PARADAPOS.COM - Volume transaksi perdagangan emas digital di Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) mencapai 66.372.367 gram sepanjang semester pertama tahun 2026. Angka ini melonjak 338 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 15.149.074 gram. Dari sisi nilai, transaksi emas digital di ICDX menembus Rp172,7 triliun pada semester I-2026, atau melesat 601 persen secara tahunan dari Rp24,6 triliun pada semester I-2025.
Literasi dan Volatilitas Harga Jadi Pendorong Utama
Ketua Persatuan Pedagang Emas Digital Indonesia (PPEDI), Anang Samsudin, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini tidak lepas dari meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap instrumen investasi berbasis emas digital. Faktor lain yang turut mendorong adalah tingginya fluktuasi harga emas yang membuat investor mulai melirik diversifikasi aset.
"Pertumbuhan transaksi emas digital pada semester I-2026 didorong oleh beberapa faktor, di antaranya semakin tingginya literasi masyarakat mengenai emas digital serta volatilitas harga emas yang cukup tinggi. Emas digital menjadi salah satu pilihan investor untuk melakukan diversifikasi aset maupun sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang," kata Anang dalam keterangan tertulis, Senin, 27 Juli 2026.
Menurut Anang, pihaknya terus berupaya memperluas pasar emas digital dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan. Ia menegaskan, perlindungan dan keamanan nasabah tetap menjadi prioritas utama. PPEDI secara aktif berkoordinasi dengan sejumlah lembaga untuk memastikan keamanan transaksi, termasuk menjamin ketersediaan aset emas fisik dengan rasio 1:1 sebagai underlying asset atas kepemilikan emas digital investor.
ICDX Catat Enam Pedagang Emas Digital Terdaftar
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama ICDX, Nursalam, menilai pertumbuhan transaksi ini mencerminkan tingginya minat masyarakat menjadikan emas digital sebagai instrumen investasi andalan. Ia menekankan komitmen bursa dalam menjaga transparansi dan independensi perdagangan.
"Sebagai bursa, ICDX akan terus menjaga independensi dan transparansi perdagangan, serta memperkuat literasi dan edukasi secara berkelanjutan bersama regulator maupun pedagang emas digital," ujar Nursalam.
Saat ini, terdapat enam pedagang emas digital yang tercatat sebagai anggota Bursa ICDX. Mereka adalah PT Indogold Makmur Sejahtera (Indogold), PT Indonesia Logam Pratama (Treasury), PT Laku Emas Indonesia (Laku Emas), PT Syariah Koin Indonesia (ShariaCoin), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk melalui Brankas LM, dan PT Pluang Emas Sejahtera (Pluang).
Nursalam menambahkan, ICDX juga telah bergabung dalam Indonesia Bullion Market Association (IBMA). Asosiasi ini dibentuk oleh para pelaku industri bullion untuk mendorong pengembangan pasar yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan. Fokus utama IBMA meliputi kolaborasi, standardisasi, edukasi, serta penguatan ekosistem industri secara menyeluruh.
Selain ICDX, anggota IBMA terdiri dari PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), PT Amman Mineral Internasional Tbk, PT Untung Bersama Sejahtera, PT Laku Emas Indonesia, PT Brinks Solutions Indonesia, PT Central Mega Kencana, PT Hartadinata Abadi Tbk, PT Pegadaian Galeri Dua Empat (Galeri 24), dan PT Sentral Kreasi Kencana.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pengunduran Diri Gubernur BI Dinilai Berpotensi Ganggu Sentimen Pasar, Ekonom Minta Konsistensi Kebijakan
Malam Budaya Indonesia di Bogota Jadi Ajang Seleksi Miss World Colombia
Garis Polisi Masih Terpasang di Klinik Mordent Empat Hari Usai Karumga Eks Jampidsus Tewas
Penembakan Massal di Seattle Center Saat Festival Kuliner, Dua Tewas dan Balita Terluka