BI Belajar dari Krisis, Kini Gunakan Strategi Terukur Jaga Rupiah Tanpa Kuras Likuiditas

- Senin, 18 Mei 2026 | 11:25 WIB
BI Belajar dari Krisis, Kini Gunakan Strategi Terukur Jaga Rupiah Tanpa Kuras Likuiditas
PARADAPOS.COM - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa bank sentral kini menerapkan pendekatan yang lebih terukur dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pelajaran berharga dari krisis 1997-1998 dan 2008 menjadi dasar perubahan strategi ini. Perry menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta pada Senin, 18 Mei 2025. Alih-alih menguras cadangan devisa melalui intervensi besar-besaran di pasar spot, BI kini lebih memilih membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai instrumen stabilisasi.

Belajar dari Masa Lalu, Menata Strategi Baru

Perry Warjiyo menekankan bahwa pengalaman pahit di masa lalu telah mengubah cara pandang bank sentral. Pada krisis 1997-1998 dan 2008, fokus yang berlebihan pada stabilitas rupiah melalui intervensi langsung justru menimbulkan masalah baru. “Kami belajar dulu zaman 97-98 dan 2008 banyak fokus stabilitas nilai rupiah banyak intervensi menguras likuiditas. Sehingga mengobati stabilitas rupiah tapi membuat kekeringan likuiditas,” jelasnya di hadapan para anggota dewan. Dari situ, BI menyadari bahwa mengobati satu sisi tanpa memikirkan dampak pada likuiditas bisa menjadi bumerang. Kini, setiap langkah stabilisasi dihitung dengan cermat agar tidak mengorbankan kesehatan likuiditas di pasar uang.

Intervensi Terukur: SBN sebagai Ujung Tombak

Daripada langsung membeli dolar di pasar spot yang bisa menguras cadangan devisa secara cepat, BI memilih jalur yang lebih halus. Bank sentral aktif melakukan intervensi dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Sepanjang tahun ini hingga Mei 2025, Perry mengungkapkan bahwa BI baru menghabiskan Rp 133 triliun untuk pembelian SBN. Angka ini dinilai menunjukkan sikap kehati-hatian dan pengelolaan cadangan devisa yang lebih disiplin. “Kami ada Rp 1.700 triliun dalam SBN kami, kami jual jangka pendek jadi ada inflow. Tapi kami beli yield jangka panjang,” ujarnya. Strategi ini memiliki dua manfaat sekaligus. Pertama, BI dapat menghemat penggunaan cadangan devisa. Kedua, langkah ini membantu menjaga agar imbal hasil atau yield SBN tidak melonjak terlalu tinggi, yang bisa mengganggu stabilitas pasar keuangan.

Menjaga Likuiditas dan Mengendalikan Spekulasi

Selain intervensi di pasar SBN, BI juga menerapkan sejumlah kebijakan untuk menjaga likuiditas rupiah dan dolar tetap sehat. Salah satu langkah konkret adalah mendorong pertumbuhan uang primer hingga mencapai angka double digit. Untuk mengendalikan permintaan dolar AS yang berlebihan, BI juga menerapkan batasan pembelian. Setiap orang per bulan hanya diperbolehkan membeli dolar AS maksimal sebesar US$ 25.000. Kebijakan ini, menurut Perry, dirancang agar pembelian valuta asing lebih terukur. Dengan begitu, likuiditas dolar di dalam negeri tetap terjaga dan tidak mudah tergerus oleh aksi spekulatif yang bisa memperlemah rupiah. Pendekatan yang lebih hati-hati dan terstruktur ini menjadi bukti bahwa BI terus belajar dan beradaptasi dari setiap krisis yang pernah dihadapi.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini