FOMO dan Hilangnya Rasa Cukup: Media Sosial Memicu Kecemasan Akibat Perbandingan Sosial Tanpa Henti

- Senin, 18 Mei 2026 | 07:25 WIB
FOMO dan Hilangnya Rasa Cukup: Media Sosial Memicu Kecemasan Akibat Perbandingan Sosial Tanpa Henti
PARADAPOS.COM - Jakarta, Fenomena perbandingan sosial yang dulu hanya terjadi antar tetangga kini meledak dalam hitungan menit di media sosial. Dalam satu sesi "scrolling", seseorang bisa merasa kalah dari ratusan orang lain yang tampak lebih sukses, kaya, bahagia, produktif, bahkan lebih religius. Akibatnya, kecemasan akan ketertinggalan—yang dikenal sebagai FOMO ("Fear of Missing Out")—menjadi epidemi diam-diam. Lebih dari sekadar rasa takut kehilangan momen, inti persoalannya adalah hilangnya rasa cukup dalam hidup.

Panggung Perbandingan Tanpa Akhir

Media sosial telah mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan. Hidup perlahan tak lagi dijalani sebagai amanah, melainkan sebagai panggung untuk saling membandingkan. Orang menjadi sulit menikmati apa yang dimilikinya karena terlalu sibuk melihat milik orang lain. Liburan orang lain membuat hidup terasa membosankan. Pencapaian orang lain membuat diri terasa gagal. Bahkan kebahagiaan pun diukur dari seberapa layak ia dipamerkan. Ironisnya, algoritma platform digital memang dirancang untuk hidup dari perhatian manusia. Semakin besar rasa penasaran, iri, cemas, atau takut tertinggal, semakin lama seseorang bertahan "scrolling". Maka, manusia terus disuguhkan kehidupan yang tampak sempurna: pencapaian, gaya hidup, pencitraan, dan validasi tanpa henti. Media sosial pada akhirnya menjadi etalase tanpa akhir. Masalahnya, manusia terlalu sibuk melihat etalase kehidupan orang lain hingga lupa mensyukuri isi rumahnya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan menentukan skala prioritas hidup perlahan terkikis.

Prioritas Terbalik di Era Digital

Dalam kajian Islam, para ulama menjelaskan bahwa kebutuhan manusia memiliki tingkatan: "dharuriyyat" (primer), "hajiyyat" (pelengkap), dan "tahsiniyyat" (penghias). Namun di era FOMO, batas itu mulai kabur. Banyak orang rela mengorbankan kebutuhan pokok demi memenuhi tuntutan gaya hidup dan pencitraan digital. Demi terlihat “berkelas”, seseorang memaksakan sesuatu di luar kemampuannya. Tidak sedikit yang rela berutang demi mengikuti tren. Estetika lebih diutamakan daripada keberkahan. Rasa takut dianggap tertinggal lebih besar daripada rasa takut kehilangan arah hidup. Akibatnya, kebutuhan "tahsiniyyat" ditempatkan di atas "dharuriyyat". Penampilan lebih diprioritaskan daripada ketenangan jiwa. Validasi sosial lebih dikejar daripada kesehatan mental dan spiritual. FOMO membuat manusia sibuk memperindah etalase hidupnya, tetapi lupa membangun fondasi hidupnya sendiri.

Hadis yang Menjadi Penawar

Padahal, Islam sejak lama telah mengingatkan manusia agar tidak terus-menerus memandang kehidupan orang lain dalam urusan dunia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim) Hadis ini terasa sangat relevan di tengah budaya digital hari ini. Sebab media sosial justru mendorong manusia untuk terus melihat “ke atas”: melihat yang lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, dan lebih populer. Akibatnya, nikmat yang ada di tangan sendiri perlahan kehilangan makna.

Kembali pada Konsep Qana’ah dan Zuhud

Islam tidak melarang seseorang untuk sukses, kaya, atau memiliki cita-cita tinggi. Namun Islam mengajarkan "qana’ah": kemampuan merasa cukup tanpa kehilangan semangat untuk berusaha. "Qana’ah" bukan berarti pasrah atau anti ambisi, tetapi kemampuan menempatkan dunia secara proporsional. Ketika seseorang kehilangan rasa cukup, hidup akan mudah dikendalikan oleh gengsi dan pengakuan sosial. Apa yang sebenarnya hanya pelengkap berubah menjadi kebutuhan utama. Apa yang seharusnya sekadar sarana berubah menjadi ukuran harga diri. Islam juga mengenal konsep "zuhud": teknik menghindari cinta dunia dengan menempatkan dunia cukup di tangan, tidak memenuhi hati. "Zuhud" bukan berarti meninggalkan dunia atau anti terhadap kesuksesan, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai pusat ketenangan hidup. Sebab ketika dunia terlalu dijadikan ukuran kebahagiaan, manusia akan mudah gelisah melihat pencapaian orang lain. Karena itu, persoalan terbesar generasi digital hari ini mungkin bukan kurangnya nikmat, melainkan hilangnya kemampuan menikmati nikmat. Manusia terus dipaksa melihat apa yang tidak dimilikinya hingga lupa menikmati apa yang telah dimiliki. FOMO tidak akan selesai hanya dengan “detoks media sosial”, sebab akar persoalannya bukan semata pada aplikasi di tangan, tetapi pada cara manusia memandang kebahagiaan. Selama kebahagiaan diukur dari pencapaian orang lain, maka seseorang akan terus merasa tertinggal. Di tengah dunia yang terus berkata “kamu belum cukup”, Islam mengajarkan sesuatu yang sederhana namun menenangkan: tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita miliki untuk bisa bahagia. Wahyuddin Luthfi Abdullah, Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Andalas, Padang.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar