PARADAPOS.COM - Sektor industri global menyumbang sekitar 24% emisi dan 30% konsumsi energi dunia, menjadikan dekarbonisasi sebagai tantangan sekaligus keharusan strategis. Dalam sebuah forum diskusi, para ahli dan pelaku industri mengungkap bahwa transisi menuju industri rendah karbon di Indonesia masih berada pada tahap awal, meski manfaatnya—mulai dari efisiensi biaya hingga peningkatan daya saing—sudah sangat jelas. Kesiapan teknologi dan finansial dinilai sudah tersedia, namun implementasinya masih terbentur pada keterbatasan sumber daya manusia ahli dan komitmen tata kelola perusahaan.
Dua Sisi Manfaat Dekarbonisasi
Advisor GIZ Indonesia dan ASEAN, Putra Jaka Kelana, memaparkan bahwa mayoritas emisi industri, sekitar 70%, bersumber dari penggunaan energi. Menurutnya, upaya dekarbonisasi membawa manfaat ganda. Secara eksternal, langkah ini berkontribusi pada pengurangan dampak perubahan iklim, mendukung target nasional, dan mendorong inovasi teknologi hijau.
“Sumber emisi industri mayoritas berasal dari penggunaan energi yakni sekitar 70% dan sisanya berasal dari proses industri,” ungkapnya.
Sementara dari sisi internal, perusahaan dapat menikmati peningkatan efisiensi operasional, penurunan biaya, serta daya tarik yang lebih besar di mata investor yang berorientasi pada pembiayaan berkelanjutan. Dekarbonisasi juga dinilai mampu memperkuat ketahanan perusahaan terhadap dinamika kebijakan dan regulasi lingkungan yang semakin ketat.
Tantangan Implementasi di Lapangan
Meski jalannya sudah terlihat, perjalanan menuju industri hijau di Indonesia masih menemui sejumlah rintangan. Jaka Kelana mengamati bahwa kesiapan sektor industri masih berada di fase awal transisi. Ketersediaan teknologi rendah karbon di pasar Indonesia sebenarnya sudah ada, tetapi adopsinya belum meluas.
Demikian halnya dengan skema keuangan hijau; meski produknya telah tersedia, implementasinya di lapangan masih sangat minim. Tantangan lain yang cukup krusial adalah keterbatasan sumber daya manusia yang mumpuni di bidang-bidang spesifik seperti manajemen karbon, manajemen energi, dan ahli ESG (Environmental, Social, and Governance).
“Dari tata Kelola perusahaan, belum semua menjadikan dekarbonisasi sebagai strategi inti bisnis, dan masih banyak yang bersifat compliance driven [ESG reporting]. Kalau dari sisi audit energi, saya melihat implementasi audit ini belum merata, saat ini didominasi perusahaan multinasional besar,” jelasnya.
Kolaborasi Kunci Percepatan
Untuk mendorong aksi yang lebih masif, kolaborasi multipihak dinilai sebagai kunci. Jaka Kelana menawarkan beberapa model, seperti kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan media. Model kemitraan swasta-publik serta kerja sama dengan lembaga pembangunan internasional juga dapat menjadi pengungkit yang efektif untuk berbagi pengetahuan, teknologi, dan sumber pendanaan.
Pelajaran dari Pelaku Industri
Praktik baik ternyata sudah mulai berjalan, seperti yang ditunjukkan oleh PT Pan Brothers Tbk. Wakil Presiden Direktur perusahaan garmen tersebut, Anne Patricia Sutanto, menyatakan bahwa mereka telah memulai inisiatif ramah lingkungan sejak 2013, lebih dini dari kesepakatan global Perjanjian Paris 2015.
“Kami di Pan Brothers itu fokus kepada, tidak hanya pada dekarbonisasi ya, tetapi lebih kepada ESG [environmental, social, and governance] karena kami melihat bahwa sebelum pandemi industri kita [garmen] atau tepatnya ekosistem sandang kita ini adalah yang menyebabkan polusi terbesar kedua di dunia,” tuturnya.
Langkah ini, menurut Anne, didorong oleh kesadaran untuk menjaga keberlanjutan industri dengan menekan emisi dan polusi, menunjukkan bahwa komitmen dari level pimpinan perusahaan sangat vital.
Peran Strategis Manajer Energi
Dalam operasional sehari-hari, peran manajer energi menjadi semakin sentral. Anies Septiana, Energy Manager di Adis Dimension Footwear, mengamati bahwa peran ini telah berevolusi dari sekadar tugas teknis menjadi posisi strategis.
“Kita lihat bagaimana seorang manajer energi bisa memberikan saran-saran strategis kepada manajemen karena sehari-hari tim energi inilah yang berhadapan dengan situasi harga energi, ketersediaan sumber energi dan sebagainya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa audit energi adalah langkah fundamental yang tidak bisa diabaikan. Proses audit memberikan peta yang jelas mengenai posisi efisiensi dan tingkat emisi perusahaan, yang menjadi dasar penyusunan strategi dekarbonisasi yang tepat sasaran.
“Kalau kami tidak melakukan audit energi, kami tidak tahu kami sekarang posisinya ada di mana, apakah memang sistem kami sudah efisien, apakah memang secara penggunaan energinya, emisinya itu memang sudah di bawah rata-rata, di atas rata-rata, atau rata-rata gitu. Dari audit energi-lah hal-hal itu diketahui,” tambahnya.
Diskusi ini menggarisbawahi bahwa transisi energi di sektor industri bukan lagi sekadar wacana, tetapi sebuah kebutuhan operasional dan strategis. Keberhasilannya bergantung pada sinergi antara regulasi yang mendukung, kepemimpinan berwawasan keberlanjutan di tingkat perusahaan, ketersediaan SDM ahli, dan kolaborasi semua pemangku kepentingan.
Artikel Terkait
70 Unit Hunian Tetap Korban Bencana Tapanuli Utara Ditargetkan Rampung Mei 2026
Program Makan Bergizi Gratis Pacu Stabilitas Harga Sayuran di Boyolali
Gempa M 7,4 Guncang Iwate Jepang, KBRI Tokyo Pantau Kondisi WNI
KLHK Perketat Penegakan Hukum Pasca-Longsor Tewaskan 7 Orang di TPST Bantargebang