PARADAPOS.COM - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa optimalisasi puskesmas pembantu (pustu) menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas hidup warga di kawasan marginal ibu kota. Pernyataan ini disampaikan langsung di Puskesmas Pembantu Meruya Selatan II, Jakarta Barat, pada Senin, 18 Mei 2026. Menurutnya, fasilitas kesehatan lini pertama ini berperan strategis untuk mengintervensi dan menyelesaikan persoalan kesehatan laten yang selama ini membelenggu warga di lingkungan Rukun Warga (RW) kumuh.
Fokus pada RW Kumuh
Pramono tidak sekadar meresmikan fasilitas, ia juga menyoroti data terbaru yang menunjukkan perbaikan signifikan. Berdasarkan hasil pendataan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah RW kumuh di Jakarta berhasil ditekan dari 445 RW pada tahun 2017 menjadi hanya 211 RW saat ini. Artinya, terjadi penurunan sekitar 52,58 persen dalam kurun waktu hampir satu dekade.
“Puskesmas-puskesmas pembantu seperti inilah yang juga nanti akan berperan serta untuk lebih menurunkan lagi persoalan yang ada di RW kumuh di Jakarta, karena saya ingin Jakarta semakin baik, semakin bersih,” ungkap Pramono saat dijumpai di lokasi.
Meski angka penurunan terbilang impresif, Pramono tetap meminta jajarannya untuk tidak berpuas diri. Ia menginstruksikan agar data yang ada dikaji ulang secara lebih mendalam. “Walaupun nanti ada 1.900 yang sebelumnya dianggap sudah tidak kumuh, tetapi saya juga setuju untuk lebih diperdalam. Jadi, ada penurunan RW kumuh dari 445 di tahun 2017 menjadi 211 di tahun ini. Penurunannya kurang lebih 52,58 persen,” ujarnya.
Kriteria Kumuh yang Ketat
Penentuan status kumuh di tingkat lokal bukanlah proses sembarangan. Pemerintah menerapkan tolok ukur yang rigid melalui agregasi 11 kriteria pada tingkat rukun tetangga (RT). Indikator-indikator tersebut mencakup kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, kelayakan konstruksi tempat tinggal, kualitas ventilasi dan pencahayaan, ketersediaan fasilitas sanitasi, tata kelola pembuangan dan pengangkutan sampah, drainase, akses jalan, penerangan jalan umum, hingga tata letak bangunan.
Dengan kerangka penilaian yang ketat ini, kehadiran puskesmas pembantu diharapkan mampu menjadi solusi nyata bagi masalah kesehatan yang kerap dialami warga di lingkungan padat dan kurang terjangkau. Langkah ini dinilai sebagai bentuk intervensi langsung pemerintah untuk memperbaiki kualitas hidup dari akar rumput.
Puskesmas Pembantu (Pustu) Meruya Selatan II di Jakarta Barat. Foto: Metro TV/Rifda Muthia Zahra.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pemerintah Blokir 3,4 Juta Situs Judi Online, Transaksi Ilegal Turun 30 Persen
Agoda dan Akulaku PayLater Hadirkan Diskon 10% untuk Staycation Fleksibel Tanpa Syarat Minimum Transaksi
Rupiah Terjun ke Rp17.630 per Dolar AS, Indef Dorong Industri Lakukan Hedging dan Beralih ke Pemasok Lokal
Polisi Belum Temukan Bukti Pembegalan Model AJDV di Kebon Jeruk