PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke level terendahnya, menembus batas psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan data Bloomberg, Selasa, 12 Mei 2026 pukul 10.16 WIB, mata uang Garuda melemah hingga 99 poin atau 0,57 persen ke posisi Rp17.513 per USD. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi global maupun dalam negeri.
Tekanan Global dan Konflik Timur Tengah
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah masih akan terus tertekan. Bahkan, ia memperkirakan angka Rp17.550 per USD bisa tercapai dalam pekan ini.
“Angka Rp17.550 kemungkinan besar akan tercapai dalam minggu ini,” ujarnya, Selasa, 12 Mei 2026.
Menurut Ibrahim, salah satu pemicu utama pelemahan rupiah adalah memanasnya kembali konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Ia menjelaskan bahwa AS menolak proposal yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar.
“Nah, penolakan ini ya membuat ketegangan baru ya karena secara tak terduga pun juga serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz. Artinya apa? Bahwa ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas ya walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai, kata Trump,” jelasnya.
Di sisi lain, Ibrahim melanjutkan, Amerika terus melancarkan serangan di Selat Hormuz, sementara Iran juga melakukan serangan balasan terhadap pasukan AS. Secara terpisah, Uni Emirat Arab juga disebut masih melakukan penyerangan terhadap Iran, termasuk serangan pada awal April yang menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan.
“Ini yang membuat Indeks Dolar kembali lagi mengalami penguatan yang cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah, terutama adalah brain crude oil,” sebutnya.
Faktor Domestik dan Sentimen Pasar
Dari sisi internal, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang mencapai 5,61 persen belum cukup untuk memperkuat rupiah.
“Tidak serta-merta bisa membuat rupiah mengalami penguatan. Karena apa? Pembentukan dari pertumbuhan ekonomi kuartal pertama itu adalah dari konsumsi masyarakat, kemudian dan belanja negara,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa kedua komponen tersebut memang memberi andil besar terhadap perekonomian, namun tidak berdampak signifikan terhadap investasi. Meskipun investasi mengalami kenaikan, persentasenya dinilai sangat kecil.
Selain itu, pasar saat ini tengah menunggu keputusan MSCI terkait penurunan peringkat saham Indonesia. Data tersebut dijadwalkan rilis dalam beberapa hari ke depan.
“Ini menunggu dalam tiga hari ini. Ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” ujarnya.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
BPJPH Pastikan Logo Halal Indonesia Wajib Tercantum di Daging Impor Brasil Mulai Oktober 2026
Menkeu Pastikan Tak Ada Kenaikan Pajak Tahun Ini, Industri Rokok Sambut Baik
Uni Eropa Sepakat Jatuhkan Sanksi pada Pemukim Israel Imbas Kekerasan di Tepi Barat
Podcast Soroti Dugaan Kejanggalan Kronologi Keluarga Jokowi, dari Pernikahan hingga Kelahiran Gibran