PARADAPOS.COM - Ketegangan militer kembali memuncak di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak global, setelah pasukan elite Garda Revolusi Iran (IRGC) menembaki setidaknya dua kapal dagang. Insiden yang terjadi di dekat perairan Oman ini memicu kekacauan lalu lintas maritim dan memaksa beberapa kapal untuk berbalik arah. Meski seluruh awak dilaporkan selamat, aksi ini memperuncing ketegangan antara Teheran dan Washington, dengan Iran secara terbuka mengancam akan menutup total selat tersebut sebagai balasan atas blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat.
Insiden Penembakan dan Dampak Langsung
Suasana mencekam langsung menyelimuti Selat Hormuz menyusul laporan penembakan terhadap kapal dagang. Aksi militer yang terjadi pada akhir pekan itu bukan hanya mengancam keselamatan pelayaran, tetapi juga secara instan mengganggu arus perdagangan di salah satu jalur laut paling sensitif di dunia. Selat sempit ini merupakan urat nadi energi global, di mana sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia setiap hari melintas. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini selalu menjadi perhatian serius pasar internasional, berpotensi memicu gejolak harga dan ketidakpastian pasokan.
Respons Iran dan Ancaman Penutupan Selat
Langkah ofensif Iran ini tidak muncul secara tiba-tiba. Pemerintah di Teheran menyatakan tindakan mereka sebagai respons langsung terhadap tekanan dan blokade maritim yang dijalankan oleh Amerika Serikat. Sebagai bentuk perlawanan, Iran secara gamblang mengeluarkan peringatan keras: setiap kapal yang berusaha melintas tanpa izin bisa menjadi sasaran operasi militer mereka. Ancaman untuk menutup total Selat Hormuz merupakan senjata strategis yang kerap diangkat Iran, mengingat dampak ekonomi global yang sangat besar jika ancaman itu benar-benar diwujudkan.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa pembatasan ketat di selat itu akan terus diberlakukan. Pembukaan terbatas yang sempat dilakukan pada Jumat lalu, langsung dicabut keesokan harinya, Sabtu (18/4/2025), menunjukkan dinamika situasi yang sangat fluktuatif dan bergantung pada perkembangan ketegangan dengan AS.
Pernyataan Resmi dan Syarat Damai
Pihak berwenang Iran secara resmi mengaitkan kebijakan mereka di Selat Hormuz dengan perang yang lebih luas melawan Amerika Serikat. Mereka menyatakan bahwa pengawasan ketat akan terus dilakukan hingga konflik dengan AS benar-benar berakhir dan tercapai suatu perdamaian yang abadi. Lebih lanjut, blokade AS terhadap kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Iran sedang dipertimbangkan sebagai sebuah pelanggaran terhadap rezim gencatan senjata yang mungkin berlaku.
Dalam pernyataan resminya yang dilaporkan oleh kantor berita Tasnim pada Minggu (19/4/2026), Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyampaikan posisi mereka dengan tegas. "Selama Amerika Serikat menghalangi lalu lintas kapal, menggunakan metode seperti blokade maritim, Iran akan menganggap ini sebagai pelanggaran rezim gencatan senjata dan juga akan menghambat pembukaan kembali Selat Hormuz secara terbatas," bunyi pernyataan tersebut.
Dengan situasi yang masih berkembang, dunia internasional terus memantau dengan cermat setiap pergerakan di kawasan itu. Stabilitas Selat Hormuz bukan hanya persoalan regional, tetapi telah lama menjadi barometer ketegangan geopolitik dan keamanan energi global.
Artikel Terkait
AS Sita Kapal Iran di Selat Hormuz, Iran Kecam Pelanggaran Gencatan Senjata
Iran Ancam Balas Penyitaan Kapal oleh AS di Laut Arab
AS Sita Kapal Kargo Iran di Teluk Oman Usai Pemblokadean Selat Hormuz
Dua Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Teluk Arab, Pemerintah Pacu Upaya Diplomasi