PARADAPOS.COM - Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, mengungkapkan bahwa kesenjangan antara dunia riset dan industri masih menjadi tantangan utama dalam mendorong transformasi ekonomi di provinsi tersebut. Pernyataan ini disampaikan dalam Dialog Strategis "DRI Week Universitas Airlangga" di Surabaya, Selasa (14/4/2026). Meski memiliki fondasi ekonomi yang kuat, adopsi hasil penelitian oleh sektor industri dinilai masih sangat minim, sehingga banyak inovasi yang berhenti pada tahap publikasi tanpa memberikan dampak ekonomi nyata.
Posisi Strategis dan Tantangan yang Menganga
Dalam paparannya, Adik Dwi Putranto terlebih dahulu memaparkan potensi makro ekonomi Jawa Timur yang cukup solid. Pada 2025, nilai PDRB provinsi ini tercatat sekitar Rp3.403 triliun dengan pertumbuhan di atas 5%. Sektor industri pengolahan masih menjadi penyumbang utama, sementara pertumbuhan transportasi dan logistik yang melampaui 9% mengukuhkan posisinya sebagai hub distribusi.
Namun, di balik angka-angka yang menggembirakan itu, tersimpan persoalan mendasar. Peningkatan efisiensi sebesar 1% saja sebenarnya bisa memberikan dampak ekonomi puluhan triliun rupiah, tetapi hal itu terhambat oleh lemahnya sinergi antara penemuan di laboratorium dan aplikasi di lapangan.
“Peran strategis Jawa Timur semakin terlihat sebagai hub manufaktur dan logistik di kawasan Indonesia Timur, sekaligus menjadi basis utama ekspor nasional. Dengan fondasi tersebut, Jawa Timur dinilai telah memiliki kekuatan skala ekonomi yang solid,” jelas Adik.
Riset yang Berhenti di Publikasi
Menurutnya, akar masalahnya terletak pada paradigma riset yang masih bersifat supply-driven, atau ditentukan oleh kalangan akademis tanpa melibatkan kebutuhan riil industri sejak awal. Akibatnya, meski kapasitas dan output riset meningkat, hasilnya sering kali tidak sesuai dengan permintaan pasar atau tidak memiliki jalur yang jelas untuk dikomersialkan.
Belum adanya mekanisme hilirisasi yang kuat semakin memperlebar jurang ini. Banyak temuan berharga akhirnya hanya menjadi artikel jurnal, alih-alih menjadi produk atau proses yang meningkatkan efisiensi dan nilai tambah di sektor produksi.
“Masih terdapat persoalan mendasar yang menghambat optimalisasi potensi tersebut, yakni kesenjangan antara riset dan industri. Meskipun kapasitas riset terus meningkat, banyak hasil riset yang berhenti pada tahap publikasi dan belum diimplementasikan secara luas,” ungkapnya.
Pergeseran Paradigma Menuju Riset Berbasis Kebutuhan
Untuk mengatasi hal ini, Adik menegaskan perlunya perubahan paradigma dari supply-driven menuju demand-driven research. Dalam pendekatan baru ini, industri harus memiliki peran lebih besar dalam menentukan arah dan topik penelitian. Kadin Jatim memposisikan diri sebagai jembatan penghubung sekaligus agregator kebutuhan dari berbagai sektor usaha.
“Diperlukan pergeseran menuju pendekatan demand-driven research, yakni riset yang berbasis pada kebutuhan nyata industri,” tegas Adik.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa peran Kadin tidak hanya sebagai penghubung, tetapi juga sebagai fasilitator yang memastikan hasil riset dapat diadopsi dan diimplementasikan di lapangan. Kolaborasi erat antara akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah dinilai sebagai kunci untuk menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
Tujuh Pilar dan Rencana Aksi Konkret
Agenda riset strategis pun disusun dengan fokus pada tujuh prioritas. Fokus tersebut meliputi inovasi produk dan proses, pemasaran digital, pemanfaatan AI, prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), penguatan tata kelola, serta pengembangan SDM yang link and match dengan industri.
Rencana ini tidak hanya berhenti pada konsep. Untuk memastikan eksekusi, disusun kerangka implementasi konkret yang dimulai dengan pembentukan Industrial Problem Bank sebagai basis data masalah riil industri. Langkah selanjutnya adalah membentuk satuan tugas riset bersama (Joint Research Task Force) yang melibatkan Kadin, perguruan tinggi, dan lembaga riset.
“Kadin juga berperan sebagai fasilitator dalam proses implementasi hasil riset agar dapat diadopsi secara nyata,” tandasnya.
Langkah ketiga adalah pelaksanaan proyek percontohan hilirisasi, yang didukung pendanaan hibah riset terapan. Dengan skema ini, diharapkan terjadi komersialisasi hasil penelitian, program inkubasi, dan adopsi teknologi oleh industri secara masif.
Harapannya, melalui pendekatan terintegrasi ini, ekosistem inovasi di Jawa Timur dapat matang. Riset tidak lagi sekadar mengejar publikasi, tetapi benar-benar melahirkan solusi yang memperkuat daya saing industri dan mengakselerasi transformasi ekonomi provinsi tersebut di kancah nasional maupun global.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Dua Pengamen Pelaku Pencurian Motor yang Jualan via WhatsApp
KPK Periksa Dua Pejabat Badilum Terkait Mutasi Hakim Tersangka Korupsi
Warga Malaysia Diamankan di Aceh Barat Daya karena Overstay 237 Hari
Maudy Ayunda Ungkap Ketakutan hingga Ketertarikan Saat Diperankan Korban Kerasukan di Para Perasuk