PARADAPOS.COM - Rusia kembali menguji coba rudal balistik antarbenua RS-28 Sarmat, yang dikenal dengan julukan NATO “Satan II”, pada Selasa, 12 Mei 2026. Peluncuran dilakukan dari Kosmodrom Plesetsk di wilayah Arkhangelsk dan rudal dilaporkan berhasil mencapai target di lapangan uji Kura di Semenanjung Kamchatka, Timur Jauh Rusia. Presiden Vladimir Putin memantau langsung uji coba tersebut melalui sambungan video dari Kremlin dan menyebutnya sebagai “peristiwa besar” serta “keberhasilan tanpa syarat”.
Kemampuan Rudal yang Membuat Dunia Waspada
RS-28 Sarmat bukanlah rudal biasa. Dirancang sebagai pengganti rudal era Soviet R-36, rudal berbobot lebih dari 200 ton ini menjadi tulang punggung kekuatan nuklir strategis Moskow di tengah meningkatnya ketegangan dengan Barat. Yang membuatnya sangat ditakuti bukan hanya ukurannya, tetapi juga jangkauan dan daya hancurnya yang luar biasa.
Menurut klaim Kremlin, Sarmat memiliki jangkauan hingga sekitar 18 ribu kilometer—cukup untuk menjangkau hampir seluruh wilayah dunia dari dalam teritori Rusia. Lebih dari itu, rudal ini dirancang mampu terbang melalui jalur yang tidak biasa, termasuk melintasi Kutub Selatan, untuk mengelabui radar dan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat serta NATO.
Kecepatan dan Waktu Respons yang Singkat
Pada fase tertentu penerbangannya, Sarmat diklaim mampu melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 20, atau sekitar 24 ribu kilometer per jam. Kecepatan ini membuat waktu respons negara lawan menjadi sangat singkat.
Jika diarahkan ke Washington, rudal ini diperkirakan mencapai target dalam waktu sekitar 20 hingga 30 menit, tergantung jalur penerbangan dan lokasi peluncuran. Dalam skenario nyata, para pemimpin negara hanya memiliki hitungan menit untuk memastikan apakah peluncuran tersebut benar-benar serangan nuklir atau sekadar alarm palsu sebelum memutuskan respons militer.
Situasi bahkan lebih menegangkan bagi Eropa. Jika diluncurkan dari wilayah Rusia menuju Inggris, Sarmat diperkirakan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 20 menit. Negara-negara NATO di Eropa memiliki waktu yang jauh lebih sedikit untuk mendeteksi ancaman dan mengambil keputusan.
Daya Ledak yang Mengerikan
Di balik kecepatannya, daya ledak Sarmat menjadi aspek yang paling mengkhawatirkan. Berbeda dari rudal biasa yang hanya membawa satu bom, Sarmat dirancang membawa banyak hulu ledak nuklir independen atau MIRV. Artinya, satu rudal dapat menyerang banyak kota atau target sekaligus dalam satu peluncuran.
Menurut berbagai estimasi militer Barat, satu hulu ledak Sarmat bisa memiliki daya ledak hingga sekitar 1 megaton TNT atau lebih. Sebagai perbandingan, bom atom yang menghancurkan Hiroshima pada 1945 memiliki kekuatan sekitar 15 kiloton. Artinya, satu hulu ledak modern Sarmat bisa puluhan kali lebih kuat dibanding bom Hiroshima.
Jika satu hulu ledak berkekuatan sekitar 1 megaton meledak di atas kota besar, hampir seluruh bangunan dalam radius sekitar 3 hingga 5 kilometer dapat hancur total akibat gelombang kejut dan suhu ekstrem. Area kehancuran ini kira-kira setara dengan kawasan inti Jakarta Pusat.
Dalam radius sekitar 10 hingga 15 kilometer, kebakaran besar, kerusakan bangunan berat, luka bakar massal, dan korban jiwa dalam jumlah sangat besar kemungkinan terjadi. Luas dampaknya dapat mendekati gabungan wilayah Jakarta Pusat hingga sebagian Jakarta Selatan atau Jakarta Barat.
