Kampung Literasi Pekijing Diapresiasi Kemendikdasmen karena Berhasil Bangun Budaya Baca Berbasis Komunitas

- Rabu, 13 Mei 2026 | 06:50 WIB
Kampung Literasi Pekijing Diapresiasi Kemendikdasmen karena Berhasil Bangun Budaya Baca Berbasis Komunitas
PARADAPOS.COM - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan apresiasi terhadap inisiatif Kampung Literasi Pekijing di Kota Serang, Banten. Program ini dinilai berhasil memperkuat budaya literasi masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas dan keluarga. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa peningkatan literasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi aktif dari masyarakat, komunitas, dan keluarga.

Peran Strategis Taman Bacaan Masyarakat

Menurut Hafidz, keberadaan taman bacaan masyarakat memiliki peran vital sebagai mitra pemerintah dalam membangun budaya membaca. Ia menekankan bahwa ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan dapat tercipta jika semua elemen masyarakat terlibat. “Kami melihat Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan. Anak-anak, orang tua, dan komunitas hadir bersama dalam berbagai aktivitas yang mendorong budaya membaca dan kreativitas di lingkungannya,” ujar Hafidz dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Rabu. Di kampung tersebut, inovasi sederhana namun efektif diterapkan. Rumah-rumah kotak kecil berisi buku bacaan didirikan di halaman rumah warga. Konsep ini memungkinkan siapa pun mengakses buku tanpa batasan atau ketentuan yang mengikat. Kehadiran sudut-sudut baca ini membuat buku menjadi lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Inspirasi bagi Daerah Lain

Hafidz menambahkan bahwa praktik baik yang dilakukan Kampung Literasi Pekijing dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Ia berharap konsep ruang literasi yang dekat, terbuka, dan ramah ini bisa direplikasi di berbagai tempat. “Kehadiran komunitas literasi berupa taman bacaan masyarakat dan perpustakaan desa di Pekijing dapat menjadi contoh sekaligus penggerak budaya baca di lingkungan sekitar,” tuturnya. Pihaknya memberikan perhatian dan dukungan penuh terhadap komunitas semacam ini karena keberadaannya menjadi bagian penting dalam penguatan literasi masyarakat secara nasional.

Literasi yang Melibatkan Semua Usia

Di Kampung Literasi Pekijing, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membaca buku. Lebih dari itu, literasi tumbuh melalui interaksi sosial yang melibatkan seluruh kelompok usia. Anak-anak, misalnya, mengikuti kegiatan mendongeng, membaca bersama, bermain permainan tradisional, hingga berlatih seni dan musik. Sementara itu, para lansia turut dilibatkan dalam kegiatan melukis, mewarnai, dan membuat kerajinan tangan. Pendekatan ini membuat literasi menjadi pengalaman yang hidup dan menyenangkan bagi semua kalangan.

Kisah di Balik Kesuksesan Kampung Literasi

Pembina Kampung Literasi Pekijing, Edi Suryadi, menceritakan perjalanan awal program ini. Ia mengaku sempat ragu apakah penyediaan buku di rumah-rumah warga dapat berjalan efektif dan diterima masyarakat. Namun, pendekatan yang sederhana justru membuahkan hasil. “Ketika buku-buku ditempatkan di depan rumah dan mudah diakses serta judulnya menarik maka masyarakat mulai berani memegang dan membaca buku. Dari situ kami menyadari bahwa masyarakat sebenarnya membutuhkan bahan bacaan yang dekat dengan kehidupan mereka,” ungkapnya. Berangkat dari pengalaman tersebut, warga kemudian secara mandiri mengembangkan penyediaan bahan bacaan. Mereka membangun rumah-rumah buku di pinggir jalan kampung agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pengunjung yang datang. Inisiatif ini membuktikan bahwa ketika akses terhadap buku dipermudah, minat baca masyarakat pun tumbuh secara alami.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar