PARADAPOS.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan imbauan kepada 12 negara terkait potensi penyebaran hantavirus yang ditemukan di sebuah kapal pesiar. Kapal tersebut berlayar dari Argentina menuju Cape Verde. Dari insiden ini, tercatat tiga orang meninggal dunia dari total delapan kasus yang dilaporkan. Imbauan ini dipicu oleh salah satu korban yang melakukan perjalanan udara dari Saint Helena ke Johannesburg, Afrika Selatan, sehingga meningkatkan risiko penularan lintas negara.
Daftar 12 Negara yang Diimbau WHO
Berdasarkan siaran pers resmi WHO, berikut ini adalah negara-negara yang diminta untuk meningkatkan kewaspadaan: Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Saint Kitts dan Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turki, Inggris Raya, dan Amerika Serikat.
"WHO juga telah memberitahukan kepada 12 negara yang warganya mendarat di Saint Helena," tulis WHO dalam pernyataan resminya.
Situasi Hantavirus di Indonesia
Di Indonesia, hantavirus bukanlah hal yang baru. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa virus ini sudah ada sejak tahun 1980-an. Sebuah studi komprehensif di berbagai kota besar menunjukkan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen.
Artinya, dari setiap sepuluh orang, setidaknya satu orang pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis secara medis. Di lapangan, gejala demam akibat hantavirus kerap disalahartikan sebagai demam berdarah dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, gejala awalnya hampir identik: demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar tidak terdeteksi atau salah diagnosis.
Fenomena ini dikenal sebagai iceberg phenomenon. Yang terlihat hanyalah sebagian kecil kasus, sementara jumlah sebenarnya jauh lebih besar dan tersembunyi di bawah permukaan.
Risiko di Perkotaan
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa hantavirus tidak hanya ditemukan di daerah terpencil. Virus ini juga terdeteksi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Denpasar. Bahkan, dalam satu studi, kasus ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit di beberapa kota besar.
Hal ini menegaskan satu poin penting: urbanisasi dan kepadatan penduduk justru meningkatkan risiko penyebaran hantavirus. Lingkungan perkotaan dengan sanitasi buruk, permukiman padat, dan pengelolaan sampah yang tidak optimal menjadi habitat ideal bagi tikus, yang merupakan reservoir utama virus ini.
Selain itu, Indonesia memiliki setidaknya 15 spesies tikus yang terkonfirmasi membawa hantavirus. Dengan jumlah reservoir yang melimpah, kewaspadaan terhadap penyakit ini menjadi semakin krusial.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Ayah dan Anak Selamat Setelah Empat Hari Terjebak di Reruntuhan Gempa Venezuela
Mahasiswa Luka dalam Aksi di Depan DPRD Riau Dipulangkan setelah Perawatan Intensif
60.000 Calon Mahasiswa Lolos PTN Tak Daftar Ulang, SNPMB Bantah Dominasi Jalur Prestasi
Kontrak Berjangka Saham AS Menguat setelah AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan di Selat Hormuz