Trump Unggah Gambar AI Dirinya sebagai Yesus, Picu Kecaman Internasional dan Wacana Pemakzulan

- Minggu, 19 April 2026 | 17:50 WIB
Trump Unggah Gambar AI Dirinya sebagai Yesus, Picu Kecaman Internasional dan Wacana Pemakzulan

PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu gelombang kecaman internasional setelah mengunggah gambar dirinya yang dibuat dengan kecerdasan artifisial (AI) menyerupai Yesus Kristus di platform media sosial Truth Social. Unggahan kontroversial itu muncul di tengah ketegangan hubungannya dengan Vatikan, menyusul kritiknya terhadap Paus Leo XIV yang dinilai lemah menangani program nuklir Iran. Langkah Trump ini memicu reaksi keras dari sejumlah pemimpin dunia dan di dalam negeri memunculkan kekhawatiran serta wacana pemakzulan terkait kapasitas kepemimpinannya.

Kontroversi Unggahan dan Bantahan Trump

Gambar yang diunggah Trump tersebut dengan cepat menjadi perbincangan global, bukan hanya karena konten religiusnya yang sensitif, tetapi juga konteks politik yang melatarbelakanginya. Unggahan itu dilihat banyak pengamat sebagai bagian dari narasi yang dibangun Trump di tengah perseteruan terbukanya dengan pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut. Alih-alih meredam situasi, Trump justru memilih untuk bersikap konfrontatif menanggapi kecaman yang bermunculan.

Dari akun Truth Social-nya, Trump menegaskan sikapnya. "Saya tidak akan meminta maaf. Gambar itu adalah bentuk ekspresi seni dan keyakinan," ujarnya dengan tegas.

Ia kemudian melanjutkan serangannya terhadap otoritas Paus. "Kredibilitas Paus dalam menangani kejahatan internasional, khususnya terkait Iran, sangat dipertanyakan. Kita membutuhkan kepemimpinan yang kuat, bukan yang lemah," tambahnya, memperdalam jurang ketegangan antara Gedung Putih dan Vatikan.

Reaksi Internasional dan Kekhawatiran Dalam Negeri

Gelombang reaksi dari luar negeri datang cukup cepat. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut tindakan Trump sebagai "tidak pantas dan provokatif", sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengutuknya sebagai bentuk pelecehan terhadap simbol agama. Namun, tekanan yang lebih serius justru datang dari dalam negeri Amerika Serikat sendiri.

Di Capitol Hill, kekhawatiran mulai mengkristal bukan hanya pada kebijakan luar negerinya yang dianggap agresif, tetapi juga pada kondisi personal sang presiden. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Jamie Raskin, secara terbuka menyuarakan keprihatinan mendalam mengenai kesehatan mental Trump. Raskin, yang kini mendorong proses pemakzulan, berargumen bahwa ada tanda-tanda penurunan kapasitas kognitif yang dapat membahayakan stabilitas dan keamanan nasional.

Kekhawatiran ini semakin mengemuka mengingat kebijakan Trump terhadap Iran baru-baru ini telah memicu eskalasi konflik bersenjata. Banyak analis kebijakan luar negeri menyoroti bahwa keputusan-keputusan strategis di masa seperti ini memerlukan ketenangan dan pertimbangan matang, bukan retorika yang memanas dan tindakan simbolis yang penuh risiko.

Insiden ini, dilihat dari kacamata politik dalam negeri AS, berpotensi menjadi titik balik. Ia tidak lagi sekadar tentang kontroversi media sosial biasa, tetapi telah menyentuh isu fundamental tentang kewarasan dan kelayakan seorang presiden yang memegang kendali atas arsenal nuklir terbesar di dunia. Perdebatan yang awalnya berkisar pada etika dan diplomatik, kini telah merambah ke ranah ketatanegaraan yang paling serius.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar