PARADAPOS.COM - Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) menilai industri komponen otomotif nasional menunjukkan ketahanan yang solid di tengah gejolak pasar global. Hal ini tercermin dari peningkatan kinerja ekspor, kapasitas produksi yang terjaga, serta dukungan aktif dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing. Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, mengungkapkan bahwa sektor ini kini semakin berperan sebagai bagian integral dari rantai pasok global, dengan produk yang berhasil menembus berbagai negara.
Resiliensi di Tengah Tekanan Global
Menurut Rachmat, keberhasilan menembus pasar internasional justru menjadi tantangan tersendiri. Pelaku usaha harus terus berinovasi dan meningkatkan daya saing di tengah persaingan ketat dengan produsen dari berbagai negara. “Industri komponen otomotif fase lagi bisa ekspor ke mana-mana, jadi sebagai global supply chain,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa produktivitas adalah faktor kunci untuk mempertahankan posisi di pasar global. Pembinaan dari Kemenperin, termasuk program Industri 4.0 dan berbagai pelatihan, dinilai sangat berkontribusi. Langkah ini membantu pelaku industri beradaptasi dengan proses produksi modern dan meningkatkan efisiensi manufaktur.
Peran Pemerintah dan Pemulihan Pasca-Pandemi
Rachmat juga menyoroti peran krusial pemerintah selama pandemi COVID-19. Penerapan protokol kesehatan yang ketat, menurutnya, memungkinkan industri komponen tetap beroperasi. Hal ini mencegah terganggunya rantai pasok global yang sangat bergantung pada pasokan dari Indonesia.
Di sisi lain, stimulus yang diberikan kepada industri kendaraan bermotor berhasil menjaga permintaan pasar domestik. Pasar dalam negeri yang kuat menjadi fondasi penting sebelum industri berani melangkah lebih agresif ke pasar ekspor. “Sehingga industri roda empat kan naik. Dengan naiknya industri roda empat ini, otomatis supply komponennya akan tetap jalan,” tuturnya.
Data GIAMM menunjukkan, industri otomotif roda empat tumbuh 14 persen secara tahunan hingga kuartal I 2026. Pertumbuhan ini ikut menopang industri komponen dalam mempertahankan kapasitas produksi, ditambah dengan pasar kendaraan roda dua yang relatif stabil.
Transformasi Menuju Kendaraan Ramah Lingkungan
Pemerintah, lanjut Rachmat, terus mendorong transformasi industri komponen menuju kendaraan rendah emisi. Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) menjadi salah satu andalan, yang mencakup semua teknologi kendaraan mulai dari Internal Combustion Engine (ICE), Hybrid Electric Vehicle (HEV), hingga Battery Electric Vehicle (BEV).
Program ini tidak hanya fokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga memperkuat struktur industri. Targetnya adalah meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap hingga mencapai 80 persen.
“Pemerintah selalu nge-trigger kita dengan peraturan-peraturan supaya kita bisa masuk ke arah global supply chain,” ungkap Rachmat.
Capaian Ekspor yang Mengesankan
GIAMM mencatat, sepanjang 2025, industri komponen otomotif Indonesia berhasil mengekspor produk ke lebih dari 100 negara. Nilai ekspor bahkan melampaui 7 miliar dolar AS. Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN menjadi pasar utama.
Capaian ini menunjukkan semakin besarnya peran industri komponen nasional dalam rantai pasok otomotif global. Sekaligus, ini menjadi bukti nyata penguatan daya saing manufaktur Indonesia di kancah internasional.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara atas Korupsi Pengadaan Chromebook
Oman Tolak Biaya Transit Kapal di Selat Hormuz, Buka Peluang Diskusi Biaya Layanan Maritim
40 Diplomat dari 27 Negara Hadiri Indonesia Gastrodiplomacy Series di Makassar, Jajaki Kerja Sama Ekonomi dan Budaya
Tiga Petugas Pemadam Tewas Terjebak Pusaran Api saat Padamkan Kebakaran Hutan di Colorado