PARADAPOS.COM - Pemerintah tengah menyusun skema insentif baru untuk mobil listrik murni (BEV) yang akan dibedakan berdasarkan jenis baterai yang digunakan, yaitu baterai berbasis nikel dan non-nikel. Menanggapi rencana tersebut, Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), Fransiscus Soerjopranoto, buka suara di Jakarta pada Rabu (13/5/2026). Ia menegaskan bahwa Hyundai selalu mendukung kebijakan pemerintah, namun mengingatkan bahwa mobil listrik berbasis nikel tidak hanya diproduksi oleh perusahaannya. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa besaran insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) akan bervariasi, mulai dari 40 persen hingga 100 persen, sebagai strategi memaksimalkan potensi nikel Indonesia.
Respons Hyundai: Nikel Bukan Monopoli Satu Merek
Fransiscus Soerjopranoto, yang akrab disapa Frans, memulai pernyataannya dengan mengakui keterkaitan perusahaannya dengan baterai nikel. “Karena banyak orang yang mengaitkan baterai nikel itu dengan Hyundai. Ya memang kita ingin pada saat awal membangun pabrik baterai yang di Karawang, kita ingin maksimalkan penggunaan nikel,” ujarnya.
Menurut Frans, arah kebijakan ini secara alami bertujuan untuk memperluas pemanfaatan sumber daya alam Indonesia. Sejak awal investasi di Tanah Air, Hyundai berkomitmen menggunakan material nikel untuk kendaraan listrik baterai (BEV). Namun, ia menekankan bahwa persepsi publik perlu diluruskan.
“Tetapi yang perlu diingat bahwa mobil listrik (yang menggunakan baterai) berbasis nikel itu bukan Hyundai saja. Saya tak perlu sebutkan mereknya, itu ada sekitar 4-6 (merek) yang menggunakan nikel dan bahkan sudah ada yang produksi lokal,” jelasnya.
Harapan untuk Momentum Penjualan
Lebih lanjut, Frans menyampaikan harapannya agar skema insentif dalam bentuk apa pun dapat menjaga momentum pertumbuhan pasar kendaraan listrik di dalam negeri. Ia menilai, stimulus yang tepat akan mendorong penjualan dan pada akhirnya berkontribusi terhadap target total penjualan kendaraan nasional yang kembali menyentuh angka satu juta unit per tahun.
“Hyundai kan tidak pernah tidak menyambut baik kebijakan pemerintah, Hyundai selalu menyambut baik kebijakan pemerintah. Makanya kita melihat apa yang dibutuhkan konsumen, apa itu maunya BEV atau hybrid,” pungkas Frans.
Skema Insentif Bertingkat dari Pemerintah
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan rencana insentif fiskal yang lebih variatif untuk BEV. Dalam konferensi pers APBN KiTa edisi April 2026 di Jakarta, Selasa (5/5/2026), ia menjelaskan bahwa besaran insentif tidak akan disamaratakan.
“PPN ditanggung pemerintah itu ada yang 100 persen, ada yang 40 persen. Nanti masih disusun skemanya. Itu untuk utamanya EV yang bukan hybrid,” ujar Purbaya.
Ia melanjutkan, perbedaan skema akan ditentukan oleh jenis baterai yang digunakan kendaraan listrik. Baterai berbasis nikel dan non-nikel akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dalam kebijakan tersebut. “Jadi yang baterainya berdasarkan nikel sama yang non-nikel akan beda skemanya. Tapi yang itu nanti Menteri Perindustrian,” katanya.
Strategi Nikel di Tengah Tren Global
Langkah ini dinilai sebagai strategi pemerintah untuk memaksimalkan potensi nikel sebagai komoditas unggulan Indonesia. Hal ini menjadi menarik karena tren global justru menunjukkan pergeseran ke teknologi baterai non-nikel, terutama yang digencarkan oleh China.
“Kenapa saya pakai yang nikel lebih besar subsidi-nya? Karena supaya nikel kita dipakai. Dulu saya baca di Economist, mimpi Indonesia menguasai dunia baterai hilang karena China pakai bukan nikel katanya,” ucap Purbaya.
Editor: Wahyu Pradana
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
16 Mei dalam Sejarah: Wafatnya Sultan Ottoman Terakhir, Eksekusi Anggota PETA, hingga Aneksasi Sikkim
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem, 9 Provinsi Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat
Xiaomi Siapkan Earbud Clip-on Perdana dengan Bobot 5,5 Gram dan Fitur AI Penerjemah 21 Bahasa
Persebaya Kokoh di Peringkat Empat Usai Hancurkan Semen Padang 7-0, Malut United dan Dewa United Terancam