Oman Tolak Biaya Transit Kapal di Selat Hormuz, Buka Peluang Diskusi Biaya Layanan Maritim

- Selasa, 30 Juni 2026 | 07:50 WIB
Oman Tolak Biaya Transit Kapal di Selat Hormuz, Buka Peluang Diskusi Biaya Layanan Maritim
PARADAPOS.COM - Muscat, Oman, menegaskan penolakannya terhadap penerapan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan tegas ini disampaikan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, dalam wawancara dengan Monte Carlo International Radio pada Senin, 29 Juni 2026. Meski menolak pungutan lintas, Oman membuka ruang diskusi untuk biaya yang terkait langsung dengan layanan maritim, seperti peningkatan keselamatan navigasi dan pencegahan pencemaran.

Sikap Tegas di Jalur Strategis

Albusaidi menegaskan bahwa negaranya tidak mendukung pengenaan biaya apa pun terhadap kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut. “Oman tidak mendukung pengenaan biaya apa pun terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz,” ujarnya. Namun, ia menjelaskan bahwa mekanisme pembiayaan yang berkaitan dengan layanan maritim masih dapat dipertimbangkan. Mekanisme ini mencakup peningkatan keselamatan navigasi, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, serta langkah-langkah pencegahan pencemaran. Menurutnya, model serupa telah diterapkan di Selat Malaka dan Selat Singapura.

Komitmen pada Hukum Internasional

Dalam wawancara yang sama, Albusaidi menegaskan bahwa setiap kesepahaman di masa depan dengan Iran mengenai Selat Hormuz akan tetap berpedoman pada hukum internasional. Ia menekankan komitmen Oman terhadap United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). “Setiap pengaturan baru harus berada dalam kerangka hukum tersebut,” tegasnya. Ia juga menyampaikan bahwa Oman terus menyerukan deeskalasi dan mendukung pelaksanaan nota kesepahaman yang telah ditandatangani antara Amerika Serikat dan Iran. Muscat berkomitmen menjaga pelayaran di Selat Hormuz tetap “aman, terlindungi, dan bebas” bagi seluruh pengguna.

Pembahasan dengan Iran dan Negara Teluk

Albusaidi menyinggung adanya kesamaan pandangan di antara negara-negara Teluk mengenai pentingnya menurunkan ketegangan dan mencegah serangan di kawasan. Negara-negara di kawasan, katanya, tetap berfokus pada pelaksanaan berbagai kesepakatan yang telah ada serta menjaga stabilitas. Pada 23 Juni, Oman dan Iran sepakat membentuk kelompok kerja bersama untuk melanjutkan pembahasan mengenai pengelolaan navigasi di Selat Hormuz beserta layanan maritim yang terkait. Kedua negara juga menyetujui untuk berkonsultasi dengan negara-negara pesisir lainnya serta para pemangku kepentingan terkait. Selat Hormuz menangani hampir seperlima konsumsi minyak dunia dan hingga kini tetap menjadi salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan global dan distribusi energi. Ketegangan yang terjadi belakangan ini, menurut Albusaidi, tidak memengaruhi hubungan Oman dengan Amerika Serikat. Ia menggambarkan hubungan bilateral kedua negara tetap didasarkan pada “rasa saling menghormati dan kerja sama.”

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini