Bamsoet Sebut Prospek Investasi Indonesia Masih Terbuka Lebar bagi Pengusaha China

- Senin, 18 Mei 2026 | 18:25 WIB
Bamsoet Sebut Prospek Investasi Indonesia Masih Terbuka Lebar bagi Pengusaha China

PARADAPOS.COM - Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, menilai prospek investasi di Indonesia masih sangat terbuka lebar bagi para pelaku bisnis global, termasuk pengusaha asal China. Hal ini disampaikan Bamsoet, sapaan akrabnya, usai bertemu Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong di kediaman resmi Dubes di Jakarta, Senin (18/5) lalu. Dalam pertemuan tersebut, ia menyoroti sejumlah sektor strategis yang dinilai masih membutuhkan suntikan modal dan teknologi, mulai dari infrastruktur, hilirisasi mineral, energi baru terbarukan, baterai, otomotif, hingga ekonomi digital.

Dari Mitra Dagang Menuju Mitra Strategis

Bamsoet yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia itu menekankan bahwa hubungan bilateral kedua negara telah berevolusi. Menurutnya, Indonesia dan China kini tidak lagi sekadar bermitra dalam perdagangan, melainkan telah menjadi mitra strategis yang turut menentukan arah masa depan ekonomi nasional.

"Hubungan Indonesia dan China hari ini sudah bergerak dari sekadar mitra dagang menuju mitra strategis yang ikut menentukan arah masa depan ekonomi nasional. Ini peluang besar yang harus dikelola dengan baik dalam memperkuat kepentingan nasional Indonesia," ujar Bamsoet.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Atase Kepolisian Kedutaan Besar China untuk Indonesia, Yang Chunyan. Bamsoet sendiri diketahui memiliki keterkaitan bisnis dengan sejumlah perusahaan China. Ia merupakan salah satu pemegang saham JIO Distribusi Indonesia (JDI), pemegang merek mobil Jeep BAIC yang bekerja sama dengan Beijing Automotive Group Co. Ltd. Selain itu, ia juga terlibat dalam proyek taksi terbang listrik otonom EHang 216-S serta konsorsium perusahaan China untuk pembangunan smelter nikel dan pabrik baja di Indonesia melalui PT Sheng Wei New Energy Technology dan Beijing Jianlong Heavy Industry Group.

Data Perdagangan dan Hilirisasi Nikel

Mengacu pada data perdagangan terbaru, Bamsoet memaparkan bahwa nilai ekspor Indonesia ke China sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar US$ 67,04 miliar. Produk utama yang diekspor meliputi besi baja, batu bara, nikel, minyak sawit, dan berbagai komoditas mineral strategis lainnya. Sementara itu, nilai impor Indonesia dari China tercatat sekitar US$ 87,54 miliar, yang didominasi oleh mesin industri, peralatan elektronik, kendaraan, dan teknologi manufaktur.

Salah satu contoh konkret dari kedekatan ekonomi ini, menurut Bamsoet, terlihat jelas dalam pengembangan industri hilirisasi nikel. Investasi perusahaan-perusahaan China di Sulawesi dan Maluku Utara telah mendorong Indonesia menjadi produsen nikel terbesar di dunia sekaligus pemain utama dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global.

"Salah satu contoh paling nyata dari kedekatan ekonomi Indonesia - China terlihat pada pengembangan industri hilirisasi nikel. Investasi perusahaan-perusahaan China di Sulawesi dan Maluku Utara mendorong Indonesia menjadi produsen nikel terbesar dunia sekaligus pemain utama rantai pasok baterai kendaraan listrik global. Dalam data perdagangan tahun 2025, ekspor nikel Indonesia ke China mencapai sekitar US$ 7,86 miliar," kata Bamsoet.

Menjaga Kedaulatan Ekonomi Nasional

Di tengah besarnya peluang, Bamsoet mengingatkan adanya tantangan utama yang harus dihadapi Indonesia. Ia menekankan pentingnya memastikan setiap kerja sama strategis dengan China menghasilkan transfer teknologi, penguatan sumber daya manusia, dan peningkatan kapasitas industri nasional. Ia juga memperingatkan agar Indonesia tidak terjebak menjadi pemasok bahan baku dan pasar bagi industri asing.

Struktur perdagangan kedua negara saat ini masih menunjukkan ketimpangan. Indonesia lebih banyak mengekspor komoditas mentah atau setengah jadi, sementara China mendominasi ekspor produk manufaktur dan teknologi tinggi ke Indonesia. Kondisi inilah yang menurutnya harus segera dibenahi.

"Setiap proyek strategis harus memberi manfaat ekonomi jangka panjang bagi rakyat. Investasi asing harus menjadi instrumen untuk memperkuat industri nasional, bukan membuat kita semakin bergantung. Transfer teknologi, riset bersama, penguatan tenaga kerja nasional dan keterlibatan industri lokal wajib menjadi prioritas dalam setiap kerja sama strategis," tegas Bamsoet.

Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Lebih lanjut, politisi senior Partai Golkar ini menambahkan bahwa Indonesia harus tetap menjaga keseimbangan geopolitik di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Hubungan erat dengan China memang penting bagi pertumbuhan ekonomi, namun Indonesia juga harus terus memperkuat kerja sama dengan negara-negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, India, dan Uni Eropa. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga posisi tawar Indonesia di tingkat dunia.

"Politik luar negeri bebas aktif harus menjadi fondasi utama. Indonesia harus mampu bekerja sama dengan semua kekuatan ekonomi dunia tanpa kehilangan independensi dan kepentingan nasional. Kerja sama strategis harus menghasilkan kedaulatan ekonomi nasional," pungkas Bamsoet.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar