PARADAPOS.COM - Pertamina resmi memulai fase komersial produksi bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) pada Maret 2026. Bahan bakar penerbangan berkelanjutan ini, yang diolah dari limbah minyak jelantah, diproduksi di Kilang Cilacap dan telah didistribusikan ke bandara-bandara utama untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Langkah ini menandai tonggak penting dalam upaya transisi energi dan dekarbonisasi sektor aviasi di Indonesia.
Jadwal dan Realisasi Produksi Komersial
Setelah melalui uji coba produksi pada Juli 2025, Pertamina melalui anak usahanya, Pertamina Patra Niaga, merealisasikan produksi komersial penuh pada Maret 2026. Tahap komersial ini merupakan puncak dari rangkaian persiapan panjang yang telah dilakukan perusahaan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan realisasi tersebut dalam sebuah siaran pers. "Pada Maret 2026 ini, kilang Pertamina Patra Niaga merealisasikan produksi komersial PertaminaSAF guna memenuhi permintaan pelanggan," tuturnya.
Volume Awal dan Distribusi
Menjelang fase komersial, Pertamina telah lebih dulu memproduksi puluhan ribu barel bioavtur yang memenuhi standar ketat. Roberth mengungkapkan bahwa pada Maret lalu, perusahaan berhasil menghasilkan 45 ribu barel minyak SAF yang kualitas dan keberlanjutannya telah memenuhi kriteria CORSIA Eligible Fuel (CEF).
Produk tersebut kemudian didistribusikan ke dua bandara utama. "Selanjutnya (SAF) dikirimkan kepada pelanggan melalui kapal (vessel) dari pelabuhan Kilang Cilacap ke Bandara Ngurah Rai dan Soekarno Hatta pada akhir Maret 2026," jelas Roberth.
Rantai Pasok dan Jaminan Kualitas
Keberhasilan produksi komersial ini tidak lepas dari penyiapan rantai pasok bahan baku dan proses pengolahan yang matang. Seluruh bahan baku minyak jelantah yang digunakan telah tersertifikasi International Sustainability Carbon Certification (ISCC CORSIA), menjamin asal-usul dan kelestariannya.
Proses pengolahan dilakukan di fasilitas Green Refinery Kilang Cilacap sebelum akhirnya disalurkan. Dari sisi mutu, produk PertaminaSAF telah lulus pengujian menyeluruh. Produk ini memenuhi standar internasional Defence Standard (DEFSTAN) 91-091 untuk avtur dan regulasi dalam negeri dari Ditjen Migas. Seluruh pengujian dilakukan di laboratorium internal Pertamina yang telah terakreditasi ISO 17025, menunjukkan tingkat keandalan yang tinggi.
Strategi Jangka Panjang dan Dukungan Transisi Energi
Inisiatif produksi SAF ini bukan sekadar proyek percontohan, melainkan bagian integral dari strategi bisnis perusahaan untuk mengembangkan portofolio energi hijau. Roberth menegaskan bahwa produksi komersial PertaminaSAF merupakan implementasi strategi dalam mengembangkan energi yang lebih ramah lingkungan berbasis limbah.
Lebih dari itu, langkah ini memiliki dampak strategis yang lebih luas. "Ini juga sekaligus memperkuat posisi Pertamina dalam mendukung transisi energi nasional dan sesuai roadmap untuk menuju Net Zero Emission tahun 2060. Inisiatif ini juga sejalan dengan program Pemerintah dalam meningkatkan kemandirian serta ketahanan energi nasional," pungkasnya.
Dengan demikian, kehadiran bioavtur produksi dalam negeri ini tidak hanya menjawab tantangan lingkungan di sektor aviasi, tetapi juga memperkuat fondasi ketahanan energi Indonesia di masa depan.
Artikel Terkait
Trump Unggah Gambar AI Dirinya sebagai Yesus, Picu Kecaman Internasional dan Wacana Pemakzulan
Bulog Buka Gudang untuk Publik Usai Inspeksi Mendadak Presiden Prabowo
Hino Investasi Rp1,8 Triliun di Indonesia, Targetkan Jadi Basis Ekspor Global
Apindo Soroti Tiga Tantangan Berat Industri Manufaktur Hadapi Standar Uni Eropa