Namun dampak perang nuklir tidak berhenti pada ledakan awal. Para ilmuwan selama puluhan tahun memperingatkan ancaman lanjutan berupa badai api, radiasi mematikan, runtuhnya infrastruktur, gangguan listrik dan komunikasi, hingga kemungkinan terjadinya nuclear winter atau musim dingin nuklir akibat debu dan asap yang menyelimuti atmosfer bumi.
Fungsi Utama: Penangkal, Bukan Penyerang
Dalam doktrin militer modern, senjata seperti Sarmat sebenarnya bukan dibuat untuk digunakan dalam perang biasa. Fungsi utamanya adalah deterrence atau penangkal—menciptakan ancaman kehancuran total agar negara lain berpikir berkali-kali sebelum menyerang Rusia.
Konsep ini dikenal sejak era Perang Dingin sebagai Mutually Assured Destruction (MAD), yaitu kondisi ketika perang nuklir diyakini akan menghancurkan semua pihak yang terlibat. Dalam logika tersebut, senjata nuklir justru dipertahankan bukan untuk dipakai, melainkan agar tidak pernah digunakan sama sekali.
Meski Rusia menyebut uji coba terbaru ini berhasil, sebagian analis Barat masih meragukan apakah seluruh kemampuan Sarmat benar-benar sudah matang. Sebelumnya, beberapa pengujian rudal tersebut dilaporkan mengalami kegagalan pada 2023 dan 2024.
Masa Depan Perjanjian Senjata Nuklir
Di tengah memburuknya hubungan Rusia dan Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik global, kemunculan kembali rudal-rudal raksasa seperti Sarmat membuat dunia kembali diingatkan pada bayang-bayang perlombaan nuklir era Perang Dingin.
Situasi itu semakin mengkhawatirkan setelah melemahnya Perjanjian New START, yaitu kesepakatan pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington. Perjanjian yang mulai berlaku pada 2011 tersebut selama ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis, rudal balistik antarbenua, kapal selam nuklir, dan pembom strategis yang boleh dimiliki kedua negara.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres angkat suara terkait hal ini. “Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, dunia menghadapi situasi tanpa batasan mengikat terhadap arsenal nuklir strategis Rusia dan Amerika Serikat,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Guterres menyebut berakhirnya New START sebagai “grave moment” atau “momen yang sangat serius” bagi perdamaian dan keamanan dunia. Ia memperingatkan bahwa runtuhnya sistem pengendalian senjata nuklir terjadi pada saat risiko penggunaan senjata nuklir berada pada titik tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Bukan hanya membatasi jumlah senjata, New START juga memiliki mekanisme inspeksi dan pertukaran data yang memungkinkan Rusia dan Amerika saling memantau kekuatan nuklir masing-masing. Sistem ini dianggap penting untuk mencegah salah perhitungan militer dan menjaga stabilitas strategis global.
Namun setelah perang Ukraina pecah, hubungan kedua negara memburuk tajam. Rusia kemudian menangguhkan partisipasinya dalam perjanjian tersebut pada 2023, termasuk menghentikan mekanisme inspeksi dan pertukaran data dengan Amerika Serikat. Meski New START secara formal masih berlaku hingga Februari 2026, banyak analis menilai sistem pengendalian senjata nuklir dunia kini praktis mulai melemah.
Kondisi itu memunculkan kekhawatiran baru bahwa dunia sedang bergerak menuju fase perlombaan senjata strategis berikutnya. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, negara-negara besar dikhawatirkan akan kembali berlomba mengembangkan rudal, hulu ledak nuklir, dan teknologi militer strategis baru seperti yang pernah terjadi pada puncak Perang Dingin abad ke-20.
Editor: Annisa Rachmad
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kejagung Kembalikan Rp 10,2 Triliun ke Kas Negara, Bukan Disimpan di Brankas
Pemuda Katolik Dorong Anak Muda Jadi Penggerak Ekonomi Daerah Lewat Pariwisata dan UMKM
Pemprov Banten Bentuk Pansel untuk Seleksi Terbuka Direksi Tiga BUMD
Jaksa Tuntut Nadiem Makarim 18 Tahun Penjara atas Korupsi Pengadaan Chromebook