PARADAPOS.COM - Di pabrik berkapasitas 24 ribu ton per tahun di Cikarang, Jawa Barat, PepsiCo memproduksi camilan populer seperti Lay’s, Cheetos, dan Doritos. Namun, di balik produksi besar itu, ada tantangan yang tak kalah besar: kebutuhan air yang sangat tinggi. Perusahaan ini tengah mengejar target ambisius untuk mencapai status Net Water Positive pada 2030. Artinya, jumlah air yang dipulihkan ke lingkungan harus lebih banyak daripada yang digunakan dalam proses produksi.
Memanfaatkan Air Daur Ulang untuk Mencuci Kentang
Chief Sustainability Officer PepsiCo Global, Jim Andrew, mengungkapkan bahwa salah satu strategi utama perusahaan adalah menggunakan air daur ulang. Untuk mewujudkannya, PepsiCo menggandeng perusahaan air minum lokal.
“Kami menggunakan air tersebut untuk keperluan seperti mencuci kentang, jadi kami menggunakan air daur ulang,” kata Jim dalam wawancara di Jakarta, Jumat (24/4).
Ia kemudian menjelaskan bahwa air daur ulang bukanlah air kotor. Air tersebut diperoleh dari proses pengolahan air bekas pakai hingga memenuhi baku mutu tertentu, sehingga aman dan layak digunakan kembali. Di luar upaya daur ulang, perusahaan juga terus berusaha meminimalkan pemakaian air sebisa mungkin.
Apa Itu Net Water Positive?
Secara sederhana, Net Water Positive adalah kondisi ketika volume air yang digunakan dalam operasional perusahaan lebih kecil dibandingkan jumlah air yang berhasil dipulihkan dan dikembalikan ke daerah sumber air, atau yang dikenal dengan istilah watershed. Target ini menjadi komitmen global PepsiCo.
Reforestasi di Sukabumi sebagai Bagian dari Solusi
Di Indonesia, PepsiCo telah menjalankan program pemulihan sumber daya air. Jim Andrew menuturkan, perusahaan memiliki proyek reforestasi di Sukabumi.
“Kami memiliki proyek reforestasi, pemulihan air di Sukabumi, di mana kami menanam kembali tujuh ribu bibit di lahan seluas 30 hektare,” ujarnya.
Langkah ini tidak hanya membantu menjaga ketersediaan air, tetapi juga berkontribusi pada pemulihan ekosistem di daerah tangkapan air.
Tekanan Besar pada Sumber Daya Air Tawar
Menurut Institution of Chemical Engineer (IChemE) dalam green paper berjudul ‘Water Management in the Food and Drink Industry’, populasi dunia yang diperkirakan melampaui 9 miliar jiwa pada 2050 akan memberi tekanan luar biasa pada sumber daya air tawar. Produksi pangan menjadi sektor yang paling bergantung pada air.
Sekitar 70 persen air tawar digunakan untuk sektor pertanian, 20 persen untuk industri produksi dan pengolahan pangan, dan hanya 10 persen tersisa untuk kebutuhan domestik seperti air minum. Angka ini menunjukkan betapa krusialnya peran industri pangan dalam menjaga keseimbangan penggunaan air.
Inovasi untuk Masa Depan
Di Amerika Serikat, ahli bidang studi makanan dan minuman, Herb Erickson, mencatat bahwa pabrik makanan dan minuman di AS mengonsumsi sekitar 4,8 miliar galon air per hari pada 2015. Dengan pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, dan meningkatnya kebutuhan sosial-ekonomi, inovasi dalam pengelolaan air menjadi mutlak diperlukan. Tanpa langkah konkret, tekanan terhadap sumber daya air tawar akan semakin dalam.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Gunung Semeru Erupsi Jumat Malam, Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 Kilometer
Wakil Ketua Komisi I DPR Desak Evaluasi Perlindungan Pasukan UNIFIL Usai Prajurit TNI Gugur di Lebanon
Pemkot Palembang Raih Penghargaan Nasional untuk Transformasi Infrastruktur dan Konektivitas Terintegrasi
Program Makan Bergizi Gratis di SMAN 1 Tangerang Dinilai Tingkatkan Fokus dan Energi Belajar Siswa