Remaja Sragen Kembali Bersekolah Setelah Bertahun Bantu Keluarga di Bengkel

- Minggu, 19 April 2026 | 20:50 WIB
Remaja Sragen Kembali Bersekolah Setelah Bertahun Bantu Keluarga di Bengkel

PARADAPOS.COM - Seorang remaja asal Sragen, Jawa Tengah, akhirnya bisa kembali mengejar cita-citanya setelah bertahun-tahun terpaksa putus sekolah. Hendi Saputro (16), yang sejak lulus SD harus bekerja di bengkel untuk menopang keluarga akibat ayahnya sakit stroke, kini kembali berseragam berkat program Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen. Kisahnya mengungkap perjuangan hidup yang berat di usia belia dan secercah harapan yang datang dari akses pendidikan gratis yang komprehensif.

Perjuangan Hidup Sejak Usia Dini

Dunia Hendi berubah drastis tujuh tahun lalu, saat ia masih berusia sembilan tahun. Kepergian ibunya meninggalkan luka, sementara kondisi ayahnya yang terserang stroke membuat sandaran ekonomi keluarga runtuh seketika. Di desa Plosorejo, Kecamatan Kedawung, hidup harus terus berjalan di tengah keterbatasan yang sangat nyata. Sang nenek memungut sisa-sisa karet untuk dijual, sementara kakeknya bekerja sebagai juru kunci makam. Dalam situasi serba sulit itu, mimpi Hendi untuk melanjutkan ke jenjang SMP pun pupus.

“Dulu lulus SD, saya mau lanjut SMP gak bisa karena bapak saya stroke, (beliau) gak bisa menafkahi,” tutur Hendi, mengenang masa-masa sulit itu.

Mengais Rupiah dari Bengkel

Alih-alih menenteng buku pelajaran, tangan Hendi remaja lebih akrab dengan peralatan bengkel. Pilihan itu bukanlah keinginan, melainkan sebuah keharusan. Upahnya yang berkisar Rp150.000 per pekan menjadi tulang punggung untuk kebutuhan makan sehari-hari dan uang saku adiknya. Setiap hari di bengkel bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga seolah mengikis harapan untuk suatu saat bisa kembali ke bangku sekolah. Masa depan terasa suram dan penuh ketidakpastian.

Titik Balik di Sekolah Rakyat

Namun, angin perubahan berhembus ketika ia diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen. Program ini tidak sekadar membuka pintu kelas, tetapi secara nyata mengangkat beban hidup yang selama ini ia pikul. Kembali mengenakan seragam, Hendi merasakan sebuah transformasi yang mendalam. Fasilitas lengkap disediakan secara cuma-cuma, membebaskannya dari segala biaya yang dulu menjadi penghalang terbesar.

“Banyak banget (fasilitasnya) disini lengkap semua. Dari tas dikasih, laptop dikasih, fasilitas untuk belajar juga dikasih. Gratis semua,” ujarnya dengan nada bersyukur.

Lebih dari itu, kebutuhan pokoknya terjamin. Ia kini bisa makan tiga kali sehari ditambah dua kali snack—sebuah kemewahan yang sering tak ia rasakan sebelumnya. Sekolah ini telah menjadi lebih dari sekadar tempat belajar; ia menjadi fondasi baru untuk membangun kembali mimpi yang tertunda.

Mimpi Baru dan Harapan ke Depan

Dengan dukungan yang ia terima, semangat Hendi kembali menyala. Cita-citanya kini tertuju jauh ke negeri sakura. Ia bercita-cita untuk dapat bekerja di Jepang, sebuah impian yang kini terasa lebih realistis untuk diraih. Rasa syukur yang mendalam ia sampaikan kepada para penggagas program yang telah mengubah jalan hidupnya.

“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo karena telah memberikan program sekolah rakyat. Dengan sekolah ini, saya semoga bisa menggapai cita-cita saya,” ungkap Hendi. Ia juga turut mendoakan kesehatan presiden yang telah menginisiasi program tersebut.

Simbol Harapan bagi Banyak Anak

Kisah Hendi Saputro bukan sekadar narasi personal tentang ketangguhan. Ia merupakan potret nyata dan menyentuh tentang bagaimana sebuah kebijakan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan dapat menyentuh langsung akar persoalan. Dari bengkel yang penuh peluh, langkahnya kini terarah lebih pasti di koridor sekolah. Perjalanannya dari putus sekolah hingga kembali bersemangat belajar menjadi pengingat kuat tentang arti penting memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang terpinggirkan oleh keadaan. Masa depannya, yang dulu terasa gelap, kini mulai diterangi oleh cahaya ilmu pengetahuan dan kepedulian.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar