BMKG Perkuat Koordinasi UPT di Kalsel dan Kalteng untuk Transformasi Layanan Cuaca Berbasis Dampak

- Minggu, 26 April 2026 | 15:25 WIB
BMKG Perkuat Koordinasi UPT di Kalsel dan Kalteng untuk Transformasi Layanan Cuaca Berbasis Dampak
PARADAPOS.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah memperkuat koordinasi antar Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah sebagai bagian dari transformasi layanan informasi cuaca, iklim, dan gempa bumi. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menilai sinergi di kedua provinsi itu sudah sejalan dengan target penguatan layanan ke depan. Langkah ini diiringi dengan perubahan kebijakan menuju prakiraan berbasis dampak (impact-based forecasting) yang menyasar sektor transportasi, pertambangan, hingga pariwisata. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan tertulis pada Minggu, 26 April 2026.

Koordinasi UPT Jadi Fondasi Penguatan Layanan

Dalam kunjungannya ke wilayah Kalimantan, Faisal mengamati langsung bagaimana masing-masing UPT di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah mulai menunjukkan pola kerja yang lebih terpadu. Menurutnya, koordinasi yang kuat antar unit menjadi modal awal yang penting. “Saya melihat kedua provinsi ini memiliki koordinasi yang kuat antar UPT, ini sejalan dengan target kita ke depan,” katanya. Ia menjelaskan, transformasi organisasi tidak dilakukan secara instan. Prosesnya dimulai dari pembenahan di tingkat pusat untuk menyamakan visi, lalu berlanjut ke penguatan peran balai dan UPT di daerah. Faisal menekankan bahwa setiap keputusan strategis, termasuk penambahan atau penempatan UPT baru, harus didasari kajian yang matang. “Penambahan maupun penempatan UPT tidak bisa dilakukan serta-merta, tetapi harus melalui pertimbangan yang matang. Ke depan, rasionalisasi UPT juga diperlukan agar lebih efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Pergeseran ke Prakiraan Berbasis Dampak

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa arah kebijakan BMKG sedang mengalami transformasi besar. Fokus layanan tidak lagi sekadar menyampaikan data cuaca, tetapi juga memberikan informasi yang langsung bisa digunakan untuk pengambilan keputusan di berbagai sektor. Menurut Andri, pendekatan impact-based forecasting ini dirancang agar informasi yang dihasilkan BMKG tidak hanya berguna untuk mitigasi bencana, tetapi juga mendukung sektor strategis seperti transportasi, pertambangan, dan pariwisata. “Layanan BMKG harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, sinergi, kolaborasi, dan komunikasi menjadi kunci utama,” ungkapnya. Ia juga mengapresiasi langkah sejumlah UPT yang mulai menjalin kemitraan dengan sektor swasta. Salah satu contohnya adalah penyediaan radar cuaca oleh mitra industri. Kolaborasi semacam ini dinilai strategis untuk memperkuat sistem peringatan dini di daerah.

Layanan Maritim dan Kebutuhan Pesisir

Pelaksana Tugas Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Agi Wandala Putra, menyoroti pentingnya layanan yang berbasis kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir dan pengguna jasa maritim. Ia mencatat bahwa tantangan di Kalimantan cukup beragam, mulai dari aktivitas pelabuhan hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat pesisir. “Kebutuhan informasi cuaca maritim di Kalimantan sangat nyata, baik untuk sektor industri maupun masyarakat pesisir. Ini menjadi dasar penguatan layanan ke depan,” ujarnya.

Fleksibilitas dan Kolaborasi Lintas Wilayah

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah III BMKG, Cahyo Nugroho, menegaskan bahwa kolaborasi lintas UPT menjadi kunci dalam menjawab tantangan layanan yang semakin kompleks. Ia menekankan pentingnya fleksibilitas di lapangan, termasuk tidak terpaku pada batas wilayah kerja jika ada kebutuhan mendesak. “Yang terpenting adalah bagaimana layanan itu hadir. Jangan sampai ada kegiatan yang tidak ditangani hanya karena terbentur mandatori wilayah. Prinsipnya adalah sinergi dan solusi,” kata Cahyo. Cahyo juga mendorong optimalisasi layanan di sektor maritim dan transportasi sungai. Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah prakiraan cuaca di sepanjang alur Sungai Barito, yang melibatkan sejumlah UPT. Ia berharap inovasi ini bisa meniru keberhasilan layanan serupa yang sudah berjalan di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Dengan penguatan sinergi dan kolaborasi ini, BMKG optimistis mampu menghadirkan layanan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika yang lebih adaptif, responsif, serta memberikan dampak luas bagi masyarakat dan pembangunan di Kalimantan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar