PARADAPOS.COM - Harga minyak dunia terkoreksi tajam pada akhir pekan ini, menyusul dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur laut vital yang mengangkut seperlima pasokan minyak global. Normalisasi arus perdagangan ini terjadi setelah Iran mengumumkan pembukaan penuh selat tersebut seiring gencatan senjata di Lebanon, meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak melampaui level psikologis US$100 per barel.
Berdasarkan pantauan Trading View pada Sabtu (18/4) siang WIB, harga minyak acuan Brent tercatat anjlok 5,90 persen ke posisi US$92,41 per barel. Penurunan ini menandai pergeseran sentimen pasar yang cukup signifikan, setelah beberapa hari sebelumnya harga sempat meroket akibat kekhawatiran atas penutupan selat strategis itu.
Iran Buka Kembali Jalur Vital
Keputusan untuk membuka kembali Selat Hormuz disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Melalui akun media sosialnya, pejabat tinggi itu mengonfirmasi bahwa jalur pelayaran kini terbuka untuk semua kapal komersial selama masa gencatan senjata berlaku.
Dia menegaskan, pelayaran harus melalui rute yang telah dikoordinasikan dan diumumkan oleh otoritas maritim setempat. "Seiring dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya dibuka untuk sisa masa gencatan senjata, melalui rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran," tulis Arghchi dalam pernyataannya pada Jumat (17/4/2026).
Respons Positif dari Pemerintah Indonesia
Pembukaan kembali arteri minyak global ini disambut baik oleh pemerintah Indonesia, yang melihatnya sebagai sinyal meredanya ketegangan di kawasan. Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyatakan langkah Iran memberikan dampak positif tidak hanya bagi stabilitas energi global, tetapi juga bagi ketahanan energi nasional.
Anggia mengungkapkan, pemerintah telah mempersiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi gejolak pasokan, termasuk dengan memperkuat stok dan diversifikasi sumber energi. "Pemerintah memastikan bahwa ketahanan energi nasional tetap terjaga selama periode ketidakpastian kemarin. Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, tekanan terhadap rantai pasok global mulai mereda, termasuk terhadap pergerakan harga minyak dunia yang menunjukkan tren penurisan," jelasnya.
Dampak pada Pasar Saham dan Proyeksi Analis
Gejolak harga minyak global beberapa hari terakhir langsung berimbas pada perdagangan saham sektor migas di Bursa Efek Indonesia. Emiten seperti Medco Energi Internasional (MEDC) dan Energi Mega Persada (ENRG) sempat mengalami penguatan, sebelum akhirnya ikut melandai seiring penurunan harga acuan.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis, sebelumnya telah memetakan tiga skenario harga minyak berdasarkan tingkat gangguan di Selat Hormuz. Mulai dari kenaikan moderat ke kisaran US$80-US$90 per barel, hingga lonjakan ekstrem ke level US$110-US$135 per barel jika gangguan berlangsung berkepanjangan.
Mereka berpendapat, meski arus perdagangan mulai normal, skenario gangguan moderat masih menjadi asumsi dasar. "Meskipun perkembangan terbaru menunjukkan peningkatan arus melalui Selat Hormuz, kami tetap melihat gangguan moderat sebagai skenario dasar kami," tulis tim analis dalam risetnya. Atas dasar itu, mereka memperkirakan sektor hulu migas masih berpotensi menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam tiga bulan ke depan.
Di pasar saham, pergerakan harga kedua emiten migas mencerminkan koreksi harian meski secara tahunan masih mencatatkan keuntungan. Pada perdagangan Jumat (17/4), saham ENRG ditutup melemah 0,28 persen di Rp1.780, sementara MEDC turun 0,58 persen ke Rp1.700 per saham.
Artikel Terkait
Prajurit Kopassus Bertahan Hidup 18 Hari Tersesat di Hutan Papua
Kebakaran di Grogol Petamburan Tewaskan Lima Anggota Keluarga, Diduga Akibat Korsleting
Helikopter Perkebunan Jatuh di Kalimantan Barat, Delapan Orang Tewas
Komnas HAM Kecam Operasi Militer di Papua yang Tewaskan Warga Sipil