Remaja Tewas Digigit Ular Weling di Bogor, Satu Korban Kritis

- Kamis, 14 Mei 2026 | 03:50 WIB
Remaja Tewas Digigit Ular Weling di Bogor, Satu Korban Kritis

PARADAPOS.COM - Seorang remaja di Kota Bogor meninggal dunia dan seorang lainnya dalam kondisi kritis setelah bermain dengan ular weling berbisa di kawasan persawahan. Peristiwa yang terjadi di Desa Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat, pada Selasa (12/5/2026) malam itu terekam kamera dan viral di media sosial, memicu keprihatinan publik sekaligus menjadi pengingat keras akan risiko interaksi dengan satwa liar beracun tanpa perlindungan yang memadai. Korban meninggal diketahui bernama UZS (18), sementara rekannya, H (21), masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Kronologi Kejadian dan Video yang Viral

Dari penelusuran di lapangan, peristiwa nahas ini berawal saat kedua korban tengah nongkrong di area persawahan. Mereka kemudian menemukan seekor ular dengan corak tubuh hitam putih. Tanpa mengetahui jenis dan bahayanya, korban mengambil dan memainkan ular tersebut di tangannya. Namun, siapa sangka, ular itu adalah weling, spesies berbisa tinggi yang mematikan.

Video kejadian tersebut diunggah oleh sejumlah akun Instagram, salah satunya @bogoridentity. Hingga Kamis (14/5/2026), video itu telah ditonton lebih dari 390 ribu kali. Ratusan warganet membanjiri kolom komentar, sebagian besar menyatakan duka cita dan keprihatinan atas musibah yang menimpa kedua remaja tersebut.

Pakar: Ular Weling Miliki Racun Neurotoksin Mematikan

Pakar Herpetologi dari IPB University, Prof. Mirza Dikari Kusrini, memberikan penjelasan ilmiah mengenai bahaya ular weling. Menurutnya, ular ini memiliki racun neurotoksin yang menyerang sistem saraf dan berpotensi menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk otot pernapasan.

“Meski gejala awal bisa ringan atau tertunda, efeknya bisa fatal jika tidak segera ditangani,” jelasnya.

Ia menambahkan, waktu bertahan hidup seseorang setelah digigit sangat bergantung pada jumlah bisa yang masuk, lokasi gigitan, serta kondisi tubuh korban. Gigitan pada anak-anak, lanjutnya, bisa lebih berbahaya dibandingkan pada orang dewasa.

“Kadang ular berbisa menghasilkan gigitan kering (dry bite), artinya menggigit tanpa mengeluarkan bisa. Tapi jika benar-benar tergigit dan tidak mendapat penanganan medis, korban bisa mengalami gagal napas dalam waktu 4–24 jam,” ungkapnya.

Prof. Mirza menekankan bahwa pertolongan pertama yang paling tepat adalah segera membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan serum anti-bisa.

Keterangan Lurah: Korban Sempat Pulang Sebelum Kritis

Lurah Pasir Jaya, Rizki Dwi Nugraha, mengonfirmasi bahwa peristiwa itu terjadi sekitar pukul 23.00 WIB. Ia menjelaskan bahwa ular tersebut bersikap agresif saat ditemukan.

“Nah dia itu tidak sengaja melihat ular. Si ular ini langsung macok (patuk) agresif,” katanya.

Menurut Rizki, kedua korban sempat pulang ke rumah masing-masing setelah kejadian. Namun, tidak lama kemudian, bisa ular mulai bereaksi dan menimbulkan gejala.

“Sempet pulang. Lalu ada gejala seperti dehidrasi baru dibawa ke rumah sakit. Sudah pucat, mungkin racunnya baru masuk subuh infonya,” lanjutnya.

Kesaksian Ibu Korban: Sang Anak Tak Kunjung Bangun

Aye (47), ibu dari UZS, menceritakan detik-detik sebelum mengetahui anaknya meninggal. Ia awalnya tidak menyangka bahwa putranya telah digigit ular. Semua terungkap saat ia hendak membangunkan UZS untuk bersiap ke sekolah.

“Tapi, kok gak bangun-bangun. Matanya juga gak melek-melek terus kaya sesak nafas gitu,” ucapnya.

Setelah mendapat informasi dari tetangga bahwa anaknya digigit ular, Aye segera membawa UZS ke rumah sakit. Namun, takdir berkata lain. Saat tiba di RS UMMI, dokter menyatakan bahwa UZS telah meninggal dunia.

“Waktu dibawa keluar dari RS UMMI taunya itu kata dokter udah gak ada. Waktu saya isi berkas kan dokter bilang ke saya. Katanya ini mah udah gak ada (meninggal). Saya pasrah aja,” tuturnya.

Jenazah UZS kini telah dimakamkan di Desa Ciapus, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Sementara itu, rekannya, H, masih berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit. Peristiwa ini menjadi pelajaran pahit bagi masyarakat untuk tidak bermain-main dengan satwa liar yang tidak dikenal.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags