PARADAPOS.COM - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, mengeluarkan peringatan keras bahwa Teheran siap memberikan respons tegas terhadap segala bentuk agresi. Pernyataan ini muncul menyusul penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal terbaru Iran yang diajukan untuk mengakhiri perang. Situasi di kawasan Timur Tengah pun kembali berada dalam titik rawan, dengan kedua negara saling menunjukkan sikap tanpa kompromi.
Peringatan dari Teheran: Respons Keras Siap Dilancarkan
Dalam unggahan di platform X pada Selasa (12/5), Qalibaf menulis, "Angkatan bersenjata kami siap memberikan pelajaran yang tak terlupakan kepada setiap agresi." Ia menegaskan bahwa Iran telah menyiapkan berbagai opsi untuk menghadapi perkembangan situasi dan memperingatkan pihak lawan akan terkejut dengan langkah yang akan diambil.
Tidak Ada Alternatif Selain Hak Rakyat Iran
Dalam pernyataan terpisah, Qalibaf kembali menekankan sikap tegas Teheran. "Tidak ada alternatif, selain menerima hak-hak rakyat Iran," tulisnya. Ia menambahkan bahwa pendekatan di luar itu hanya akan berujung pada kegagalan. "Pendekatan lain akan sepenuhnya tidak menghasilkan apa-apa, hanya kegagalan demi kegagalan," ujarnya.
Tak hanya soal diplomasi, Qalibaf juga menyoroti dampak ekonomi dari kebuntuan ini bagi Washington. "Semakin lama mereka mengulur waktu, semakin banyak uang pajak Amerika yang akan menanggungnya," tambahnya.
Kritik Terhadap Rencana Resolusi Dewan Keamanan PBB
Secara terpisah, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengkritik langkah yang dipimpin Amerika Serikat terkait rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Selat Hormuz. Melalui unggahan di X, Gharibabadi menilai upaya AS bersama sejumlah mitra regional bertujuan mendistorsi realitas terkait situasi di jalur pelayaran strategis tersebut.
Ia menegaskan bahwa kebebasan navigasi tidak dapat ditafsirkan secara selektif maupun dipisahkan dari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurutnya, setiap inisiatif keamanan maritim yang mengabaikan penggunaan kekuatan, blokade angkatan laut, dan ancaman berkelanjutan terhadap Iran tidak akan memiliki netralitas maupun kredibilitas. Gharibabadi juga menegaskan bahwa proposal apa pun mengenai Selat Hormuz yang tidak mengakui agresi serta hak sah Iran untuk mempertahankan kepentingan keamanannya akan menjadi usulan yang bias, politis, dan pasti gagal.
Penolakan Trump dan Eskalasi Konflik
Peringatan-peringatan dari Teheran ini muncul setelah Trump menolak tanggapan terbaru Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington. Trump menyebut respons Teheran sebagai hal yang sama sekali tidak dapat diterima. Sementara itu, sejumlah pejabat dan media Iran menyebut proposal Teheran difokuskan pada penghentian perang, pencabutan sanksi ekonomi, serta pemulihan keamanan maritim di Selat Hormuz.
Konflik antara kedua negara memanas sejak 28 Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas melalui serangan terhadap Israel dan sekutu Washington di kawasan Teluk, disertai penutupan Selat Hormuz. Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, perundingan yang berlangsung di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen. Sementara itu, gencatan senjata diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Dirjen Dukcapil Tegaskan KTP-el Tetap Wajib untuk Check-in Hotel, Fotokopi Diperbolehkan Asal Bijak
Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dolar AS, Tersungkur ke Level Terendah Sepanjang Sejarah
Wameninves Todotua Pasaribu Sebut Jawa Tengah Jadi Kontributor Investasi Tertinggi, Dorong Hilirisasi dan Energi Hijau
Pemerintah Segera Cairkan Gaji ke-13 Pensiunan ASN, Ini Besaran dan Perkiraan Jadwalnya