PARADAPOS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kaur, Bengkulu, telah menggerakkan ekonomi nelayan setempat. Selama tujuh bulan terakhir, sekitar 1,5 ton daging tuna dan marlin setiap bulan terserap untuk memenuhi kebutuhan ribuan siswa di dua dapur MBG di Kecamatan Kaur Selatan dan Tanjung Kemuning. Program ini tidak hanya menyediakan makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi keluarga nelayan, dengan perputaran ekonomi mencapai Rp90 juta per bulan.
Dampak Ekonomi yang Nyata
Kelompok Koperasi Nelayan Fajar Kaur Nusantara menjadi pemasok utama ikan untuk program ini. Sebelumnya, ikan tuna sering terbuang saat hasil tangkapan melimpah karena minimnya pembeli. Kini, permintaan justru meningkat drastis.
Fatmawati, seorang istri nelayan, merasakan langsung perubahan ini. Ia kini mendapatkan penghasilan tambahan dari kegiatan pengolahan ikan.
“Satu kali bersihkan tuna kami diupah Rp100 ribu. Jadi seminggu kami dapat Rp200 ribu. Lumayan dibanding dulu cuma nunggu suami pulang dari laut,” ujarnya.
Ketua koperasi, Martin, mengungkapkan kondisi nelayan kini berbalik dibanding sebelumnya. Jika dulu kesulitan menjual hasil tangkapan, kini permintaan justru meningkat.
“Kami bersyukur dipercaya memasok ikan ke program MBG. Dulu kalau ikan melimpah nggak ada pembeli. Sekarang uang Rp90 juta per bulan dari MBG mengalir ke nelayan dan keluarganya,” katanya.
Saat ini, sekitar 30 nelayan dengan 11 kapal rutin melaut sejak dini hari hingga sejauh 60 mil untuk menangkap ikan. Hasil tangkapan tuna dihargai sekitar Rp60 ribu per kilogram oleh dapur MBG.
Manfaat Gizi dan Kemandirian Pangan
Penanggung jawab dapur MBG Kaur, Kasmi Harasti, mengatakan pihaknya menyediakan 6.710 porsi makanan setiap hari. Menu berbasis hasil laut disajikan rutin pada awal pekan.
“Kaur penghasil tuna kualitas ekspor. Ikan laut penting untuk anak, proteinnya tinggi. Selain itu bisa memberdayakan nelayan. Jadi kenapa tidak manfaatkan hasil laut,” ujarnya.
Ahli gizi MBG, Nur Cholila Azri, menambahkan ikan laut memiliki kandungan protein, kalsium, dan zinc yang penting untuk tumbuh kembang anak. Ia memastikan data siswa dengan alergi makanan laut telah diantisipasi.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Di sisi lain, nelayan berharap adanya dukungan infrastruktur dari pemerintah, seperti pembangunan rumpon yang lebih dekat dari bibir pantai. Selama ini, mereka masih bergantung pada rumpon milik swasta yang berjarak hingga 60 mil.
“Kalau pemerintah buat rumpon pasti sangat membantu ratusan nelayan di Kaur ini,” kata Martin.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Kaur, Riplain Suhaidi, menyebut produksi hasil laut di daerah tersebut mencapai sekitar 5,8 juta ton per tahun dengan melibatkan 3.200 nelayan. Pemerintah daerah terus mendorong pemanfaatan ikan lokal untuk mendukung ketahanan pangan.
Dengan perputaran ekonomi mencapai Rp90 juta per bulan dari program MBG, roda ekonomi nelayan di Kabupaten Kaur kini bergerak lebih cepat. Dukungan lanjutan berupa infrastruktur seperti rumpon dan fasilitas penyimpanan dingin dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan ke depan.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
BMKG Perkuat Koordinasi UPT di Kalsel dan Kalteng untuk Transformasi Layanan Cuaca Berbasis Dampak
Fajar/Joaquin Selamatkan Indonesia, Imbangi Thailand 2-2 di Piala Thomas 2026
Janji Prabowo 2014 Kini Terwujud, Program Sekolah Rakyat Beri Pendidikan dan Makan Gratis bagi Siswa Kurang Mampu
Khofifah Percepat Pembangunan Giant Sea Wall di Pantura Jatim dari 20 Tahun Jadi 15 Tahun