imbau masyarakat jangan panik. Harga bahan bakar elpiji di tingkat distributor juga belum ada kenaikan,” ungkap Sabelina.
Upaya Diversifikasi Sumber Pasokan
Melihat ketergantungan pasokan yang saat ini masih berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, Disperindag Mimika telah menginisiasi komunikasi dengan PT Pertamina (Persero). Mereka meminta perusahaan BUMN tersebut mencari alternatif pasokan dari daerah lain, seperti Pulau Jawa. Pertimbangan ini muncul karena stok dari Makassar juga harus dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan wilayah yang luas, mencakup seluruh Pulau Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Upaya diversifikasi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pasokan elpiji di Mimika dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
Trump Picu Kontroversi dengan Unggahan Gambar AI Serupa Yesus, Dikecam Tokoh Agama dan Politik
Harga Emas Batangan Pegadaian Stabil, Tak Berubah Sejak Senin
Menteri Airlangga: Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat Hadapi Gejolak Global
Dua Wisatawan Terkunci di Akuarium Kebun Binatang Bukittinggi, Akhirnya Dievakuasi