PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat jatuh ke titik terendah dalam sejarah pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.30 WIB, mata uang Garuda tersebut diperdagangkan di level Rp17.675 per dolar AS, melemah 79 poin atau 0,45 persen. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan pasar dan bertepatan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut depresiasi rupiah tidak akan berdampak pada warga desa.
Suasana di lantai bursa pagi itu tampak tegang. Para trader dan analis mencermati pergerakan kurs yang terus merosot sejak pembukaan perdagangan. Level Rp17.675 menjadi angka yang sebelumnya tak terbayangkan, menembus rekor psikologis yang selama ini dijaga ketat oleh otoritas moneter.
Pernyataan Presiden Picu Kontroversi
Pemicu sentimen negatif di pasar bermula dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih pada Sabtu, 16 Mei 2026. Dalam sambutannya, Kepala Negara menyampaikan pandangan yang langsung menuai reaksi luas.
“Mau Dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pake Dolar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri,” ujar Prabowo saat itu.
Pernyataan tersebut sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku pasar dan ekonom. Banyak yang menilai pernyataan itu menunjukkan sikap yang kurang peka terhadap dinamika ekonomi makro yang tengah genting.
IHSG Ikut Terpuruk
Tekanan tidak hanya dirasakan di pasar valuta asing. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami guncangan hebat pada perdagangan hari yang sama. Indeks sempat anjlok hingga 4,35 persen dan terlempar ke posisi 6.431, level yang cukup dalam untuk ukuran pasar saham Indonesia.
Koreksi tajam ini membuat banyak investor ritel dan institusi panik. Aksi jual besar-besaran terjadi di hampir seluruh sektor, terutama saham-saham perbankan dan konsumer yang sensitif terhadap pergerakan kurs.
Analis Soroti Dampak Pernyataan Presiden
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan pandangannya secara gamblang. Menurutnya, pernyataan Presiden Prabowo ikut memperburuk sentimen pasar terhadap rupiah dan saham.
“Ya rupanya pernyataan dari Presiden Prabowo ini juga berakibat fatal terhadap kelemahan mata uang rupiah,” kata Ibrahim dalam keterangannya.
Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan bahwa penguatan dolar AS juga dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini berdampak langsung pada mahalnya impor energi Indonesia yang mencapai 1,5 juta barel per hari. Di sisi lain, ia melihat bahwa banyak masyarakat mulai beralih meninggalkan rupiah dengan menabung ke valuta asing.
"Ini membuat apa? membuat Rupiah terus mengalami pelemahan ditambah dengan olok-kolok dari Presiden Prabowo sendiri yang mengatakan pelemahan mata uang ini tidak berdampak terhadap masyarakat di kampung ya karena di kampung ini tidak mengenal yang namanya Dolar. Ini sebenarnya apa yang dikatakan oleh Prabowo ini mengolok-olok pembantu Presiden sendiri dan para menterinya," tuturnya.
Harapan akan Langkah Konkret
Ibrahim menekankan bahwa pemerintah seharusnya lebih fokus menyampaikan langkah konkret untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Ia menyebut sejumlah strategi yang semestinya dikomunikasikan ke publik, mulai dari pengendalian impor minyak hingga penanganan krisis secara komprehensif.
“Seharusnya pemerintah memberikan satu masukan ya tentang bagaimana (solusi) kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi kemudian akan ada B50 sebagai pendamping dari bahan bakar fosil, kemudian bagaimana cara melakukan menangani krisis agar Rupiah ini kembali mengalami penguatan," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Presiden Prabowo sebelumnya sempat meremehkan pelemahan IHSG, yang kemudian direspon negatif oleh pasar. Menurut Ibrahim, persepsi bahwa masyarakat desa tidak terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar sudah tidak relevan di era digital saat ini.
"Kita harus ingat dulu bahwa (Prabowo bilang) bermain saham itu judi ya masyarakat bawah pun juga tidak mengenal saham, tetapi kita lihat bahwa di kampung-kampung ini banyak orang yang mengenal saham. Di desa pun juga banyak orang juga tahu tentang dolar. Sekarang zaman teknologi. Masyarakat yang ada di desa sekarang itu lebih pintar dibandingkan dengan masyarakat yang ada di kota,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Istana Negara maupun Kementerian Keuangan mengenai langkah-langkah yang akan diambil untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Pelaku pasar masih menunggu sinyal kebijakan dari otoritas moneter dan fiskal di tengah tekanan yang terus berlanjut.
Artikel Terkait
Pertamina Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green per 10 Juni 2026
Mahasiswa Semarang Gelapkan 40 Motor demi Gaya Hidup dan Aplikasi Kencan
Raffi Ahmad Minta Pendampingan Hotman Paris Usai Namanya Disebut dalam Sidang Blueray Cargo
Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Klaim Serahkan 26 Nama ke Kejagung, Status Justice Collaborator Masih Menggantung