Dubes China untuk AS Xie Feng: Komunikasi Langsung Kepala Negara Jadi Kunci Stabilitas Hubungan Bilateral

- Kamis, 14 Mei 2026 | 22:50 WIB
Dubes China untuk AS Xie Feng: Komunikasi Langsung Kepala Negara Jadi Kunci Stabilitas Hubungan Bilateral
PARADAPOS.COM - Dalam wawancara terbaru dengan Newsweek, Duta Besar China untuk Amerika Serikat, Xie Feng, menegaskan bahwa interaksi langsung antara para kepala negara merupakan panduan strategis yang tak tergantikan bagi hubungan bilateral China-AS. Ia menyoroti nilai strategis hubungan kedua negara yang semakin menonjol di tengah dinamika global yang bergejolak. Pernyataan ini disampaikan Xie Feng saat mengomentari kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China dan arah hubungan kedua negara ke depan.

Komunikasi Puncak dan Stabilitas Hubungan

Menurut Xie Feng, Presiden Xi Jinping dan Presiden Trump saling menghormati dan terus menjaga komunikasi yang erat. Sejak tahun lalu, kedua pemimpin telah melakukan lima kali percakapan telepon, bertukar sejumlah surat, dan mengadakan pertemuan yang sukses di Busan, Korea Selatan. Pertemuan-pertemuan ini, jelasnya, berperan penting dalam menyesuaikan ulang arah hubungan China-AS dan mengarahkannya menuju stabilitas secara keseluruhan. Xie Feng menyatakan harapannya agar pertemuan antara kedua kepala negara dapat menentukan arah yang tepat bagi perkembangan hubungan bilateral di masa depan. “Pertemuan itu membuka jalan untuk memperpanjang daftar dialog dan kerja sama serta memajukan agenda positif, sekaligus memperpendek daftar masalah dan mengelola perbedaan dengan tepat,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa hal ini tidak hanya akan mendorong perkembangan hubungan bilateral yang stabil, sehat, dan berkelanjutan tahun ini, tetapi juga membuka jalan yang tepat bagi China dan AS untuk hidup berdampingan di era baru berdasarkan saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, serta kerja sama yang saling menguntungkan.

Perdagangan, Tarif, dan Kerja Sama Ekonomi

Mengenai isu perdagangan, Xie Feng mengingatkan bahwa sejarah telah berulang kali membuktikan perang tarif dagang merugikan kepentingan kedua pihak dan berdampak buruk bagi seluruh dunia. Di bawah arahan kedua pemimpin, China dan AS telah mencapai serangkaian kesepahaman bersama melalui konsultasi ekonomi dan perdagangan, yang berhasil menstabilkan hubungan di bidang ekonomi dan perdagangan bilateral. “Hal ini tidak diraih dengan mudah dan harus dijaga dengan baik, tetapi masih jauh dari cukup,” ujarnya. Ia berharap pihak AS akan melangkah lebih jauh dan sepenuhnya menghapus tarif sepihak serta langkah-langkah pembatasan lainnya.

Isu Taiwan dan Prinsip Satu China

Menyinggung persoalan Taiwan, Xie Feng menyampaikan keyakinannya bahwa rakyat AS, yang pernah menghadapi ancaman perpecahan dan mengalami Perang Saudara dalam sejarahnya, dapat memahami tekad dan kemauan China untuk menjaga persatuan nasional. “Pihak China mendesak AS agar berkomitmen pada prinsip Satu China dan tiga komunike bersama China-AS melalui tindakan nyata, membuat pilihan yang tepat sesegera mungkin, serta secara mendasar menghilangkan hambatan terbesar dalam hubungan China-AS, yakni persoalan Taiwan, yang berisiko menyeret kedua negara ke dalam konfrontasi dan konflik,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa langkah ini sekaligus akan membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan hubungan bilateral.

Fentanil, AI, dan Pertukaran Antarmasyarakat

Ketika ditanya mengenai isu fentanil, Xie Feng dengan tegas menyatakan bahwa krisis fentanil di AS tidak disebabkan oleh China. Meskipun demikian, China telah berupaya semaksimal mungkin memberikan bantuan dengan itikad terbaik berdasarkan semangat kemanusiaan dan demi persahabatan China-AS. “Kami mendesak pihak AS untuk menghargai dan menjunjung tinggi niat baik China, memandang hasil kerja sama bilateral secara adil, berhenti menyalahkan China atas persoalan fentanil, tidak memberlakukan tarif alternatif sebagai pengganti tarif terkait fentanil, serta segera mencabut China dari daftar 'negara sumber utama narkotika',” ujarnya. Mengenai kecerdasan buatan (AI), Xie Feng menyampaikan kekhawatirannya. Dunia, katanya, tidak ingin melihat adanya “Tirai Besi” dalam AI maupun upaya pengucilan teknologi, apalagi rivalitas bergaya Star Wars dalam bidang AI. Ia berharap pihak AS dapat bekerja bersama China ke arah yang sama untuk memperkuat dialog, mengelola persaingan, dan menjalankan kerja sama, sehingga AI dapat menjadi bidang baru bagi kerja sama China-AS sekaligus tangga baru bagi kemajuan umat manusia. Berbicara tentang meningkatnya tren budaya China di kalangan masyarakat Barat, Xie Feng mencatat bahwa fenomena “Becoming Chinese” (Menjadi Warga China) yang muncul akhir tahun lalu maupun “Chinamaxxing” tahun ini mencerminkan semakin besarnya keinginan kedua rakyat untuk saling mendekatkan diri. “Pihak China menyambut lebih banyak pelajar AS untuk belajar di China, serta lebih banyak warga AS untuk memanfaatkan kebijakan transit bebas visa selama 240 jam dan sistem pengajuan visa daring China guna berkunjung ke China dan menikmati perjalanan yang luar biasa,” jelasnya. Ia juga berharap pihak AS menghapus hambatan dalam pengajuan visa dan proses masuk perbatasan bagi warga negara China, menghentikan langkah-langkah selektif dan diskriminatif terhadap pengunjung asal China, serta menambah jumlah penerbangan langsung guna lebih membuka potensi pertukaran antarmasyarakat.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar