3.000 Kontainer Iran Tertahan di Karachi, Iran Siapkan Jalur Darat 900 Km ke Pakistan

- Jumat, 24 April 2026 | 12:50 WIB
3.000 Kontainer Iran Tertahan di Karachi, Iran Siapkan Jalur Darat 900 Km ke Pakistan

PARADAPOS.COM - Tiga ribu kontainer kargo Iran tertahan di Pelabuhan Karachi, Pakistan, di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz akibat blokade Angkatan Laut Amerika Serikat yang mulai diberlakukan sejak 13 April. Sebagai respons, Teheran kini menjajaki rute darat alternatif sepanjang 900 kilometer melalui perbatasan Pakistan-Iran untuk menyelamatkan logistik yang terdampar, sementara analis memperingatkan bahwa tekanan ekonomi ini bisa lebih mematikan daripada kekuatan militer langsung. Dokumen internal yang bocor ke Al Jazeera mengungkap pembicaraan intensif antara pemimpin industri Pakistan dan pejabat pemerintah Iran, menyusul ketidakpastian operasional di jalur logistik vital yang menjadi pusat konfrontasi ekonomi global tersebut.

Di lapangan, situasi ini bukan sekadar gangguan logistik biasa. Pelabuhan Karachi, yang biasanya menjadi simpul perdagangan sibuk, kini dipenuhi kontainer yang tak bisa dikirim. Para pengusaha pelayaran di sana mulai gelisah. Mereka menyaksikan bagaimana rantai pasok yang selama ini berjalan mulus tiba-tiba tersendat, dan tidak ada yang bisa memastikan kapan jalur laut akan kembali normal.

Tekanan Ekonomi dari Washington

Disrupsi ini merupakan bagian dari strategi tekanan sistematis yang dijalankan di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Para pengamat menilai langkah ini bukan semata upaya menghentikan perdagangan, melainkan instrumen untuk mengendalikan penuh napas ekonomi Iran.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menulis dengan nada percaya diri. "Iran sedang runtuh secara finansial. Mereka ingin Selat Hormuz segera dibuka—mereka sangat membutuhkan uang tunai!" tulisnya.

Sejak 13 April, blokade angkatan laut AS secara efektif menghentikan pelayaran kapal-kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran. Dampaknya tidak hanya memukul ekspor energi, tetapi juga memutus akses Iran terhadap barang-barang impor esensial, mulai dari bahan bakar olahan hingga biji-bijian.

Javed Hassan, penasihat di Centre for Research and Security Studies (CRSS) Islamabad, memberikan perspektif yang lebih dalam. Menurutnya, kendali ekonomi semacam ini bisa lebih mematikan daripada kekuatan militer langsung.

"Pendapatan ekspor, yang merupakan jalur fiskal negara, akan terkontraksi tajam. Meskipun Iran telah meningkatkan kapasitas pertanian domestik, ketahanan pangan mereka masih bergantung sebagian pada impor dan devisa," ujar Hassan kepada Al Jazeera.

Navigasi di Jalur yang Tercekik

Meskipun Selat Hormuz secara resmi tidak ditutup sepenuhnya, Iran menerapkan sistem akses yang sangat selektif. Teheran mengizinkan kapal dari negara mitra seperti Pakistan dan Irak untuk melintas, namun kapal yang terafiliasi dengan Amerika Serikat atau Israel ditolak mentah-mentah. Sistem ini menciptakan ketidakpastian yang membuat para pengusaha pelayaran enggan mengambil risiko.

Laporan dari Lloyd's List menyebutkan bahwa beberapa kapal bahkan harus membayar biaya transit hingga US$2 juta—setara sekitar Rp31 miliar—dalam bentuk Yuan atau mata uang kripto. Tujuannya jelas: menghindari sistem pelacakan Dollar AS yang bisa memicu sanksi lebih lanjut. Hamidreza Haji-Babaei, Wakil Ketua Parlemen Iran, mengonfirmasi bahwa pendapatan dari pungutan kapal di Hormuz telah mulai masuk ke Bank Sentral Iran.

Namun, bagi kargo non-migas, risikonya terlalu besar untuk diambil. Mohammed Rajpar, Ketua Asosiasi Agen Kapal Pakistan, mencatat lonjakan premi asuransi risiko perang yang drastis. Dari yang biasanya hanya 0,12 persen, kini melonjak menjadi 5 persen dari nilai kapal.

"Untuk kapal pengangkut minyak mentah senilai US$100 juta, itu berarti premi sebesar US$5 juta untuk satu kali transit," kata Rajpar. Bagi kapal kontainer dengan margin keuntungan yang tipis, angka ini jelas tidak masuk akal secara bisnis. Para pengusaha lebih memilih menahan kargo mereka di pelabuhan daripada mengambil risiko finansial yang begitu besar.

Ketahanan dalam Krisis

Di tengah kebuntuan maritim ini, rencana jalur darat sepanjang 900 kilometer melintasi perbatasan Pakistan-Iran menjadi opsi yang paling rasional. Truk-truk Pakistan direncanakan akan mengangkut kargo hingga perbatasan, sebelum kemudian dipindahkan ke transportasi Iran untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.

Mantan Duta Besar Pakistan, Jamil Ahmed Khan, memperingatkan bahwa ketergantungan Iran pada impor bahan bakar olahan dan biji-bijian membuat negara itu sangat rentan terhadap inflasi dan gejolak publik jika blokade ini bertahan lama. Namun, ia juga mengakui bahwa Iran bukanlah negara yang mudah tumbang.

Kendati demikian, Javed Hassan mengingatkan agar dunia tidak meremehkan "arsitektur ketahanan" yang telah dibangun Iran selama puluhan tahun di bawah sanksi. Iran diperkirakan memiliki cadangan 170 juta barel minyak di kapal tanker yang sudah berada di laut lepas, siap menopang pendapatan untuk beberapa bulan ke depan. Cadangan ini memberi mereka ruang bernapas yang tidak dimiliki banyak negara lain.

"Dalam konflik seperti ini, pihak yang bertahan paling lama adalah pemenangnya," pungkas Hassan, mengutip filosofi ketahanan Ho Chi Minh. "Logika itu yang kini digunakan Teheran."

Di Pelabuhan Karachi, para pekerja bongkar muat masih sibuk, namun dengan ritme yang berbeda. Mereka menunggu kepastian yang tak kunjung datang, sementara tiga ribu kontainer terus menumpuk di bawah terik matahari. Jalur darat mungkin menjadi solusi sementara, tapi semua orang tahu: ini hanyalah permainan menunggu siapa yang lebih dulu kehabisan napas.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini