PARADAPOS.COM - Dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di kawasan konsesi PT Bentara Agra Timber (BAT) yang berada di Hutan Produksi Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. Bangkai satwa dilindungi itu terdiri dari satu induk betina dan satu anak gajah yang jenis kelaminnya belum diketahui. Penemuan ini pertama kali dilaporkan oleh masyarakat setempat, sebelum diteruskan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Hingga berita ini diturunkan, tim BKSDA telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan nekropsi guna mengungkap penyebab pasti kematian.
Tim BKSDA Bergerak ke Lokasi
Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Bengkulu, Said Jauhari, membenarkan adanya temuan tersebut. Ia menyebutkan bahwa tim langsung bergerak menuju titik lokasi setelah menerima laporan dari warga.
“Kami awalnya menerima informasi dari masyarakat terkait dua gajah yang mati di area konsesi. Saat ini tim sudah menuju lokasi untuk melakukan nekropsi guna mengetahui penyebab kematian,” ujarnya.
Proses nekropsi menjadi langkah krusial. Sebab, dari pengamatan awal di lapangan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang mencolok pada bangkai kedua satwa tersebut.
Gading Utuh, Dugaan Perburuan Melemah
Salah satu temuan penting yang mengarahkan penyelidikan adalah kondisi fisik gajah betina. Gading atau gigi taring pada induk gajah masih dalam kondisi utuh. Hal ini memperkuat dugaan sementara bahwa kematian bukan disebabkan oleh perburuan liar.
“Gading gajah betina masih utuh, sehingga sementara ini kecil kemungkinan akibat perburuan. Namun penyebab pastinya masih menunggu hasil nekropsi,” tambah Said.
Meski demikian, pihaknya belum bisa menyimpulkan apa pun hingga hasil laboratorium keluar. Proses investigasi masih berjalan dan semua kemungkinan tetap terbuka.
Bukan Kejadian Pertama di Wilayah Konsesi
Said juga menegaskan bahwa kematian gajah di wilayah konsesi PT BAT bukanlah peristiwa yang pertama kali terjadi. Ia menilai kejadian ini perlu menjadi perhatian serius pihak perusahaan dalam menjaga habitat satwa liar di sekitar area operasional mereka.
Lokasi penemuan berada di kawasan Bentang Sebelat, yang dikenal sebagai salah satu koridor penting habitat Gajah Sumatera. Kawasan ini semakin terdesak akibat alih fungsi lahan dan perambahan hutan, termasuk untuk perkebunan.
Populasi Gajah di Bentang Sebelat Terus Menurun
Data pemerintah menunjukkan populasi gajah di Bentang Sebelat terus mengalami penurunan. Dalam kunjungan beberapa waktu lalu, Wakil Menteri Kehutanan menyebut jumlah gajah di kawasan tersebut tersisa sekitar 25 ekor. Mereka tersebar di beberapa kantong habitat yang terfragmentasi.
Meski begitu, masih terdapat kelompok kecil gajah yang menunjukkan tanda-tanda reproduksi. Ini menjadi secercah harapan bahwa spesies tersebut masih mampu bertahan di tengah tekanan habitat yang kian sempit.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk melindungi kantong-kantong habitat gajah di Indonesia sesuai arahan nasional. Sementara itu, BKSDA memastikan hasil nekropsi akan segera diumumkan setelah proses pemeriksaan selesai dilakukan.
Peristiwa ini menambah daftar panjang konflik antara satwa liar dan aktivitas manusia di wilayah Bengkulu. Di tengah hiruk-pikuk pembukaan lahan, gajah-gajah itu menjadi korban sunyi yang tak bisa bersuara.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kapal Induk AS USS Gerald Ford Tarik Diri dari Timur Tengah di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Mensos Gus Ipul Instruksikan Pendamping PKH di Madura Jaring Calon Siswa Sekolah Rakyat Berbasis Data, Bukan Pendaftaran
Polresta Serang Kota Musnahkan 17.000 Botol Miras Hasil Operasi di Taktakan
Telkomsel Luncurkan Paket RoaMAX Haji 2026 dan Posko di Sejumlah Embarkasi untuk Dukung Konektivitas Jemaah ke Tanah Suci