Harga Minyak Anjlok Lebih dari 4 Persen usai AS dan Iran Capai Kesepakatan Damai

- Senin, 15 Juni 2026 | 02:25 WIB
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 4 Persen usai AS dan Iran Capai Kesepakatan Damai
PARADAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam lebih dari empat persen dalam perdagangan Asia pada Senin, 15 Juni 2026. Anjloknya harga ini dipicu oleh kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz. Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Agustus ambles 4,1 persen ke level USD83,79 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terpangkas 4,6 persen menjadi USD80,95 per barel. Penurunan ini sekaligus memperpanjang tren negatif dari pekan lalu dan membawa kedua indeks acuan ke titik terendah sejak 10 Maret.

Kesepakatan Damai AS-Iran: Harapan Baru di Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump bersama para pejabat Iran mengumumkan kerangka kerja kesepakatan pada Minggu waktu setempat. Isinya mencakup penghentian permusuhan dan pemulihan lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz—jalur air strategis yang menangani sekitar seperlima konsumsi minyak dan bahan bakar global. Rencananya, dokumen perjanjian ini akan ditandatangani pada hari Jumat pekan ini. "Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!" ujar Trump dalam unggahan di media sosialnya. Menurut draf yang beredar, perjanjian tersebut mencakup pencabutan sanksi, pembatasan aktivitas nuklir Iran, serta langkah-langkah normalisasi ekspor minyak. Hal ini memicu optimisme pasar akan ketersediaan pasokan yang lebih baik pada akhir tahun ini.

Dampak Konflik dan Tekanan Pasokan

Sejak konflik meletus awal tahun, Selat Hormuz menjadi pusat kekhawatiran pasokan global. Gangguan pengiriman, lonjakan biaya asuransi, dan kekhawatiran akan kelangkaan pasokan sempat mendorong harga minyak mentah Brent menembus USD120 per barel pada puncak krisis. Kini, prospek masuknya tambahan barel minyak Iran ke pasar global justru menambah tekanan bearish pada harga. Meski pasar menyambut lega, para analis mengingatkan bahwa risiko masih membayangi. Kerangka gencatan senjata masih memerlukan implementasi formal, dan lalu lintas kapal tanker melalui Hormuz kemungkinan tidak akan langsung pulih ke level sebelum perang—bahkan jika jalur air tersebut dibuka sepenuhnya. Para pelaku pasar juga tengah mencermati jadwal padat bank sentral pekan ini, termasuk pertemuan kebijakan Federal Reserve AS.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar