Petani Kopi Lereng Dempo Beralih ke Metode Ramah Lingkungan, Harga Jual Meningkat

- Jumat, 24 April 2026 | 04:25 WIB
Petani Kopi Lereng Dempo Beralih ke Metode Ramah Lingkungan, Harga Jual Meningkat
PARADAPOS.COM - PALEMBANG — Di kaki Gunung Dempo, tepatnya di Desa Tebat Benawa, para petani kopi mulai mengubah pendekatan bertani mereka. Alih-alih mengejar kuantitas panen sebanyak mungkin, mereka kini berfokus pada kualitas. Perubahan ini, yang didorong oleh Program Kopi Tebat Benawa dari PT Pusri Palembang, mulai terlihat nyata pada harga jual kopi di tingkat petani. Program ini mengintegrasikan praktik ramah lingkungan, panen selektif (petik merah), pengolahan pascapanen yang lebih ketat, penguatan kelembagaan kelompok tani, serta pengolahan limbah kulit kopi menjadi kompos.

Bertani di Bawah Naungan Pohon Pelindung

Salah satu perubahan paling mendasar terlihat di pola tanam. Kopi tidak lagi ditanam secara monokultur. Kini, di sela-sela kebun, petani menanam pohon pelindung seperti petai, jengkol, dan aneka tanaman buah. Praktik ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan sebuah pendekatan agrikultur yang terukur. Tanaman pelindung memberikan naungan yang menjaga kelembaban tanah, mencegah erosi di lahan miring yang rawan longsor, serta secara alami menyuburkan tanah. Hasilnya, ekosistem kebun menjadi lebih seimbang dan produktif dalam jangka panjang.

Dari Petik Merah hingga Pengolahan Terkontrol

Perubahan paling signifikan dirasakan pada proses panen. Petani mulai disiplin menerapkan metode “petik merah,” yaitu hanya memetik buah kopi yang benar-benar matang sempurna. Ini adalah langkah krusial yang langsung memengaruhi cita rasa akhir biji kopi. Tidak berhenti di situ, perbaikan juga dilakukan pada tahap pascapanen. Proses pengolahan, mulai dari fermentasi hingga pengeringan, dibuat lebih rapi dan terkontrol. Standarisasi ini menghasilkan profil rasa yang lebih konsisten dan memperkuat karakteristik khas kopi dari lereng Dempo.

Kekuatan Baru Lewat Kelompok Tani

Dulu, petani sering kali berjalan sendiri-sendiri, yang membuat posisi tawar mereka lemah di hadapan tengkulak. Kini, mereka mulai terhimpun dalam kelompok tani. Kekuatan kolektif ini mengubah dinamika pasar. “Rantai distribusi yang sebelumnya panjang perlahan dipangkas,” tulis laporan tersebut, memberi ruang bagi petani untuk mendapatkan harga yang lebih layak. Dengan bersatu, mereka memiliki suara yang lebih kuat dalam menentukan harga jual.

Limbah Jadi Berkah: Kulit Kopi untuk Kompos

Pendekatan terhadap limbah pun berubah drastis. Kulit kopi yang dulu dianggap sebagai sisa produksi dan dibuang begitu saja, kini diolah menjadi kompos. Pupuk organik ini kemudian dikembalikan ke kebun untuk menyuburkan tanah. Praktik ini memiliki dua keuntungan sekaligus: mengurangi volume limbah pertanian dan menekan biaya produksi petani untuk pembelian pupuk kimia. Ini adalah contoh nyata ekonomi sirkular di tingkat desa.

Visi Keberlanjutan dari Pusri

VP TJSL Pusri, Rahmawati, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk dampak jangka panjang, bukan sekadar proyek sesaat. “Program Kopi Tebat Benawa ini kami dorong sebagai salah satu program unggulan TJSL karena manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Kami berharap program ini bisa terus berkelanjutan serta memberi dampak jangka panjang dari sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujarnya, dikutip Jumat (24/4/2026). Ia menambahkan, “Ke depannya, Program Kopi Tebat Benawa diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan pertanian berkelanjutan di daerah lain.”

Pijakan pada Tradisi, Sentuhan Teknologi

Di balik semua perubahan ini, masyarakat Tebat Benawa tetap berpijak pada kebiasaan lama mereka: menjaga hutan dan alam sekitar. Kearifan lokal ini menjadi fondasi yang kokoh. Yang membedakan sekarang adalah adanya tambahan pengetahuan teknis dan teknologi tepat guna. Perpaduan antara tradisi dan inovasi inilah yang membuat hasil panen kopi mereka tidak hanya lebih baik, tetapi juga lebih bernilai di pasar. Dari lereng Gunung Dempo, secangkir kopi kini tidak hanya bercerita tentang rasa, tetapi juga tentang bagaimana cara bertani yang lebih cerdas dan berkelanjutan mampu mengangkat kesejahteraan petani.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar